Tampilkan postingan dengan label tahrir. Tampilkan semua postingan

gravatar

Seminar Hizbut Tahrir di Prancis : Islam Atau Demokrasi?

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT bahwa syabab (aktivis) Hizbut Tahrir di Prancis telah berhasil mengadakan seminar di ibukota Prancis, Paris dengan judul: “Apakah sistem politik setelah musim semi Arab: Islam atau Demokrasi?”

Dalam seminar ini disampaikan dua testimoni: Pertama, disampaikan dalam bahasa Prancis, yang dalam testimoninya ini pembicara mengulas tentang penyebab yang mendorong terjadinya revolusi di negeri-negeri kaum Muslim. Kemudian, mengulas tentang usaha-usaha Barat untuk memalingkan revolusi, lalu mengarahkan dan membatasinya dengan berbagai slogan, seperti “negara sipil dan negara agama, negara demokrasi, Islam moderat dan sebagainya.”

Kedua, dalam testimoni yang kedua ini, pembicara menjelaskan tentang model negara yang ingin didirikan oleh kaum Muslim di dunia. Dalam hal ini, pembicara membahas sejumlah poin yang menjelaskan dasar-dasar bagi negara ini, program-program praktisnya, dan sistemnya yang begitu jelas dalam mengatasi semua masalah.

Setelah kedua pembicara selesai menyampaikan materi, melakukan shalat Ashar dan makan siang, maka para peserta diberi kesempatan untuk mengajukan berbagai pertanyaan.

Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 11/2/2012.
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Hizbut Tahrir Tawarkan Konstitusi Baru Untuk Tunisia

Hizbut Tahrir meragukan tentang apa yang dinilainya sebagai konsensus antara partai-partai politik, khususnya mengenai waktu pemilihan Majelis Konstituante yang dijadwalkan pada tanggal 23 Oktober mendatang.
Hizbut Tahrir mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada hari Jum’at (9/6/2011), bahwa rakyat Tunisia dengan revolusinya telah berhasil menggulingkan Presiden Ben Ali, serta memaksanya hengkang dan bersembunyi di Arab Saudi pada tanggal 14 Januari 2011. Dalam kesempatan ini, Hizbut Tahrir mengingatkan agar berhati-hati dalam menghadapi situasi saat ini, serta kewajiban merujuk pada Islam sebagai solusi radikal dan jalan yang benar menuju kebangkitan negara. Hizbut Tahrir menyatakan niatnya untuk menawarkan sebuah konstitusi baru kepada para hakim dan wartawan, yang akan dipublikasikannya dalam beberapa hari ke depan.

Sedangkan terkait pernyataan pengunduran diri dari Hizbut Tahrir yang disampiakn oleh Nabil al-Manna’i, anggota biro politik Hizbut Tahrir, yang dipublikasikan hari ini pada kolom utama surat kabar mingguan, maka Ridha Belhaj juru bicara Hizbut Tahrir berkata kepada kantor berita Binaa News bahwa “Nabil al-Manna’i memang tidak dilibatkan oleh Hizbut Tahrir sejak sebulan lalu, dan ia tidak ingin mengundurkan diri. Jadi semua keterangan itu tidak benar.”

Di sisi lain, Belhaj menyatakan tekad Hizbut Tahrir untuk terus berjuang dengan menyebarkan ide-ide gerakan dan tujuannya menuju terbentuknya negara yang menerapkan Islam, serta menjelaskan metode mewujudkannya. Ia mengatakan bahwa ke depan Hizbut Tahrir akan melakukan gerakan-gerakan penyadaran politik, di mana Hizbut Tahrir telah membuat program, berupa seminar media, pada tanggal 19 Juni ini di kota Sousse.

Belhaj mengatakan bahwa Hizbut Tahrir di Tunisia adalah cabang dan perluasan dari Hizbut Tahrir yang didirikan di al-Quds pada tahun 1953 oleh seorang qadhi (hakim) Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani. Hizbut Tahrir adalah partai yang menyerukan penegakan kembali Khilafah Islam.

Sedangkan di Tunisia, Hizbut Tahrir telah memulai aktivitasnya pada tahun 1973. Pada periode itu Hizbut Tahrir berhasil merekrut beberapa anggota perwira militer, dan membuat pengumuman resmi tentang semua aktivitas Hizbut tahrir pada tahun 1983, serta menerbitkan jurnal dengan judul “Al-Khilafah”. (tunisia-today.net, 14/6/2011).
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Masîrah Hizbut Tahrir di Yordania Diserang Kelompok “Preman”

Kantor berita United Press International (UPI) mempublikasikan sebuah berita dengan judul: “Hizbut Tahrir di Yordania Mengatakan Bahwa Kelompok “Preman” Menyerang Masîrah (Long March) Solidaritas Untuk Rakyat Suriah“.
Hizbut Tahrir yang dilarang di Yordania mengatakan pada hari Jum’at (20/5) bahwa sejumlah aktivisnya terluka akibat serangan terhadap mereka oleh kelompok “preman” ketika masîrah (long march) yang diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir menuju perbatasan Suriah dalam rangka solidaritas untuk rakyat Suriah, serta menuntut kebebasan dan reformasi politik.

Juru bicara Hizbut Tahrir, Mamduh Abu Sawa dalam wawancara via telepon dengan United Press International (UPI) dari tempat berlangsungnya masîrah (long march) yang bergerak dari kota perbatasan Ramtha, mengatakan: “Kami diserang puluhan preman. Mereka membawa tongkat dan batu. Mereka menyerang kami ketika kami mulai melakukan masîrah (long march) setelah shalat Jum’at dari kota Ramtha … Akibatnya puluhan aktivis kami menderita luka-luka. Anehnya, aparat keamanan tidak berbuat apa-apa sekalipun mereka berada di wilayah perbatasan. Sungguh ini tidak biasanya!”

Anehnya lagi, di wilayah perbatasan tidak ada aparat keamanan dengan jumlah yang memadai. Tampaknya ini sudah disengaja dan direncanakan, agar para “preman” memiliki kesempatan yang luas dalam melakukan penyerangan terhadap aksi masîrah (long march). Dan inilah kenyataannya.

Abu Sawa mengatakan bahwa sekitar 2.000 orang aktivis Hizbut Tahrir berpartisipasi dalam aksi masîrah (long march) yang bertujuan mendukung tuntutan rakyat Suriah yang sedang menghadapi pembantaian oleh para penguasa penjahat Suriah.

Sebelumnya, pada akhir bulan April lalu, Hizbut Tahrir juga telah menyelenggarakan aksi massa di depan kedutaan Suriah di Amman dalam rangka solidaritas untuk rakyat Suriah (pal-tahrir.info, 20/5/2011).
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Berbagai Media Pakistan Menyoroti Aksi Demonstrasi yang Diadakan Hizbut Tahrir di Pakistan

Surat kabar Pakistan “The Express Tribune” pada tanggal 17/4 mempublikasikan sebuah berita dengan judul “Polisi menangkap sejumlah anggota Hizbut Tahrir selama aksi demonstrasi”. Surat kabar mengatakan bahwa polisi menangkap sejumlah anggota Hizbut Tahrir, yang disebutnya sebagai partai terlarang. Penangkapan itu berlangsung pada hari Ahad selama berlangsungnya aksi demonstrasi yang diadakan Hizbut Tahrir di Lahore dan Karachi.

