Tampilkan postingan dengan label libya. Tampilkan semua postingan

gravatar

Berita Lucu: Rancangan Undang-Undang (RUU) Israel untuk menuntut kompensasi dari negara-negara Arab (Mesir, Mauritania, Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya, Sudan, Suriah, Irak, Libanon, Yordania, Bahrain, dan Arab Saudi)

Sebuah laporan berita mengungkapkan bahwa Israel sedang mempersiapkan untuk menuntut Arab Saudi lebih dari 100 miliar dolar sebagai kompensasi atas kepemilikan Yahudi di wilayahnya sejak zaman Rasulullah Saw.

Surat kabar “Al-Quds Al-Arabi” mengutip dari sumber-sumber Mesir yang tidak disebutkan namanya bahwa Kementerian Luar Negeri Israel yang dikuasai oleh seorang ektrimis Avigdor Lieberman, sekarang sedang bekerja keras mempersiapkan undang-undang yang mengharuskan pemerintah untuk menuntut kompensasi dari Arab Saudi atas kepemilikan Yahudi yang mereka itu sudah tinggal di wilayahnya sejak zaman Rasulullah Saw, di samping juga menuntut Mesir agar mengembalikan kepemilikan Yahudi.

Sumber-sumber itu menunjukkan bahwa badan-badan resmi Israel saat ini melalui Dirjen Pengelolaan Kepemilikan di Kementerian Luar Negeri Israel sedang mempersiapkan rancangan undang-undang yang akan diajukan ke Knesset pada Maret mendatang, yang isinya mengharuskan pemerintah Israel menuntut otoritas Mesir agar mengembalikan kepemilikan Yahudi Mesir yang mereka tinggalkannya pada awal tahun 1948. Hal ini dilakukan dalam rangka persiapan untuk meletakkannya di meja perundingan internasional pada saat ada tekanan terhadap Israel terkait hak kembali para pengungsi Palestina.

Sumber-sumber tersebut mengatakan bahwa Rancangan Undang-Undang (RUU), yang saat ini sedang dikerjakannya adalah dalam rangka persiapan untuk memulai tuntutan kompensasi yang dibagi menjadi dua bagian:

Pertama, menuntut Mesir, Mauritania, Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya, Sudan, Suriah, Irak, Libanon, Yordania dan Bahrain dengan kompensasi atas kepemilikan 850 ribu Yahudi yang nilainya mencapai 300 miliar dolar, yang dibagi di antara mereka berdasarkan sensus terakhir kaum Yahudi pada tahun 1948.

Kedua, undang-undang tersebut menuntut Arab Saudi untuk membayar kompensasi yang nilainya lebih dari 100 miliar dolar atas kepemilikan Yahudi di kerajaan itu sejak zaman Rasulullah Saw.

Sumber-sumber itu menjelaskan bahwa Arab Saudi merupakan negara Arab yang paling besar dituntut kompensasi. Dikatakan bahwa Rancangan Undang-Undang (RUU) Israel untuk menuntut kompensasi dari negara-negara Arab ini, sekarang sedang dikerjakan oleh para ahli senior di bidang hukum internasional, sejarah dan geografi kaum Israel dari universitas-universitas Israel di Bar-Ilan,  Bi’r as-Sab’ (Be’er Sheva), Tel Aviv, al-Quds (Yerusalem) dan Haifa, dengan pendanaan khusus yang ditetapkan sebesar 100 juta dolar dipotong dari anggaran Departemen Luar Negeri Israel pada tahun 2012.

