Tampilkan postingan dengan label yahudi. Tampilkan semua postingan

gravatar

Kemunafikan Barat Demi Entitas Yahudi Melampaui Semua Standar!

Sumber-sumber diplomatik Inggris mengatakan bahwa House of Commons (Majelis Rendah) di London telah menyetujui RUU yang melarang pengajuan surat dakwaan terhadap para pejabat Israel yang didakwa melakukan kejahatan perang, kecuali surat dakwaan yang dibuat dan diajukan oleh  Kejaksaan Agung Inggris. Sumber-sumber tersebut mengatakan pada radio tentara pendudukan, bahwa RUU ini telah dipindah ke House of Lords (Majelis Tinggi) Inggris untuk segera diratifikasi sebagai keputusan final.

Minggu ini, Hakim Goldstone menarik sikapnya secara tiba-tiba, tanpa peringatan, serta jauh dari standar objektivitas dan integritas. Hal itu dinyatakan dalam sebuah artikel yang dipublikasikan di Washington Post. Ia meminta PBB untuk mengkaji ulang isi laporan yang dibuatnya mengenai perang di Gaza, yang penyusunannya telah memakan waktu selama berbulan-bulan, dan tebalnya mencapai 300 halaman.

Sebelumnya pemerintah AS telah memecat koresponden senior di Gedung Putih, Helen Thomas karena ucapannya tentang perlunya Yahudi angkat kaki dari tanah Palestina yang diduduki.

Jadi inilah sikap munafik dan pembelaan terhadap entitas yang melakukan kejahatan dan pembantaian di siang hari bolong. Bahkan seluruh dunia telah menyaksikan kejahatannya dalam sebuah tayangan langsung.

Inggris yang menciptakan entitas ini, yang kemudian memaksa Palestina untuk menelannya melalui “Deklarasi Balfour” yang diratifikasi oleh House of Commons (Majelis Rendah), kecuali pengajuan surat dakwaan terhadap para pejabat “Israel”, tidak dengan selain mereka. Inggris menyadari bahwa entitas Yahudi telah memegang janji, termasuk “Deklarasi Balfour” terhadap tengkorak rakyat Palestina, serta merampas tanah setelah melakukan pembantaian terhadap rakyatnya dan mengusir sisanya. Bahkan entitas Yahudi melakukan aksi kejahatannya di bawah sikap bisunya kekuatan internasional dan konspirasi para penguasa Arab.

Sunguh sikap ini melampaui cara entitas Yahudi memoles kejahatannya. Bahkan, Inggris menyerukan untuk mengamandemen undang-undang tersebut setelah penghentian dialog strategis antara kedua negara pada bulan Oktober lalu. Sehingga pada waktu itu, Inggris pun berjanji untuk mengamandemen undang-undang itu.

Hubungan strategis antara Inggris, Amerika Serikat dan negara-negara Barat pada umumnya dengan “Israel” membuat negara-negara tersebut melampaui semua standar yang dapat membatasi hubungannya dengan negara lain yang mana pun. Yang jelas sikap itu dibuat karena dua faktor: Pertama, bahwa kejahatan yang dilakukan oleh entitas Yahudi korbannya adalah kaum Muslim. Kedua, bahwa entitas Yahudi mewakili kepentingan kolonial Barat di kawasan yang terletak di jantung negeri-negeri Islam. Oleh karena itu, keberadaannya merupakan garis pertahanan terdepan untuk Eropa dan Amerika. Dan begitulah yang dijelaskan oleh para pemimpin entitas Yahudi.

Sesungguhnya tindakan dan perilaku negara-negara Barat ini terhadap masalah-masalah kaum Muslim pada umumnya, seperti yang terjadi di Kashmir, Palestina dan semua negeri Islam yang diduduki, serta dukungan terhadap para penguasa yang mencekik leher kaum Muslim, maka semua itu memperkuat citra kolonialisme, dan menegaskan bahwa hubungan dengan kaum Muslim dilakukan dalam konteks perang budaya, sehingga negara-negara itu bersatu dan satu dengan yang lainnya saling menolong untuk melawan kaum Muslim, dan mensukseskan proyek peradaban mereka, meskipun untuk itu mereka harus melakukan kejahatan terburuk terhadap umat manusia. Apakah mereka yang sedang dalam pelukan Barat akan segera sadar melihat fakta-fakta tersebut?! (pal-tahrir.info, 4/4/2011).
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Mempertanyakan Infiltrasi Yahudi dan Kristen Dalam Doktrin Syi'ah

(Tinjauan Sejarah di Masa Abbasiyah-Umayyah)

Oleh: Kholili Hasib
Mahasiswa Pascasarjana ISID Gontor

Membicarakan sejarah aliran teologi Syi’ah, ternyata banyak litelatur karya ulama’  terdahulu tidak melepaskan dari fenomena hubungannya dengan Yahudi dan Kristen. Apalagi tokoh Abdullah bin Saba’, yang dalam Tarikh Ibnu Asakir, Tarikh Thabari dan kitab-kitab sejarah lainnya disebut sebagai pencetus pemikiran Syi’ah, adalah seorang Yahudi Yaman. Ia tercatat  memeluk Islam pada zaman Utsman. Di masa Daulah Abbasiyyah, Dr. Fath Muhammad al-Zaghi menyebut-nyebut penganut Syi’ah kerap bersentuhan dengan orang-orang Yahudi.