Surat kabar menambahkan bahwa aksi demonstrasi itu diadakan di wilayah “Mozang” Lahore, dan di wilayah “Saddar” Karachi. Dalam aksi itu, para demonstran menuntut pemerintah agar berhenti mendukung agenda AS. Mereka juga menolak pelepasan agen Amerika, “Raymond Davis”. Dan mereka menuntut supaya meninjau kembali kasus Dr Aafia Saddiqi.

Surat kabar itu melaporkan bahwa bentrokan pecah di kedua tempat berlangsungnya aksi demonstrasi, yaitu ketika polisi berusaha  membubarkan para demonstran. Bentrokan itu melukai seorang polisi dan sejumlah demonstran dari Hizbut Tahrir.

Dalam konteks yang sama, situs surat kabar “The Nation” pada tanggal 18/4 mengkonfirmasikan tentang penangkapan sekitar 24 aktivis Hizbut Tahrir ketika mereka mergerak menuju gedung parlemen Punjab, untuk memprotes intervensi Amerika dalam urusan-udusan Pakistan. Situs surat kabar mengatakan bahwa polisi berusaha membubarkan para demonstran, yang menuntut pengusiran Amerika dan para penguasa bonekanya, kemudian menggantinya dengan sistem Khilafah. Situs surat kabar tersebut melaporkan bahwa polisi sengaja menggunakan tongkat untuk memukuli mereka. Sehingga melukai sejumlah besar peserta aksi. Akibatnya, para peserta membalas kekerasan yang dilakukannya, yang menyebabkan enam polisi terluka.

Situs surat kabar itu mengatakan bahwa polisi menggunakan gas air mata dan meriam air terhadap para demonstran dari Hizbut Tahrir. Konfrontasi antara para demonstran dan pasukan keamanan ini berlangsung selama beberapa jam. Polisi menangkap enam anggota Hizbut Tahrir di Karachi.

Sementara situs “Down” mengakui bahwa para aktivis Hizbut Tahrir mampu mengadakan aksi demonstrasi di dekat pusat kepolisian “Hoodwinking” di jalan Benazir Bhutto. Mereka menutup jalan selama setengah jam, sehingga menyebabkan kemacetan lalu lintas. Para demonstran meneriakkan slogan-slogan yang menentang Amerika Serikat dan pemerintah Pakistan.

Situs mengutip dari Ir. Junaid Khan, seorang anggota Hizbut Tahrir yang dalam penyataannya mengatakan bahwa Khilafah obat bagi semua masalah yang dihadapi oleh rakyat Pakistan. Ia mengatakan bahwa Amerika dan pasukan NATO telah membantai orang-orang yang tidak bersalah di Pakistan. Ia juga mengatakan bahwa gelombang perubahan telah menyebar di dunia Muslim. Dan, di bawah rezim sekarang ini, yang miskin semakin miskin, sebaliknya yang kaya semakin kaya.

Ia menambahkan bahwa Barat selalu melindungi dan mendukung para diktator, serta memanfaatkan para pemimpin demokratis di Pakistan. Ia menegaskan bahwa rakyat di negeri ini sudah muak dengan pemerintah Barat dan Amerika (pal-tahrir.info, 21/4/2011).
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Terlibat Demonstrasi, Anggota Hizbut Tahrir Lebanon Ditangkap Aparat

Aparat keamanan Lebanon, Selasa (19/4), menangkap tujuh orang anggota Hizbut Tahrir di kota Tripoli, Lebanon Utara, karena diduga terlibat dalam demonstrasi melawan rezim Suriah.

Salah seorang petinggi Hizbut Tahrir, Ahmad Al-Qashash, mengatakan tentara Lebanon menangkap tiga orang anggota Hizbut Tahrir di kota Saida, Lebanon selatan. “Mereka disisipkan untuk menyerukan aksi demonstrasi di Tripoli,” ujarnya, sebagaimana dilansir situs berita Al-Quds.

Dia menambahkan, penangkapan anggota Hizbut Tahrir di Saida ini bersamaan waktunya dengan penangkapan empat orang Hizbut Tahrir di Tripoli. Semuanya dalam kasus yang sama, menyerukan aksi demonstrasi.

“Mereka ditangkap saat tengah mengendarai mobil di kota Akkar, ketika menyerukan panggilan melalui pengeras suara untuk berpartisipasi dalam demonstrasi Tripoli,” kata Qashash.

Hizbut Tahrir Lebanon meminta aparat pemerintah untuk berkumpul setelah shalat Jumat (lusa) di dekat Masjid Agung Mansuri di Tripoli—kota terbesar di Lebanon utara—untuk memulai apa yang mereka sebut “Revolusi Syam”. “Demonstrasi akan tetap berlanjut, walau ratusan orang telah ditangkap,” tegas Qashash. (republika.co.id, 20/4/2011)
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Cendekiawan Asing Berbicara Jujur Tentang Hizbut Tahrir

HT Asia Tengah
Situs “New Eurasia” mempublikasikan sebuah artikel yang ditulis oleh seorang cendekiawan bernama Bruno De Cordier dari the University of Ghent di Belgia pada tanggal 16/3/2011 dengan judul: “Explaining the Persistence of Hizb Ut-Tahrir, Menjelaskan Kegigihan Hizbut Tahrir”.

Bruno memulai artikelnya dengan sebuah catatan hasil pengamatannya terhadap Hizbut Tahrir, di mana ia mengatakan bahwa Hizbut Tahrir sebagai kelompok fundamentalis yang mungkin paling banyak dilarang secara resmi di kawasan Asia Tengah dan di tempat-tempat lain. Namun, meskipun Hizbut Tahrir mendapatkan tekanan dan bahkan tindakan repsesif di setiap tempat, Hizbut Tahrir masih aktif melakukan berbagai aktivitas dan kegiatan besar.

Dalam hal ini, Bruno sangat yakin bahwa rahasia kegigihan Hizbut Tahrir dalam beraktivitas ada pada akidah (ideologi) yang diyakininya. Hizbut Tahrir berusaha menciptakan kemarahan yang sesungguhnya, serta kemauan yang tinggi pada diri umat. Jelasnya, Hizbut Tahrir mencerminkan sebuah lembaga dan sistem alternatif untuk sistem globalisasi.

Ketika menggambarkan tentang Hizbut Tahrir, Bruno mengatakan bahwa Hizbut Tahrir merupakan gerakan yang sudah sering dibicarakan. Namun untuk memberitakan serta membicarakan tentang Hizbut Tahrir dan Khilafah yang akan didirikannya masih banyak pihak yang malu dan kurang terbuka. Ia menambahkan bahwa ada kesulitan dalam menentukan jumlah yang tepat dan akurat terkait anggota Hizbut Tahrir di dunia, atau sejauh mana penyebarannya di negeri-negeri Islam, khususnya di negara-negara seperti Uzbekistan, hingga saat ini di Libya. Hanya saja ia mengakui bahwa ada penerimaan yang luar biasa terhadap ide-ide Hizbut Tahrir. Bahkan Hizbut Tahrir mampu dan tetap teguh meskipun berulang kali menghadapi berbagai tekanan dan penindasan.