Bahkan sumber-sumber itu menegaskan bahwa ada upaya Israel untuk menuntut Iran juga agar membayar 100 miliar dolar saja sebagai kompensasi atas ratusan orang Yahudi Iran yang tewas dan hilang tanpa diketahui nasibnya sampai hari ini (islamtoday.net, 1/1/2012, "Israel Tuntut Arab Saudi 100 Miliar Dolar Atas Kepemilikan Yahudi Sejak Zaman Rasulullah SAW").

btw apa Israel gak mikir juga ya, bahwa mereka udah membantai Juataan kaum Muslimin mulai dari anak-anak sampai dewasa. mereka mau Ngelawak kali ya?
sangat tampak mereka ingin ngebodohin ummat Islam, bergaya sok terdzalimi. padahal sebenarnya merekalah makhluk-makhluk keji terlaknat...!!!

sedikit contoh lihat saja kejadian ini:
Kasus penggunaan bom Fosfor.

dan masih banyak lagi bukti kekejaman mereka. lalu siapakah yang layak dituntut dan menuntut?
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Libya: 1.000 Orang Tewas di Misratah dalam Enam Pekan

Rezim diktator Gaddafi tak peduli rakyatnya menjadi korban. Ia juga yang mengundang Barat sehingga mengintervensi negeri tersebut dan membunuh kaum Muslim. Pasukan setia pada rezim diktator Libya Muammar Gaddafi telah membunuh hampir 1.000 orang dan melukai 3.000 orang lainnya di kota Misratah sejak enam pekan lalu, petugas medis mengatakan.
Pasukan Gaddafi telah menewaskan hampir 1.000 pengunjuk rasa anti-pemerintah Libya dan meninggalkan 3.000 terluka di Misrata, Dr. Khaled Abu Falgha, kepala di rumah sakit utama Misratah mengatakan hari Senin.

"Sekitar 80 persen yang tewas itu adalah warga sipil," senior medis itu melanjutkan.

Ini terjadi saat perang yang terus terjadi antara revolusioner Libya dan pasukan Gaddafi.

Pihak revolusioner mengatakan mereka telah melanjutkan ke kota kunci Brega. Kota itu telah berpindah tangan antara pro dan anti rezim untuk beberapa kali sejak Maret.

Pada hari Ahad, pasukan rezim menguliti Ajdabiya dan Misratah, meninggalkan enam orang tewas dan puluhan terluka.

Pada hari yang sama, pesawat-pesawat tempur koalisi Barat menyerang posisi di al-hira daerah sebelah barat ibukota Tripoli. Belum ada laporan korban dalam serangan tersebut.

Banyak warga sipil dilaporkan tewas sejak serangan duara koalisi di Libya Barat mulai dilanda krisis.

Pasukan revolusioner mengkritik NATO karena kegagalannya mencegah pembunuhan atas warga sipil.

Sekutu militer Barat mengaku telah membunuh pasukan revolusioner dan warga sipil dalam serangan udara di Libya bagian timur, namun menolak untuk meminta maaf atas penembakkan yang mematikan itu. Semakin jelas, Barat hanya melakukan tindakan teroris di negeri kaum Muslim.

Demikianlah, kaum Muslim di Libya menderita karena kediktatoran rezim penolak sunnah, Muammar Gaddafi. Muslim Libya pun menghadapi serangan dari para penjajah Barat yang ikut campur tangan atas urusan dalam negeri kaum Muslim itu.

Umat ini benar-benar membutuhkans satu kesatuan politik mereka di bawan naungan Khilafah Islamiyyah yang akan menyatukan kaum Muslim sedunia dan membebaskan negeri-negeri Muslim dari cengkraman penjajah, termasuk dari cengkraman para penguasa pengkhianat.

Kini, kaum Muslim mulai menyadari dan berani untuk berlepas dari para penguasa korup. Mereka menginginkan perubahan. Namun, perubahan tanpa adanya kesadaran rentan pembajakan Barat. Hanya melalui Khilafah saja, perubahan secara nyata itu akan terjadi. Insya Allah, semakin dekat. [m/prstv/syabab.com,Selasa, 19 April 2011]
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Setelah Libya , Target AS Selanjutnya Adalah Papua. Selamatkan dengan Syariah dan KHILAFAH