Interaksi intens antara kaum Yahudi dan Kristen dengan umat Islam di abad masa kekhalifahan Abbasiyah dan Bani Umayyah, akhirnya berpengaruh terhadap pemikiran Syiah. selama dua masa itu, banyak terjadi proses internalisasi pemikiran Yahudi dan Kristen ke dalam pemeluk Syi’ah. Prose itu terjadi ketika mereka saling berinteraksi dalam kehidupan.

Kamil Sa’fan dalam al-Yahud Tarikhan wa ‘Aqidatan melaporkan, kaum Yahudi mendapatkan kemudahan hidup pada masa kekhalifan Abbasiyah. Tercatat, mereka mendirikan sepuluh sekolah teologi dan 23 tempat Ibadah di Baghdad.  Pada masa Umayyah, bahkan ada orang Kristen yang menduduki posisi penting di pemerintahan. Disamping itu, Khalifah memberi kesempatan berdialog dengan kaum muslimin.

Di era pemerintahan Abbasiyyah, ada seorang Yahudi bernama Abdullah bin Ma’mun berpura-pura menjadi muslim. Ia  mendakwahkan untuk bersikap lembut kepada Ahlu al-Bait Nabi SAW agar mudah diterima Syi’ah. Kitab Kasyfu Asrari al-Bathiniyyah wa Akhbaru al-Qaramithah merekam sepak terjangnya. Ia membuat fitnah dengan memasukkan metode ta’wil simbolis (ta’wil bathiniyyah) – yaitu metode ta’wil yang hampir sama dengan metode hermeneutika –  ke dalam sekte Syi’ah Isma’iliyyah. Konsep ta’wil inilah yang dipraktikkan Syi’ah Isma’iliyyah (Syi’ah Bathiniyyah) dan sekte Syi’ah lainnya.

Konsep ta’wil simbolis sendiri sesungguhnya adalah buah dari  ajaran Kabbalah Yahudi. Menurut kelompok Kabbalah, di samping makna literal, teks kitab Taurat mempunyai makna batin yang hanya diketahui oleh para salikin (peniti jalan batin). Hermeneutika Baruch Spinoza (1632-1677), filosof dan teolog Yahudi penggagas metode kritik Bibel, termasuk banyak dipengaruhi oleh ajaran Kabbalah dalam hal metode ‘tafsir’ ini.

Pada kenyataanya, di masa pemerintahan Abbasiyyah, kaum Kabbalis sudah berinteraksi dengan pengikut Syi’ah. Infiltrasi pemikiran Kabbalis ke dalam pemikir-pemikir muslim secara tidak langsung melalui sekte Yahudi yang bernama al-‘Isawiyyah pada masa Khalifah al-Mansur. Dr. Ali Syami al-Nasyyar mengungkap bahwa para peneliti mengatakan, doktrin utama Syi’ah Isma’iliyyah berasal dari sekte Yahudi al-‘Isawiyyah ini (Nasy atu al-Fikr al-Falsafi fi al-Islam juz I, hal. 88). Sekte al-‘Isawiyyah meyakini pendirinya bernama Abu Isa Ishaq bin Ya’qub adalah seorang nabi al-Masih yang ditunggu-tunggu. Mereka juga memasukkan konsep penafian sifat-sifat wujudiyyah Tuhan, dan teori hulul kedalam pemikiran Isma’iliyyah.

Al-Nasysyar mengatakan: “Sekte al-‘Isawiyyah ini berperan besar dalam mendirikan sekte Syi’ah Bathiniyyah (Isma’ilyyah). Ada korelasi antara sebagaian sekte-sekte Yahudi dengan sekte Bathiniyyah ini melalui ajaran Kabbalah Yahudi. Sungguh saya melihat Kabbalah Yahudi berpengaruh besar terhadap akidah-akidah Syi’ah Ghulat”. Dan ternyata, ajaran-ajaran tersebut ternyata juga diadopsi oleh sekte Syi’ah lainnya termasuk Syi’ah Istna ‘Asyariyyah.

Sedangkan infiltrasi Kristen banyak terjadi pada masa Umayyah. Orang-orang Kristen pada masa Bani Umayyah sering melakukan diskusi, dialog dan perdebatan dengan orang-orang Islam. Bahkan, toleransi Kekhalifahan Bani Umayyah terhadap kaum Kristen, dimanfaatkan Kristen untuk menarik simpati kaum muslim dengan melakukan kerja kerja sama.

Pada kondisi ini, menurut catatan Dr. Fath Muhammad al-Zaghbiy, ajaran Kristen terinternalisasi ke dalam doktrin Syi’ah.