Bruno kembali mengatakan tentang alasan hingga sikap Hizbut Tahrir yang berusaha menciptakan kemarahan yang sesungguhnya, serta kemauan yang tinggi pada diri umat, bahwa apa yang dilakukan Hizbut Tahrir ini tidak lain adalah jawaban-jawaban yang sesungguhnya atas berbagai masalah ekonomi, politik dan sosial yang ada di dunia. Bahkan ia menilai solusi yang ditawarkan Hizbut Tahrir ini sebagai solusi terbaik dari solusi terbaik yang ditawarkan oleh organisasi hak asasi manusia sekuler.

Dalam hal ini, Bruno mengapresiasi buku “The Emerging World Order and The Islamic Khilafah State, Munculnya Tatanan Dunia dan Negara Khilafah Islam” yang ditulis oleh salah seorang aktivis Hizbut Tahrir di situs “khilafah.com”. Di mana, ia mengatakan bahwa buku tersebut dalam setiap bahasannya selalu diperkuat dengan kutipan ayat-ayat dari al-Qur’an dan al-Hadits, serta ucapan para filsuf Barat, di samping berbagai data statistik. Penulis buku itu fokus pada pembentukan geostrategis untuk daerah geografis kaum Muslim dan pembagiannya; bahwa sumber daya alam, berbagai potensi ekonomi, industri, kekuatan militer, faktor penduduk (demografis) dan ideologi akan membentuk kekuatan besar dalam “new world order, tatanan dunia baru”. Di mana sesuai pemahaman Hizbut Tahrir bahwa kekuatan besar itulah yang akan menghentikan dan mengakhiri hegemoni Barat yang sudah lama merusak negeri-negeri kaum Muslim.

Sementara kendala utama yang mencegah penggunaan potensi-potensi tersebut, sebagaimana yang terdapat dalam buku tersebut adalah terpecahnya kaum Muslim hingga menjadi 56 negara kecil. Dan kondisi inilah yang menyebabkan keberadaan penjajahan, pendudukan, perpecahan, dan impor ide-ide sekuler seperti nasionalisme, sosialisme dan kebebasan. Sedangkan para penguasa di negara-negara ini adalah para penjahat, karena mereka hanya melaksanakan kebijakan untuk melayani kepentingan Barat saja.

Kemudian Bruno mengatakan bahwa Khalifah dalam pandangan Hizbut Tahrir harus dipilih rakyat; Khalifah adalah pemimpin di dunia yang akan menerapkan Islam; Khalifah adalah manusia biasa yang bisa saja berbuat salah; dan Khalifah dalam pemahaman Hizbut Tahrir yang berbeda dengan pemahaman banyak orang adalah bahwa Khalifah itu bukan Imam Mahdi.

Selanjutnya, Bruno mengakui bahwa berdirinya institusi besar yang membentang dari Rabat hingga Mindanao-kota terbesar di Filipina-ini merupakan sesuatu yang realistis. Justru ia mempertanyakan dan menolak klaim sebagian orang yang mengatakan bahwa “ideologi Hizbut Tahrir ini terpisah dari realitas”.

Dalam diagnosisnya terkait apa yang terjadi di negara-negara Arab, ia mengatakan tentang adanya kegagalan yang mendalam dari rezim-rezim yang berpengaruh besar dalam dunia Islam, di mana hal ini berbeda dengan kehendak Hizbut Tahrir. Ia menambahkan bahwa revolusi Arab yang terus berlanjut ini didorong oleh kegagalan dan ketidakadilan sosial, melebihi dorongan ideologis. Sehingga tidak banyak yang mengatakan bahwa revolusi ini akan membantu penyebaran agenda Islam. Sementara Hizbut Tahrir melihat dalam revolusi ini dan menganggapnya sebagai perkembangan yang menjanjikan dalam upaya melawan para rezim yang didukung Barat seperti Presiden Mubarak; dan melawan para anti-Islam seperti Gaddafi yang telah menzalimi kaum Muslim dalam waktu yang lama. Bahkan Hizbut Tahrir merasa bahwa runtuhnya rezim-rezim ini sama dengan terbukanya berbagai peluang baru baginya untuk mendiskusikan ide Khilafah dengan cara yang lebih terbuka.

Dan dalam hal ini sangat jelas dan dapat dimengerti dengan terori yang sederhana, karena ketidakpuasan yang menyulut revolusi ini disebabkan oleh kebijakan neo-liberal. Sehingga konsekwensinya bahwa konsep “westernisasi” dan “modernisasi” dipandangnya sebagai bagian dari masalah, bukan solusi.

Bruno mengatakan bahwa konsep Negara Khilafah Islam yang terkait erat dengan perjuangan Hizbut Tahrir, tidak tampak bahwa Negara Khilafah Islam menolak pencapaian teknologi modern, melainkan ingin menempatkan pencapaian teknologi modern ini dalam pelayanan, yang oleh Hizbut Tahrir dilihatnya sebagai pembebasan dari Barat, dan kemajuan di dunia Islam.

Bahkan Hizbut Tahrir berusaha untuk mengkristalkan kerangka ideologis global dan menciptakan kesadaran melalui penggunaan media modern dan teknologi komunikasi, di samping jaringan imigrasi, serta filsafat politik kontemporer.

Bruno menambahkan bahwa ketika memperhatikan pemahaman Hizbut Tahrir terhadap Islam dan penjelasan atas pandangannya terhadap sistem sosial alternatif, maka Anda akan menemukan bahwa Hizbut Tahrir melakukannya melalui analisis praktis terhadap berbagai peristiwa yang terjadi. Ia melontarkan sebuah catatan, bahwa ada seorang penulis karena tidak membedakan antara peradaban (hadhârah) dan budaya (madaniyah), maka ia mengatakan bahwa Hizbut Tahrir itu anti dan melawan modernisasi. Padahal faktanya Hizbut Tahrir itu modern sekali, Hizbut Tahrir menggunakan internet dan berbagai jaringan media komunikasi sosial, sehingga ini bukti bahwa Hizbut Tahrir itu anti dan melawan modernisasi sangat jauh dari kebenaran.

Bruno mengatakan bahwa konsep Khilafah yang diperjuangkan Hizbut Tahrir berbeda dari apa yang saya pikir. Hizbut Tahrir memiliki pemahaman yang istimewa tentang perlunya integrasi ekonomi yang riil dalam dunia Islam. Sementara keberadaan Liga Arab, Dewan Kerjasama Negara Teluk (GCC), dan Organisasi Kerjasama Ekonomi tidak mampu menghasilkan perubahan nyata, karena mereka semua korup, dikendalikan oleh pemerintah dan rezim yang memusuhi Islam, serta rezim-rezim ini tunduk pada agenda negara-negara besar. Sehingga adanya semua ini dinilai sebagai problem dan masalah utama di dunia Islam. Bahkan Hizbut Tahrir menyerukan untuk menghapus perbatasan antara negara-negara dan masyarakat.