Jika kita mau melihat lebih kritis tentang Kasus di Libya maka bisa kita lihat bahwa kasus ini hampir sama dengan kasus Timor Timur, dengan alasan HAM, Demokrasi dan PBB akhirnya Timor Timur Lepas dari Indonesia meski memang agak beda dari sisi yang lain. Dibawah tekanan Australia, Amerika dan PBB atas nama HAM dan Demokrasi, akhirnya pemerintah BJ Habibie saat itu tidak sanggup lagi menghadapi tekanan politik yang bertubi-tubi dari para penjajah Kapitalis yang mengincar Minyak di celah Timor. begitu juga dengan libya, dengan alasan HAM AS dan sekutunya menyerang pemerintahan Khadafi padahal ujung2nya ingin menguasai minyak di libya.
Menurut pengamat militer ibu Connie Rahakundini Bakrie skenario AS menyerang libya dan timur tengah sudah di rancang dari awal. karena semua negara tersebut terdapat sumber minyak bumi yang besar. Bahkan Ibu connie menambahi kalau sasaran AS selanjutnya adalah papua.

wow..benar-benar mengagetkan..!!!!

Pernyataan ibu connie pada siaran tv one sabtu 26/3 2011 bukannya tanpa dasar. Kabar Papua menjadi target AS berikutnya sudah beredar di kalangan intelejen.

Sebuah sumber di lingkungan Departemen Luar Negeri mengungkap adanya usaha intensif dari beberapa anggota kongres dari Partai Demokrat Amerika kepada Organisasi Papua Merdeka (OPM) untuk membantu proses ke arah kemerdekaan Papua secara bertahap.

Karena dengan tampilnya Presiden Barrack Obama di tahta kepresidenan Gedung Putih, praktis politik luar negeri Amerika amat diwarnai oleh haluan Partai Demokrat yang memang sangat mengedepankan soal hak-hak asasi manusia. Karena itu tidak heran jika Obama dan beberapa politisi Demokrat yang punya agenda memerdekakan Papua lepas dari Indonesia, sepertinya memang akan diberi angin.

Beberapa fakta lapangan mendukung informasi sumber kami di Departemen Luar Negeri tersebut. Betapa tidak. Dalam dua bulan terakhir ini, US House of Representatives, telah mengagendakan agar DPR Amerika tersebut mengeluarkan rancangan FOREIGN RELATION AUTHORIZATION ACT (FRAA) yang secara spesifik memuat referensi khusus mengenai Papua.

Kalau RUU ini lolos, berarti ada beberapa elemen strategis di Washington yang memang berencana mendukung sebuah opsi untuk memerdekakan Papua secara bertahap. Dan ini berarti, sarana dan perangkat yang akan dimainkan Amerika dalam menggolkan opsi ini adalah, melalui operasi intelijen yang bersifat tertutup dan memanfaatkan jaringan bawah tanah yang sudah dibina CIA maupun intelijen Departemen Luar Negeri Amerika.

Karena itu, Departemen Luar Negeri RI haruslah siap dari sekarang untuk mengantisipasi skenario baru Amerika dalam menciptakan aksi destabilisasi di Papua. Berarti, Departemen Luar Negeri harus mulai menyadari bahwa Amerika tidak akan lagi sekadar menyerukan berbagai elemen di TNI maupun kepolisian untuk menghentikan adanya pelanggaran-pelanggaran HAM oleh aparat keamanan.

campur tangan Amerika dengan skenarionya berusaha agar Papua lepas dari NKRI. Amerika tentu punya alasan agar Papua lepas dari Indonesia, Papua adalah mutiara hitam dari timur, sebuah tanah yang kaya raya, dengan kekayaan alam yang luar biasa banyaknya serta kandungan emas di bukit Freeport yang melimpah membuat para Kapitalis penajajah serakah ngiler dibuatnya.

Padahal kalau kita tahu pembagian royalty freeport indonesia hanya mendapat 1 %, sedangkan asing mendapat 99%.

sungguh lucu yah..
masa tukang cangkul hasilnya jauh lebih banyak dari yang punya tanah.