Pada tahun 400 H seorang ulama’ Syi’ah di Baghdad dalam khutbah jum’at secara terus terang mengakui ada kemiripan Syi’ah dengan Kristen, bahwa Imam Ali bin Abi Thalib bisa menghidupkan mayat manusia, menceritakan tentang pemuda Kahfi, sebagaimana Nabi Isa  juga melakukannya (al-Hadlarah al-Islamiyyah fi Qarn 4 Jilid I hal. 125).

Memang menurut Alqamah bin Qais, perumpamaan Ali bin Abi Thalib seperti Nabi Isa bin Maryam. Bahkan doktrin ghuluw ini telah dikumandangkan oleh Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi Yaman yang disebut pencetus lahirnya paham Syi’ah. Abdul Qahir al-Baghdadi mencatat, bahwa Abdullah bin Saba’ pernah berkata: “Sesungguhnya Ali telah naik ke langit, sebagaiman Nabi Isa naik ke sana”(al-Farqu bayna al-Firaq, hal. 143).

Ritual-ritual Syi’ah juga disinyalir bersumber dari ajaran Kristen. Seperti diakui oleh Vali Nasr,putra Seyyed Hossein Nasr, ritual Asyura memperingati kematian Husein cucu Nabi, Imam Syi’ah ketiga, bertumpu pada duka cita (Azadari) yang hampir sama dengan ritual di dalam ajaran Katolik Lenten. Katolik Lenten melakukan parade penderitaan Yesus pada hari Minggu Suci (Holy Week) pada empat puluh hari sebelum Paskah.

Bahkan praktik menyakiti diri sendiri pada peringatan duka Asyura dengan menumpahkan darah sendiri melalui sayatan kecil di kepala menurut Vali Nasr menyerupai ritual penyesalan (Panitentes) yang dilakukan di lingkungan Katolik di Iberia. Apalagi ritual menyakiti diri pada Asyura diyakini untuk mempertebal keimanan kaum Syi’ah dan merupakan kesempatan pertobatan kolektif atas dosa-dosa. Ini berarti Syi’ah menjadikan Hussein sebagai penebus dosa, sebagaimana Yesus yang disalib demi menebus dosa kaum Kristiani.

Walhasil, ternyata infiltrasi pandangan hidup Barat Kristen dan Yahudi tidak hanya masuk ke dalam pemikiran muslim liberal, akan tetapi telah lama merasuk ke dalam sekte Syi’ah. Akan tetapi untuk kepentingan dakwah, doktrin-doktrin Syiah terkadang tidak diketengahkan secara lugas dan terang. Ada metode taqiyyah (menyembunyikan identitas pemikiran) untuk keselamatan akidah di tengah mayoritas penganut Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Adagiumnya seperti tersebut dalam kitab Syi’ah, Ushul Kafi Juz II hal. 217; “La dina liman la taqiyya lahu”. Wallahu a’lam bil showab.(voa-islam.com, 28 Mar 2011)
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Cari Dukungan Yahudi, Palin: "Mengapa Kita Harus Minta Maaf pada Muslim?"

Politisi konservatif Amerika Serikat yang gagal dalam pencalonan presiden Sarah Palin, memahami pentingnya Temple Mount bagi orang-orang Yahudi. Akhir pekan lalu, ia mengunjungi tempat suci itu, ditemani politisi Israel,  Danny Danon dari Partai Likud.

Danon mengatakan, ketika mereka berkeliling dekat Kotel itu dan di terowongan dekat Mahakudus, "Dia mengatakan kepada saya hal-hal yang jelas tanpa ragu-ragu bahwa Dia mengerti pentingnya tempat itu bagi orang Yahudi dan bertanya pada saya; 'Kenapa kau terus meminta maaf kepada kaum Muslimin sepanjang waktu?'," katanya.

Ia kemudian menjelaskan kesalahan yang dibuat oleh  Moshe Dayan pada tahun 1967  untuk tidak memenuhi hak-hak Yahudi di Temple Mount dan Kota Tua. Dia merujuk pada keputusan Dayan untuk menyerahkan kembali kunci ke Temple Mount ke Waqf Muslim segera setelah pembebasan gunung itu dalam Perang Enam Hari.

Danon mencatat bahwa Israel memiliki dukungan besar-besaran di dunia Kristen. Namun, katanya, pernyataan Palin dalam tur akhir pekan lalu sebagai sebuah "Dukungan yang sangat besar."

Dalam kunjungannya, Palin juga disambut oleh Rabbi Shmuel Rabinovich, Rabi Kotel, yang mengatakan bahwa bukan hanya doa-doa Yahudi yang lebih mudah dipenuhi ketika diucapkan di Temple Mount, tetapi orang-orang dari bangsa-bangsa lain juga. Rabbi mengatakan kepada Palin bahwa ia percaya ia akan menjadi "duta"yang lebih baik bagi Israel setelah kunjungannya.[republika.co.id]
.........Lihat Selengkapnya