Sekali lagi, Bruno menegaskan bahwa perjuangan Hizbut Tahrir bukan sesuatu yang naif,  karena kebutuhan pada rasa persatuan dan adanya tujuan bersama di dunia Islam merupakan perkara yang diperlukan. Dan sebagai gerakan, Hizbut Tahrir tidak memiliki wilayah tertentu. Hizbut Tahrir mempromosikan dirinya dengan berbagai kegiatan. Hizbut Tahrir beraktivitas untuk menyatukan identitas, sentralitas tujuan dan integrasi antar daerah dalam aktivitas. Ia menambahkan, namun dari sisi lain dan dari sudut pandang saya bahwa Hizbut Tahrir tidak tampak melakukan aktivitas gerakan massa, dan tidak tampak berusaha untuk mendirikan Khilafah dari nol, atau tidak ada sama sekali. Hizbut Tahrir sebagai sebuah gerakan ingin memobilisasi dan menyebarkan ide-idenya di antara kelompok-kelompok sosial masyarakat dan lembaga. Bahkan Hizbut Tahrir dengan tegas menargetkan elemen-elemen masyarakat yang mempunyai pengaruh nyata, dan kekuatan yang berpengaruh serta diperlukan untuk menciptakan perubahan, seperti angkatan bersenjata, badan-badan intelijen dan para profesional.

Bruno menutup artikelnya dengan mengatakan bahwa Hizbut Tahrir telah menyoroti tidak adanya Negara Khilafah menjadi referensi dan sesuatu yang memiliki kredibel. Negara Khilafah sebagaimana sebelumnya akan berdiri untuk melindungi dunia Islam. Sementara Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang dalam pandangan banyak orang di dunia Islam memiliki kemampuan untuk melindungi dunia Islam, ternyata tidak memainkan peran apapun. Begitu juga ketika seorang pemimpin seperti Saddam Hussein dan Gaddafi mencoba memainkan “nada musik” Islam melalui rezim sekulernya untuk memobolisasi massa, maka lihat mereka sekarang bahwa mereka hanyalah orang-orang oportunis. Oleh karena itu, apa yang kita lihat dalam Hizbut Tahrir dan konsep Negara Khilafah Islam yang diperjuangkannya, maka saya yakin bahwa Hizbut Tahrir mencerminkan sebuah lembaga dan sistem alternatif untuk sistem globalisasi.

Sumber: pal-tahrir.info, 27/3/2011.
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Tunisia Tolak Pengesahan Partai Yang Berasaskan Islam , Termasuk Hizbut Tahrir

Tidak ada perubahan yang berarti di Tunisia pasca ‘revolusi’ semakin jelas. Lima partai politik , tiga diantaranya partai yang didasarkan kepada agama, termasuk Hizbut Tahrir, ditolak pengesahannya. Rezim Tunia sekarang masih menjalankan ‘titah’ tuan Barat, pengawal kepentingan asing dengan menolak partai yang memperjuangkan syariah.

Barat memang sangat khawatir rakyat Tunisia kembali kepada syariah Islam akan mengancam kepentingan penjajahan mereka di negeri itu. Hal ini sekaligus mempertegas sikap hipokrit para pengusung demokrasi.

Seperti yang dilangsir Al Arabiya (15/03) Pemerintah Tunisia mengatakan hari Sabtu bahwa mereka tidak akan memberikan status hukum kepada lima partai politik, tiga di antaranya dalam kelompok agama termasuk Hizbut Tahrir.

Kementerian Dalam Negeri mengesahkan tiga partai baru lainnya, sehingga terdapat 34 kelompok politik yang  legal sejak jatuhnya dan kaburnya Presiden Zine El Abidine Ben Ali ke Arab Saudi pada tanggal 14 Januari.

Selain Hizbut Tahrir (Partai Pembebasan),  Partai As-Salam (Perdamaian), Partai Kebebasan  Populer  Demokrat,  Partai Sunni Tunisia  dan juga Partai Demokrat Liberal Tunisia tidak mendapat pengesahan dengan alasan bahwa mereka telah melanggar ketentuan undang-undang tentang partai politik tahun 1988, kata pernyataan kementerian pemerintah.

Hizb At-Tahrir, Partai As-Salam dan Parta Sunni adalah kelompok agama dan undang-undang tentang kepartaian melarang partai-partai politik yang berdasarkan kriteria agama, etnis, regional atau gender, kata seorang pejabat kementerian yang tidak ingin disebutkan namanya kepada AFP.

Dua partai lainnya tidak mendapat pengesahan karena mereka gagal memenuhi persyaratan hukum tertentu, katanya.
Ini adalah pertama kalinya legalisasi partai ditolak sejak jatuhnya Ben Ali dan munculnya sejumlah partai politik, yang kebanyakan adalah partai-partai yang baru dibuat untuk menghadapi Pemilu pada tanggal 24 Juli untuk konstituen majlis perwakilan.[hizbut-tahrir.or.id, 25 maret 2011]
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

HT Amerika: Khilafah Satu-satunya Jalan Perubahan Bagi Kondisi Kaum Muslim

بسم الله الرحمن الرحيم

Khilafah Satu-satunya Jalan Perubahan Bagi Kondisi Kaum Muslim

Kaum muslim keluar secara massal dalam jumlah ribuan bahkan jutaan di Tunisia, Mesir, Yaman, dan Libya, menuntut perubahan penguasa dan rezim mereka yang telah mendatangkan kerusakan dan kehancuran bagi kaum Muslim selama beberapa dekade. Keluarnya kaum Muslim itu merupakan penegasan atas hak mereka bahwa kekuasaan adalah milik umat; di mana merekalah yang memilih penguasa. Hak ini telah dirampas para penguasa jahat, dan raja-raja despot. Kami ingin menjelaskan beberapa hal berikut:

1. Rasa takut yang ditanam para penguasa di hati kaum Muslim lebih dari enam puluh tahun melalui kezaliman, penindasan, penangkapan, penyempitan untuk mencari rezki hingga membuat masyarakat tidak berpikir kecuali masalah makan dan minum mereka; semua itu telah hilang dan pengaruhnya tidak akan kembali lagi di hati masyarakat. Warga Libya memberikan contoh paling berani dalam menentang penguasa diktator dengan dada-dada telanjang mereka. Mereka lebih mengutamakan kematian daripada tetap berada di bawah rezim rusak lagi sombong. Itu merupakan ketentuan pokok: tidak takut, tidak pengecut, dan berpegang pada apa yang diperintahkan Allah SWT.

2. Para penguasa itu telah melayani barat dengan tulus dalam jangka waktu panjang. Mereka telah memerangi umatnya dan membunuhi kaum Muslim untuk mendekatkan diri kepada tuan-tuan mereka. Tetapi pada saat barat melihat kejatuhan para penguasa itu telah makin dekat, barat mencampakkan dan melemparkan mereka di sini dan di sana, seperti kondisi Ben Ali dan Mubarak. Di sini terdapat pelajaran bagi orang-orang yang memiliki pandangan. Bagi barat yang penting adalah kemaslahatannya saja, tanpa memandang siapa yang bisa memberikannya kepada mereka. Di sinilah kaum Muslim harus memahami hakikat ini dan tidak terpedaya dengan janji-janji palsu, mimpi-mimpi bohong dan berbagai kemaslahatan ilusif yang disiapkan pemerintahan-pemerintahan yang silih berganti. Kaum Muslim harus memahami bahwa kebaikan ada dalam keikhlasan kepada Allah, agama-Nya, dan kaum Muslim.

3. Setiap hari terungkap sejauh mana kehipokritan barat dan ketidakpeduliannya terhadap kaum Muslim. Barat telah membantu para penguasa itu selama bertahun-tahun tanpa peduli dengan kezaliman, perampokan dan pembunuhan yang dilakukan para penguasa itu terhadap kaum Muslim. Amerika misalnya, dahulu mendukung dan menopang rezim Mubarak lebih dari tiga puluh tahun. Satu haripun Amerika tidak pernah peduli dengan apa yang dilakukan rezim Mubarak terhadap kaum Muslim. Bahkan Amerika tidak menganggap Mubarak seorang diktator seperti yang dengan gemblang diungkapkan oleh wapres Biden beberapa hari sebelum jatuhnya Mubarak. Begitulah, Amerika mempertimbangkan penggunaan kekuatan militer di Libya dan sebaliknya tidak bergerak serta tetap diam di kawasan lain.