Alasan utama yang menjadi isu pemisahan Papua dari NKRI adalah Kemiskinan, pemerintah Indonesia yang tidak mampu mengentaskan kemiskinan di Papua menyebabkan isu-isu sparatis berkembang.

Kemiskinan Papua adalah salah satu akibat dari sistem Kapitalisme yang diterpakan di Indonesia, emas Papua yang seharusnya mampu memakmurkan rakyat Papua justru dirampok oleh Freeport dan perusahaan asing milik Kapitalis Penjajah.
Isu-isu HAM dan Demokrasilah yang sedang dikembangkan oleh Amerika Serikat agar Papua bisa lepas dari NKRI, dengan isu ini diharpakan akan terjadi referendum bagi tanah Papua. Yang selanjutnya mengantarkan Papua ke arah pemisahan diri dari NKRI.(beritahebohterkini.blogspot.com, 27 Maret 2011)

meski berita ini masih berupa dugaan tapi tidak menutup kemungkinan hal ini bisa benar-benar terjadi. begitu banyak alasan kuat yang bisa mendukungnya. diantaranya, kemiskinan yang terjadi disana meski propinsi tersebut adalah kaya raya dengan tambang emasnya, pemerintah yang makin hari makin menggila dengan kepentingan pribadinya, dan masih banyak hal yang bisa mendukung kearah sana.

sungguh tawaran Syariah & Khilafah adalah sesuatu hal yang sangat masuk akal. dimana sistem ini telah terbukti bisa menaungi Pluralitas dan mampu berbuat adil dalam mensejahterakan rakyatnya apapun suku,ras maupun agamanya. maka sudah saatnya sistem Syariah dan KHILAFAH memimpin negeri ini, tak ada pilihan lain. inilah sistem yang diturunkan tuhan kepada seluruh ummat manusia tanpa terkecuali dan telah terbukti mampu mensejahterakan manusia selama kurang lebih 14 abad lamanya dan mampu mengayomi hingga 2/3 dunia dalam keragaman suku, ras dan agamanya.

jika anda penasaran bagaimana KHILAFAH mengentas kemiskinan dalam Negara silahkan anda lihat artikel disini.
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Italia Berusaha Menjajah Libya dan Mencegah Berdirinya Khilafah

Menteri Luar Negeri Italia Franco Frattini menjelaskan bahwa “Tidak akan ada Khilafah (Islam) di Libya.” Sehubungan dengan pemerintahan Libya mendatang, ia menjelaskan dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Italia “La Stampa” bahwa “Kami telah melakukan pemantauan sangat berhati-hati sekali” di Libya. Pada awal pembicaraan, Ketua Dewan Transisi di Benghazi menjelaskan pada saya bahwa mereka selalu dihubungkan dengan setiap usaha yang berkaitan dengan ekstremisme Islam.”

Sementara Ketua diplomatik Italia mengatakan bahwa “Kenyataan yang membuat saya begitu kagum terhadap para perwakilan di Dewan ini adalah khas sekulerismenya.” Lebih dari itu, “Sesungguhnya Ikhwanul Muslimin di Libya sangat jauh berbeda dengan yang di Mesir.”

*** *** ***

Italia telah lama menjajah Libya. Bahkan di tahun 2011 ini Italia genap seratus tahun menjajah Libya (yaitu sejak tahun 1911). Dan selama penjajahan itu Italia banyak melakukan pembunuhan, pengusiran dan penjarahan. Pada era penjahat Gaddafi, Italia memiliki kepentingan besar bersama dengan Gaddafi. Italia yang telah merancang kilang minyak Libya. Dan Italia mengambil keuntungan dari minyak Libya. Bahkan Italia sangat menjaga hubungan istimewa dengan rezim Libya yang jahat. Karena dekatnya gubungan keduanya, sampai Gaddafi bebas berhubungan secara luas dengan rakyat Italia, terutama dengan para perempuan muda.

Pada awal pemberontakan rakyat melawan Gaddafi, Italia masih bersikap malu-malu kucing dan enggan untuk mengutuk kejahatan Gaddafi. Akan tetapi setelah perlawanan kelompok pemberontak semakin keras dan kejahatan-kejahatan Gaddafi semakin telanjang, maka Italia sebagaimana negara-negara Eropa lainnya segera meletakkan satu kakinya bersama kelompok pemberontak, sementara kaki yang satunya masih tetap bersama Gaddafi. Dengan sikap munafiknya ini, Italia berharap mendapatkan bagian dari kue Libya jika Gaddafi digulingkan.

Akan tetapi Italia, Inggris, Perancis dan AS tidak memberlakukan embargo udara terhadap Libya, kecuali setelah bertemu dengan orang-orang penting dari rezim Gaddafi, seperti duta besar dan lainnya, atau orang-orang yang mengemban pola pikir sekularisme Barat. Negara-negara ini berusaha bergabung pada kelompok pemberontak untuk menuai buah dari revolusi, dan korban-korban di Libya untuk kepentingan negara-negara penjajah ini, serta mencegah berdirinya Khilafah di Libya. Sebagaimana hal itu sangat jelas melalui pernyataan yang dilontarkan oleh Menteri Luar Negeri Italia.

Seorang penulis Italia mengatakan dalam sebuah artikel yang dipublikasikan dalam surat kabar “Giornale di Brescia” edisi 5/3/2011. Surat kabar mengutip darinya tentang kepentingan Italia di Libya, di aman ia mengatakan bahwa “… harus mencari cara untuk mencapai konvergensi dengan Libya yang baru, sehingga memungkinkan bagi Italia untuk terus memainkan peran penting di Libya. Hal ini tidak berarti kembali menjajah Libya, namun hanya upaya untuk mengambil keuntungan dari ketakutan yang sangat kuat, yang menguasai negara-negara Uni Eropa dari berinvestasi di negara-negara Mediterania, untuk memperkuat industri kami, dan meningkatkan tarap hidup para pekerja di Italia dan negara-negara Afrika Utara. Dengan demikian, tindakan ini akan menyelamatkan pelabuhan-pelabuhan kami dari menghadapi aksi-aksi pembajakan yang dilakukan oleh ribuan kaum pengangguran.”

Kami menyarankan kepada para revolusioner Libya untuk tidak menerima bantuan Barat dan tidak bertemu dengan mereka. Para delegasi Barat yang datang berturut-turut ke Benghazi, sedang berusaha untuk menjadikan kalian sebagai wajah baru penjajahan Barat, setelah Barat menjajah Libya untuk waktu yang lama, sementara Gaddafi terlibat dalam aksi penjarahan kekayaan umat. Dan kami menyeru mereka untuk mengadopsi Islam sebagai sistem kehidupan bagi negara dan masyarakat. Dengan demikian, mereka akan sukses meraih kemuliaan dunia dan akhirat (hizb-ut-tahrir.info, 7/4/2011).
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Video Menjemput Syahid Pertahankan Aqidah: "Syuhada Libya"

Para tentara Libya memintanya untuk mengatakan ‘Hidup Mu’ammar … hidup al-Fatih’, tapi dia menjawab dengan ‘Allahu akbar … la ilaha illa Allah’, sebelum ditembak mati. Peristiwa tersebut terekam dalam sebuah video. Berikut cuplikan video ketegaran syuhada Libya. Semoga Allah menerimanya sebagai syahid, Amiin. Maret 2011.
sumber berita : syabab.com, judul: "Cuplikan Video Seorang Syahid di Libya"
sumber video: dailymotion.com

A brother's martyrdom upon the kalima in Libya... by NahdaProductions
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Bom Sekutu Bunuh Anak Anak Libya

TRIPOLI, Televisi BBC mengutip keterangan dokter, yang mengatakan bahwa serangan udara koalisi Barat di Libya telah membunuh tujuh warga, kebanyakan anak-anak, dan melukai 25 orang lain di dekat kota minyak Brega pada Rabu.