4. Barat dan rezim-rezim berkuasa berupaya memalingkan kaum Muslim dari berpikir tentang tatacara dan metode perubahan yang benar. Maka Anda melihat media massa memfokuskan terhadap ide-ide demokrasi dan slogan-slogan nasionalisme. Sebaliknya media-media massa itu tidak menyebut ide atau slogan Islami ke arah kebangkitan yang benar, atau berita-berita yang menuntut Islam. Barat menggunakan cara pergantian wajah penguasa untuk mengelabui kaum Muslim dan untuk menjaga rezim-rezim yang tunduk kepadanya. Telah tampak jelas solusi mendasar bagi permasalahan-permasalahan kaum Muslim bahkan permasalahan seluruh dunia, dan bahwa perubahan yang benar bagi kondisi kaum Muslim, adalah dengan mewujudkan daulah Khilafah yang telah diperintahkan oleh Allah SWT. Khilafah adalah satu-satunya sistem yang mampu mendatangkan kebahagiaan, keadilan dan rahmat bagi umat manusia seluruhnya. Bagaimana tidak, Khilafah adalah sistem yang diturunkan oleh Allah SWT. Maka bergegaslah wahai kaum Muslim untuk berjuang sungguh-sungguh mewujudkan negara baru ini yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kaum Muslim. Khilafah telah tiba waktunya. Tanda-tanda dan kabar gembiranya juga sudah tampak. Allah SWT berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS an-Nur [24]: 55)

Rasulullah saw telah bersabda:

« … ثمًّ تَكُوْنُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُبُوَّةِ »

Kemudian akan ada Khilafah yang berjalan menurut manhaj kenabian

27 Rabiul Awal 1432 H

02 Maret 2011 M

Hizbut Tahrir Amerika
[hizbut-tahrir.or.id]

.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Tidak Untuk Intervensi Imperialisme Barat di Libya!!

Kantor Penerangan Pusat Hizbut Tahrir

No: 16/1432 H

Tanggal : 22 Rabiul Awal 1432 H/25 Februari 2011 M

Tidak Untuk Intervensi Imperialisme Barat di Libya!!

Kemarin media massa mengutip para politisi barat di Amerika dan Eropa yang mengindikasikan dan menyatakan kemungkinan intervensi langsung atau tidak langsung di Libya. Terlihat jelas bahwa mesin propaganda media barat mulai menyiapkan lahan untuk intervensi barat di Libya dengan beragai dalih. Diantaranya untuk melindungi Eropa dari bahaya pengungsi dari Libya, perlunya menjamin jaringan suplay minyak, atau dengan alasan mengevakuasi rakyat barat, atau yang terakhir dengan alasan melindungi warga sipil di Libya.

Negara-negara imperialis itu memiliki sejarah dan catatan hitam berupa darah dan tubuh korban di daerah-daerah jajahannya di mana saja. Dahulu di Afrika dan Asia, dan terakhir di Palestina, Afganistan dan Irak. Sejarah itu memperlihatkan dengan sangat jelas bahwa negara-negara itu dalam kebijakan-kebijakannya tidak mengakui nilai kemanusiaan, moral, atau spiritual apapun. Motiv dan tujuan satu-satunya yang mereka akui adalah demi meraih kepentingan penjajahan mereka, berapapun darah yang harus ditumpahkan dalam bentuk perang, atau melalui konspirasi secara damai melalui kebijakan-kebijakan ekonomi yang diadopsinya dalam memuaskan selera kelas kapitalis untuk lebih banyak merampas kekayaan dan pemasukan alami di dunia. Dunia melihat bagaimana negara-negara itu mensuplay Saddam Husein dengan alat-alat untuk membunuh dan menghancurkan, ketika dahulu Saddam Husein melayani kepentingan-kepentingan negara-negara itu dan tanpa mengindahkan kejahatan-kejahatan yang dilakukan Saddam Husein. Sedangkan ketika kepentingan-kepentingan mereka mengharuskan, maka dibuatlah zona larangan terbang di utara Irak. Negara-negara itu membongkar kejahatan-kejahatan Saddam Husein untuk menjadikan utara Irak sebagai alasan di kemudian hari untuk menyerang Irak pada tahun 2003. Meskipun Amerikat Serikat tiap tahun menggelontorkan satu setengah miliar dolar kepada rezim Mubarak yang represif dan mengirimkan para tahanan untuk disiksa di bawah interogasi (CIA), namun Obama ingin dunia mempercayai kebohongannya yang telanjang bahwa ia berdiri di samping hak rakyat Mesir untuk menentukan nasib sendiri dan menyerukan penghormatan atas kebebasan dan Hak Asasi Manusia. Ia lupa atau pura-pura lupa bahwa kehipokritan Amerika telah terbongkar di penjara Guantanamo, Abu Ghraib, Bargram, Qana, Gaza dan Jenin. Temannya di London, Paris, dan Roma tidaklah lebih baik dari Obama. Apalagi mereka semuanya tetap saja menutup-nutupi kejahatan-kejahatan rezim Suriah yang terus menerus sejak tahun 1970 di pemerintahan Suriah dengan cengkeraman gaya Stalin. Tidak, bahkan “kebuasan” yang diwadahi dengan Ba’atsisme melebihi kebuasan pemerintahan Stalin.

Hizbut Tahrir telah berjanji pada dirinya sendiri untuk memimpin umat di medan peperangannya untuk membebaskan umat dari cengkeraman penjajah barat. Maka penting bagi Hizbut Tahrir mengumumkan hal-hal berikut:

- Intervensi asing apapun (barat atau timur) dalam urusan kaum Muslim, di Libya, Mesir, Tunisia atau yang lain, merupakan perkara yang tertolak secara total dan tidak mungkin di benarkan atau diijinkan.

- Kebijakan-kebijakan imperialisme negara-negara yang berambisi di negeri-negeri kita telah terbongkar secara telanjang dan tidak lagi bisa membodohi orang-orang bodoh apalagi orang-orang yang sadar.

- Para pemilik pendapat di dunia barat harus sadar bahaya yang dilakukan pemimpin mereka dalam bentuk kebijakan-kebijakan imperialisme, yang pada faktanya adalah kelanjutan dari serangan perang salib terhadap umat Islam. Mereka harus menindak orang-orang bodoh yaitu para penguasa mereka sebelum menjerumuskan mereka ke medan yang membinasakan di negeri kaum muslim, seperti yang mereka lakukan di Afganistan, Irak dan Palestina.

- Kami menyeru umat baik di timur maupun di barat khususnya di Libya, Tunisia, dan Mesir, agar berhati-hati dan waspada terhadap setiap utusan penjajah, apapun nama dan sebutan mereka dalam bentuk utusan atau duta. Juga agar berjuang untuk mengusir mereka dan menghalangi kontak dengan mereka serta menelanjangi keantekan mereka. Mereka itu hanya ingin berkonspirasi melawan kita dan menghalangi kita kembali bersatu di bawah panji yang satu di bawah naungan keadilan yang dibangun asas-asasnya oleh makhluk terbaik, Nabi Muhammad saw.