Dokter itu mengatakan kepada wartawan BBC bahwa ia dipanggil ke desa 15 kilometer dari Brega setelah serangan udara menghantam iringan tentara pendukung pemimpin Libya Muammar Gaddafi.

Sebuah truk berisi amunisi meledak di antara dua rumah, membunuh perempuan dan laki-laki muda berusia antara 12 dan 20, kata jaringan berita BBC pada Jumat. Laporan itu belum dipastikan. Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mengambil alih kepemimpinan serangan udara, yang menyasar sarana tentara Gaddafi, dan menerapkan amanat daerah larangan terbang Perserikatan Bangsa-Bangsa serta embargo senjata.

Penerapan wilayah larangan terbang mewenangkan "semua langkah diperlukan" untuk melindungi warga dari serangan pasukan Gaddafi. Sedikitnya 40 warga tewas dalam serangan udara oleh pasukan Barat di Tripoli, kata pejabat puncak Vatikan di ibu kota Libya itu kepada kantor berita Katolik pada Kamis, dengan mengutip keterangan saksi.

"Gempuran yang katanya untuk kemanusiaan itu menewaskan puluhan warga di beberapa lingkungan di Tripoli," kata Giovanni Innocenzo Martinelli, Vikaris Apostolik Tripoli. "Saya mengumpulkan beberapa laporan saksi dari sejumlah orang terpercaya. Secara khusus, di lingkungan Buslim, akibat pemboman itu, sebuah bangunan warga runtuh, menyebabkan kematian 40 orang," katanya kepada Fides, kantor berita lengan misionaris Vatikan.[REPUBLIKA.CO.ID,Jumat, 01 April 2011]
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Memangnya SBY bisa apa dengan adanya Agresi Militer di Libya oleh Amerika cs

Sebagaimana di beritakan di vivanew: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono lagi- lagi angkat bicara kali ini terkait kondisi terakhir di Libya yang makin memburuk paska serangan yang dilancarkan pasukan koalisi Dewan Keamanan PBB yang dipimpin Amerika Serikat mulai Minggu, 20 Maret 2011 lalu. dimana amerika cs udah membombardir Libya dengan senjata-senjata canggih mereka dan banyak rakyat sipil yang menjadi korban atas agresi militer ini.

Menurut Yudhoyono, hingga saat ini situasi Libya sangat memperihatinkan, kekerasan terjadi di mana-mana, merenggut korban. "Indonesia berpendapat, kedaaan seperti ini tak boleh dibiarkan," kata SBY di Kantor Presiden, Selasa 29 Maret 2011.

Ditegaskan SBY, harus ada langkah-langkah baru yang dilakukan dunia internasional untuk menghentikan krisis Libya. Yudhoyono mengatakan, terkait Libya, ia pernah menulis surat kepada Sekjen PPB tanggal 24 Februari. "Intinya karena waktu itu kekerasan dari kedua pihak yang bertikai makin menjadi, maka saya mengusulkan kepada PPB dan masyarakat internasional untuk segera mengambil langkah mengakhiri kekerasan dan menjaga keselamatan."

Untuk diketahui, serangan rudal Koalisi Internasional ke Libya adalah untuk menerapkan zona larangan terbang seperti yang diatur dalam resolusi Dewan Keamanan PBB 1973. Mereka setiap hari menggempur sasaran-sasaran militer rezim Muammar Khadafi di Libya. Misi itu bertujuan untuk mencegah serangan lebih lanjut dari rezim Khadafi kepada rakyat Libya dan untuk melemahkan kemampuan rezim dalam melawan zona larangan terbang.

Menurut SBY, meski merupakan implementasi dari revolusi DK PBB Nomor 1973, ada dua elemen dalam resolusi itu yang kurang diangkat dan barang kali tak banyak diketahui. Yakni, "perlunya segera dilakukan gencatan senjata. Itu amanah dari resolusi 1973. Kedua, segera dicari satu solusi politik satu solusi damai," urai SBY.