- Umat Islam harus menyadari bahwa medan perangnya adalah satu, baik di Libya, Mesir, Yaman, Irak dan Afganistan, yaitu pembebasan dari cengkeraman penjajah barat dan alat-alat lokalnya, serta melanjutkan kehidupan Islami dengan tegaknya Khilafah yang telah diberitakan kabar gembiranya oleh Nabi saw.

وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ

Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi) (QS al-Qashshash [28]: 5)

Utsman Bakhasy

Direktur Kantor Penerangan Pusat

Hizbut Tahrir


(hizbut-tahrir.or.id)
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Hizbut Tahrir dan Pemboikotan Media Massa

Di tengah-tengah kaum Muslim berlangsung berbagai insiden mengejutkan dan tiba-tiba, yang terjadinya tidak terbayangkan sebelumnya oleh kebanyakan orang. Menyaksikan berbagai insiden ini, ada sebagian orang yang bertanya-tanya, di mana Hizbut Tahrir terkait apa yang terjadi di tengah-tengah kaum Muslim ini? Bagaimana sikapnya terkait berbagai insiden ini? Mengapa media massa sama sekali tidak mempublikasikan informasi yang menunjukkan sikap dan aktivitas Hizbut Tahrir? Mengapa gerakan-gerakan yang lain tampil dalam berbagai insiden yang terjadi di tengah-tengah kaum Muslim, sementara Hizbut Tahrir tidak tampil sebagaimana gerakan-gerakan yang lain ini? Mengapa Hizbut Tahrir tidak memimpin masyarakat dengan idenya (ide Khilafah), sebagaimana gerakan-gerakan yang lain memimpin masyarakat dengan slogan-slogan kebebasan, demokrasi dan hak asasi manusia?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, ada dua hal yang harus diketahui terlebih dahulu: Pertama, realitas gerakan-gerakan Islam yang beraktivitas di tengah-tengah kaum Muslim, dan pandangan Barat terhadap gerakan-gerakan tersebut. Kedua, realitas Hizbut Tahrir dan pangdan Barat serta para penguasa yang menjadi anteknya terhadap Hizbut Tahrir.

Gerakan-gerakan Islam yang bermain di dalam dan di luar negeri-negeri kaum Muslim, tidak keluar dari salah satu empat jenis ini: Pertama, gerakan-gerakan Islam yang menyerukan demokrasi dan kebebasan, serta ikut berpartisipasi politik dalam sistem pemerintahan yang ada, dan mengambil pemikiran Islam secara umum (terbuka) sebagai landasannya, seperti gerakan (Ikhwanul Muslimin) di Mesir, Yordania dan negara-negara lain.

Kedua, gerakan-gerakan Islam yang menyerukan demokrasi, kebebasan dan hak asasi manusia, serta berusaha untuk membangun hubungan baik dengan Barat. Gerakan-gerakan Islam seperti ini tidak menemukan sesuatu yang salah dalam bekerjasama dengan lembaga, badan atau aliansi politik, dan mengambil pemikiran Islam sebagai landasannya, serta berusaha untuk mengambil alih kendali pemerintahan, seperti Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP)-setelah sebelumnya bernama Partai Refah (Kesejahteraan) yang dibubarkan pada 1998-di Turki.

Ketiga, gerakan-gerakan Islam jihadis yang menjadi pemikiran Islam sebagai landasannya. Di antara gerakan-gerakan ini ada yang menyerukan ide kebebasan, demokrasi dan hak asasi manusia; dan ada juga yang menolak ide-ide tersebut, serta mengambil ideologi pemisahan penuh dengan pemikiran Barat. Gerakan jihadis ini terbagi dalam dua kategori: (1) Gerakan jihadis yang bertujuan membebaskan negeri-negeri kaum Muslim dari kekuatan dan serangan kaum kafir penjajah, seperti gerakan jihadis yang ada di Irak, Afghanistan, Pakistan dan Palestina; (2) Gerakan jihadis yang menjadikan jihad sebagai cara meraih kekuasaan, yaitu dengan cara menghancurkan penghalang-penghalang fisik yang menghambat berdirinya pemerintahan Islam, seperti gerakan Jihad Islam di Mesir.

Keempat, partai-partai politik yang menjadikan Islam sebagai landasan berpikir dalam melakukan seluruh aktivitas politik (yakni dalam mengurusi urusan-urusan kaum Muslim), dan berusaha untuk mendapatkan kekuasaan atas dasar Islam. Kelompok ini sama sekali tidak percaya dengan pemikiran (yang bersumber dari ideologi) Barat, dan tidak menerima apapun bentuk partisipasi atau kerjasama dengan kekuatan-kekuatan di luar Islam, atau kekuatan Islam yang menjadikan Barat sebagai sekutunya. Dan kelompok seperti ini hanya ada satu di seluruh dunia, yaitu Hizbut Tahrir.

Saya tidak ingin membahas secara detail tentang realitas gerakan-gerakan ini dan aktivitasnya. Dalam hal ini, sudah ada berbagai hasil penelitian dan buku yang membahas masalah ini, baik itu menyangkut definisi gerakan, atau mereka yang menulisnya. Namun di sini kami ingin fokus pada point tertentu, yaitu sikap media terhadap gerakan-gerakan ini, khususnya Hizbut Tahrir.

Dan sebagai pengantar saya katakan bahwa media terhadap gerakan-gerakan ini memiliki dua sikap: Pertama, memuji dan terus-terus menyorotinya. Kedua, melakukan perang pemikiran dan membuat berbagai tuduhan melalui media, sementara pada saat yang sama melakukan pemboikotan media dan tidak menyorotinya.

Sementara fakta yang sesungguhnya bahwa sikap media-baik internasional maupun regional-terhadap Hizbut Tahrir adalah mencela dan membuat berbagai tuduhan, sementara pada saat yang sama tidak menyorotinya, bahkan lebih dari itu media justru melakukan pemutarbalikan fakta dan pendistorsian terkait Hizbut Tahrir.

Alasan dari semua ini adalah realitas media dan tujuannya di dalam dan di luar negeri-negeri Islam, serta realitas Hizbut Tahrir dan tujuannya. Di mana ide-ide Hizbut Tahrir berbenturan langsung dengan rezim-rezim yang ada di negeri-negeri kaum Muslim, serta berbenturan langsung dengan Barat dan ide-ide kapitalis demokratisnya!

Hizbut Tahrir, seperti yang kita tahu, senantiasa menelanjangi kebobrokan rezim-rezim yang ada di dunia Islam ini tanpa kecuali, serta menuduhnya sebagai antek dan boneka Barat dan entitas Yahudi; Hizbut Tahrir menyerukan dan berusaha untuk menggulingkannya, kemudian mendirikan negara Islam di atas puing-puing reruntuhannya. Hizbut Tahrir juga menelanjangi kebusukan pemikiran Barat, termasuk kebebasan, demokrasi dan hak asasi manusia, serta menelanjangi negara-negara yang tegak di atas pemikiran sampah ini, seperti Amerika, Prancis, Inggris, Jerman dan lainnya.

Jika kita tahu bahwa media-media, baik yang lahir di Barat maupun di negeri-negeri kaum Muslim memiliki tujuan yang sama, yaitu memoles citra pemikiran kapitalis, memperkokoh pilar-pilar negara-negara boneka Barat yang ada di dunia Islam ini, serta menyerukan agar ikut berpartisipasi bersama rezim-rezim boneka yang ada di negeri-negeri kaum Muslim, maka di sinilah kami membuat gambaran tentang kebijakan media ini dan sikapnya terhadap partai idelogis yang berlawanan arus dengan pemikiran Barat, dan berusaha menggulingkan para anteknya di negeri-negeri kaum Muslim, serta berusaha mendirikan pemerintahan Islam, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Barat atau pemikirannya.

Oleh karena itu, saya melihat melalui pengamatan saya terhadap media dan cara media memperlakukan Hizbut Tahrir sepanjang terjadinya berbagai insiden baru-baru ini, bahwa media-media ini, baik cetak, radio maupun televisi, semuanya melakukan pemboikotan penuh terhadap Hizbut Tahrir dan semua aktivitasnya di dunia Islam. Sebaliknya, media justru melancarkan perang pemikiran yang tak kenal lelah terhadap Hizbut Tahrir melalui orang-orang yang menyebut dirinya sendiri sebagai ulama, atau melalui para politisi dan penulis yang sudah teracuni oleh budaya Barat, serta mereka yang ingin mengambil keuntungan materi dari Barat.

Hizbut Tahrir mengadakan long match (masîrah) hampir mingguan di dunia Islam, namun tidak ada satupun media yang berani menyoroti aktivitas-aktivitas ini. Hizbut Tahrir mendistribusikan jutaan nasyrah (selebaran atau bulletin) di negeri-negeri kaum Muslim, dan tidak satu pun media yang memberitakannya. Hizbut Tahrir melakukan kontak hampir setiap hari dengan para pembuat keputusan dan orang-orang berpengaruh, namun tidak ada media yang memberitakan hal ini. Para aktivis Hizbut Tahrir ditangkapi oleh pihak penguasa negara-negara di dunia Islam, puluhan atau mungkin ratusan setiap minggunya, namun tidak ada satu pun media yang memberitakannya, kecuali sangat sedikit sekali. Hizbut Tahrir telah mengadakan konferensi di tingkat internasional, di Indonesia, Sudan dan Lebanon, namun hanya beberapa media yang melaporkannya, dan itu pun sebagai berita yang berlalu begitu saja, tidak ada perhatian, apalagi fokus pada hal itu. Sementara di sisi lain, media-media ini begitu peduli terhadap konferensi pers untuk kaum homoseksual, berita dari kebun binatang, berita tentang selebritis atau berita-berita yang tidak berguna lainnya, bahkan topik mengenal sejarah Hizbut Tahrir tidak ada dipublikasikan oleh media, padahal  beberapa TV channel mempublikasikan secara berseri tentang beberapa kelompok Islam, aktivitasnya, sejarahnya dan lainnya. Bahkan lebih buruknya lagi, bahwa ada beberapa aktivitas yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir di beberapa daerah, namun oleh media diberitakan dengan nama kelompok lain, artinya media-media ini akan rela melakukan kebohongan publik jika hal itu terkait dengan Hizbut Tahrir dan aktivitasnya.

Dari sini baru saya akan menjawab pertanyaan, yaitu di mana Hizbut Tahrir terkait insiden Tunisia, Mesir dan lain-lainnya?!

Yang benar, jawaban untuk itu tidak pernah ditemukan di media dari segala jenisnya. Bahkan media secara terbuka tidak henti-hentinya memerangi Hizbut Tahrir. Namun kami katakan kepada masyarakat, dan kami sampaikan sebagai berikut:

   1. Hizbut Tahrir telah mendistribusikan jutaan nasyrah (selebaran atau bulletin) di tengah-tengah berlangsungnya insiden ini. Bahkan nasyrah-nasyrah ini telah sampai ke pusat insiden demonstrasi Tunisia, Yaman, Yordania, Mesir dan lainnya. Lebih dari itu Hizbut Tahrir terus-menerus melakukan kontak dengan masyarakat yang dilakukan secara individual dan kolektif.
   2. Hizbut Tahrir telah menyampaikan pendapatnya dan nasyrah-nasyrahnya kepada semua media yang terkemuka, namun tidak satu pun yang mempublikasikannya.
   3. Hizbut Tahrir telah melakukan kontak dengan ribuan orang di Mesir dan Tunisia melalui jaringan internet dan sarana lainnya yang memungkinkan untuk bisa diaksesnya.
   4. Hizbut Tahrir dan para aktivisnya di Tunisia telah melakukan banyak sekali aksi long match (masîrah), namun tidak ada satu pun media yang mempublikasikannya. Bahkan Hizbut Tahrir telah bekerjasama dengan masyarakat dalam pembentukan komite rakyat untuk melindungi masyarakat dan kekayaannya.
   5. Hizbut Tahrir juga telah mengadakan ratusan seminar, ceramah dan khotbah Jum’at di pusat insiden tersebut, namun sekali lagi tidak ada media yang mempublikasikannya, sekali pun hanya dalam berita berjalan.
   6. Hizbut Tahrir telah mengadakan sejumlah long match (masîrah) dan aksi massa di luar tempat-tempat insiden, di Inggris, Indonesia, Lebanon, Palestina, dan di tempat-tempat lainnya. Ini semua dilakukan untuk menunjukkan sikap Hizbut Tahrir terhadap insiden-insiden tersebut.
   7. Hizbut Tahrir telah berjuang dan berusaha keras untuk memperbaiki langkah-langkah dalam melakukan berbagai protes dan long match (masîrah) atau unjuk rasa dengan mengarahkan masyarakat agar menyempurnakan perjalanan akhir upaya pembebasan dari ketidakadilan ini, dan memberikan cara yang benar untuk mencapainya.

Ini adalah sebagian dari aktivitas nyata yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir di beberapa negeri kaum Muslim. Adapun persepsi dari beberapa orang bahwa Hizbut Tahrir tidak memiliki kemampuan untuk melakukan long march (masîrah) atau demontrasi seperti yang terjadi di Tunisia dan Mesir, maka yang benar, bahwa analog ini adalah salah, dan tidak menunjukkan pada kesadaran yang benar. Sebab aksi long march (masîrah) atau demonstrasi yang berlangsung di Mesir dan Tunisia adalah gerakan massa, dan tidak spesifik dengan arahan tertentu. Aksi itu merupakan gerakan penentangan terhadap ketidakadilan dan pembebasan dari penindasan. Sedangkan para aktivis Hizbut Tahrir adalah seperti orang-orang yang lain dalam hal penolakan terhadap ketidakadilan. Bahkan masyarakat melakukan itu karena terpengaruh apa yang dikatakan oleh Hizbut Tahrir sebelumnya, di mana Hizbut Tahrir menyebut rezim-rezim ini sebagai antek yang senantiasa berkonspirasi, serta begirtu tergantung dengan Barat, dan sebagainya.

Bahkan ada sebagian yang berusaha menjadi kutu loncat untuk memimpin gerakan spontan ini dengan dukungan dan arahan dari media; dan ada pula yang ingin mengarahkan dengan cara lain, namun saya tidak ingin menjelaskan secara detail di sini.

Akan tetapi saya katakan bahwa long match (masîrah) atau demontrasi ini saja, tanpa dukungan dari para pemilik kekuatan dan pengaruh, tidak akan mencapai tujuan yang diinginkan, sekalipun berhasih mengubah wajah presiden dan rezim. Dan mungkin yang akan menuai buah dari aktivitas massa ini adalah justru orang-orang yang sama sekali tidak memiliki hubungan dengan insiden-insiden tersebut, seperti dalam revolusi pembebasan yang terjadi di awal abad yang lalu!

Hizbut Tahrir mampu melakukan long match (masîrah) atau demontrasi dengan ratusan ribu massa di beberapa negeri kaum Muslim. Namun ini bukan metode yang ditempuh oleh Hizbut Tahrir. Sebab cara-cara seperti ini target dan tujuannya sangat terbuka, sehingga memungkinkan untuk dimanfaatkan, sekalipun massa yang melakukan sangat ikhlas dan spontanitas.

Namun Hizbut Tahrir dalam melakukan aksi long match (masîrah) atau demontrasi selalui dikaitkan dengan tujuannya, tidak boleh tunduk atau diarahkan oleh orang tertentu, seperti di Indonesia ketika melakukan aksi long match (masîrah) sejuta massa di jalanan Jakarta yang menyerukan pembentukan pemerintahan Islam; aksi long match (masîrah) yang diadakan di Sudan yang menyerukan untuk memerangi ide pemisahan Selatan; aksi long match (masîrah) yang dilakukan di Palestina untuk melawan likuidasi masalah Palestina; juga aksi long match (masîrah) yang dilakukan di Lebanon; aksi long match (masîrah) yang dilakukan di beberapa kota di Pakistan; dan aksi long match (masîrah) yang dilakukan di Bangladesh untuk melawan kebijakan Amerika Serikat, dan kerjasama para penguasa dengan Amerika dalam memerangi kaum Muslim.

Sebelum saya mengakhiri tulisan ini, saya katakan bahwa tujuan Hizbut Tahrir melakukan aksi long match (masîrah) atau aksi-aksi yang lainnya, bukan untuk meraih kekuasaan, karena cara ini tidak akan bisa meraih kekuasaan, sekalipun berhasil mengubah presiden melalui kekuatan pihak lain. Namun tujuan Hizbut Tahrir melakukan aksi long match (masîrah) ini adalah untuk menyampaikan pemikiran atau memerangi pemikiran; atau mensosialisaikan dakwah dan Hizbut Tahrir di wilayah tertentu. Adapun metode Hizbut Tahrir sudah jelas dan semua orang tahu, yaitu thalabun nushrah (mencari dukungan) dengan cara yang terprogram dan cermat melalui pusat-pusat kekuasaan, setelah mereka yakin sepenuhnya dengan pemikiran dan tujuan Hizbut Tahrir. Dan terkait metode ini, dalam Hizbut Tahrir sudah ada orang-orang yang ditugasinya, mereka masuk dalam “jihâz thalabun nushrah” di mana orang-orangnya tidak dikenalkan pada masyarakat, serta sangat rahasia dalam melakukan aktivitasnya.

Terakhir saya katakan bahwa ide Hizbut Tahrir untuk mendirikan negara Islam di dunia Islam telah menjadi sesuatu yang diyakini oleh sebagian besar kaum Muslim, dan telah menjadi tujuan bagi kaum Muslim. Sungguh ini merupakan karunia yang sangat besar dari Allah. Dan Hizbut Tahrir adalah yang pertama dalam bidang ini. Hanya saja masyarakat belum memiliki kesadaran secara rinci terkait hal ini, serta cara untuk meraihnya, sementara yang ada masih berupa kesadaran umum. Dan saya yakin bahwa hal ini tidak mungkin terjadi begitu saja di tengah-tengah kaum Muslim kecuali melalui pembinaan secara intensif dalam halqah-halqah dan kajian-kajian umum yang terus-menerus dilakukan. Dalam hal ini, betapapun Hizbut Tahrir mengerahkan semua kemampuannya sebelum berdirinya negara, maka kesadaran secara rinci tidak akan pernah sempurna pada kelompok umat kecuali setelah berdirinya negara Islam, hal itu akibat dari perang dan penyesatan yang terencana di negeri-negeri kaum Muslim.

Kami memohon kepada Allah SWT semoga mempercepat berdirinya negara Islam, yang akan menghapus semua racun-racun pemikiran ini, dan menempatkan semuanya pada tempatnya yang benar (Hamad Thabib). Sumber: pal-tahrir.info, 22/2/2011.
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Pasukan Setia Diktator Gaddafi Bantai Para Pengunjuk Rasa Usai Shalat Jumat

Ratusan tentara asing serta pasukan yang masih setia kepada Pemimpin Rezim Diktator yang didukung Barat, Kolonel Gaddafi telah melepaskan tembakan ke pengunjuk rasa di tempat yang berbeda di Tripoli, Press TV melaporkan, Jumat, 25/02/2011. Saksi mata mengatakan sejumlah pengunjuk rasa tewas dalam bentrokan antara pengunjuk rasa dengan pasukan keamanan di kota Janzour dan Fashlum.
Bentrokan juga dilaporkan terjadi di daerah lainnya termasuk di Ben Ashur dan Ghut Ashaal. Laporan-laporan seperti dikutip Press TV mengatakan tembakan dimulai setelah shalat Jumat ketika massa mulai meneriakan slogan-slogan anti Gaddafi.

Pertempuran meletus di luar Tripoli selama 24 jam terakhir. Pasukan setia Gaddafi berusaha menjaga Tripoli di bahwa kendali mereka sedangkan pemerintah telah kehilangan cengkramannya di lebih kota-kota di timur dan barat Libya.

Ada laporan, rezim telah menggunakan gas beracu terhadap para demonstran di daerah Misarata.

Gaddafi telah memperkerjakan tentara bayaran dari Chad, Niger dan Sudan untuk membunuhi warganya. Gambar cuplikan baru menunjukkan milisi asing ditangkap oleh masyarakat setempat di Benghazi dan Tobruk.

Lebih dari seribu orang tewas dan lebih banyak lagi kematian lainnya yang dikhawatirkan sebagai akibat kebrutalan Gaddafi dalam menghancurkan lawan-lawannya.

Sementara itu, Hizbut Tahrir, sebuah partai Islam global yang para aktivisnya telah banyak dibantai oleh Gaddafi menyerukan kepada para tentara Libya untuk bersegera tunduk kepada perintah Allah.

"Apakah anda tidak suka membuat sejarah bersinar untuk dirimu sebagai pendukung (ansar) Rasulullah Saw?" tegas Hizbut Tahrir dalam sebuah pernyataan.

"Kami menyerukan kepada anda untuk menggulingkan rezim Gaddafi dan mendukung rakyat Libya serta bekerja bersama Hizbut Tahrir yang anda tahu dan para anggotanya anda kenal baik, sehingga menyatakan Libya sebagai Khilafah yang sesuai dengan metode kenabian, yang akan membawa kembali Islam ke dunia ini, dengan ajaran dan sistemnya," tegas Osman Bakhach Direktur Kantor Pusat Media Hizbut Tahrir menyerukan dalam sebuah pernyataan.
Belasan pemuda Hizbut Tahrir syahid setelah menyerukan kebenaran untuk menentang pengingkaran Gaddafi terhadap sunnah beberapa tahun lalu. [m/prstv/syabab.com]
.........Lihat Selengkapnya