Untuk itulah, SBY menyerukan pada dunia, juga PBB agar kedua elemen bisa segera diwujudkan. "Indonesia berharap PBB tetap mengambil peran dan inisiatif melibatkan pula organisasi kawasan dalam hal ini Uni Afrika dan juga Liga Arab. Dan melibatkan negara-negara di mana konflik terjadi." (vivanews, 29 maret 2011)

jiah....ujung-ujung cuma menyeru doang chape dech.... inilah akibatnya jika negeri-negeri muslim terkotak-kotak dalam NASIONALISME, mereka tercerai-berai, lemah tak punya kekuatan. Sehingga saat saudara-saudaranya di bantai dinegeri lain pemerintah negeri ini tak mampu berbuat apa-apa kecuali hanya bisa menyeru atau andai mau membantu hanya bisa membantu dengan medis, kalaupun mereka mau kirim militer paling2 hanya jadi jongosnya PBB yang ujung-ujungnya cuma jadi boneka AS.

Mungkin udah gak terhitung berapa kali kita mengingatkan, kita itu kudu menegakkan KHILAFAh biar ummat ini kuat. bayangkan pak dengan menyatukan seluruh negeri Islam dalam sebuah KHILAFAH , kekuatan ummat Islam akan sangat luar biasa. Dari potensi ekonomi, dari segi kekayaan alam negeri-negeri Islam merupakan negeri yang sangat kaya. Dunia Islam mengendalikan 60 % cadangan minyak dunia, Boron (40%), Fosfat (50%), Perlite (60%), Tin (22%), dan bahan alam penting lainnya seperti Uranium. Negeri-negeri Islam secara geografis menempati posisi yang strategis di dunia, terutama jalur laut. Kaum muslim menguasai daerah-daerah lalu lintas dunia yang penting, seperti Gibraltar di Mediterania barat, Terusan Suez di Mediterania Timur, selat Balb al-Mandab di Laut Merah, selat Dardanelles dan Bosphourus yang menghubungkan jalur laut Hitam ke Mediterania, menguasai selat Hormuz di Teluk. Di timur terdapat selat Malaka yang merupakan lokasi strategis di Timur Jauh. Selama ini Baratlah yang menguasai daerah-daerah strategis tersebut dengan berbagai alasan.

Dengan penyatuan dunia Islam, kekuatan bersenjata Negara Khilafah Islam akan sangat luar biasa. Dengan jumlah umat Islam di dunia yang lebih dari satu miliar, militer Negara Khilafah akan menjadi angkatan bersenjata yang sangat kuat. Seandainya satu persen saja direkrut jumlah tentara Islam lebih dari 10 juta. Tentu saja tidak hanya jumlah, Negara Khilafah Islamiyah akan berpikir keras untuk mengembangkan teknologi militer yang canggih. Dari segi sumber daya, kaum muslim memiliki pakar-pakar, ahli sains, serta ahli teknologi yang sangat banyak dan berkualitas. Turki dan Mesir saja memiliki lebih dari 560 ribu ilmuwan dan teknisi. Masalahnya selama ini potensi SDM yang luar biasa ini tidak digunakan untuk kepentingan Islam. Hal ini disebabkan negeri-negeri Islam tidak memanfaatkan mereka secara optimal. Negara Khilafah Islam tentu akan sangat serius untuk mengembangkan SDM ataupun sains dan teknologinya. Kekuatan sains dan teknologi tentu saja merupakan suatu perkara yang harus secara serius dipersiapkan untuk menaklukkan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya.

nah sekarang kalo mau menyeru, pak SBY serukan aja kepada seluruh pemimpin negeri-negeri muslim agar bersatu dengan pak SBY untuk menegakkan Khilafah. lalu kalian kirim militer kalian ke Libya....pasti Amrik CS bakalan lari terbirit-birit...
wallohu a'lam bisshowab..
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Ini Dia Inti Pidato Obama soal Libya

WASHINGTON, Presiden Barack Obama menyatakan Senin malam bahwa campur tangan Amerika Serikat di Libya untuk mencegah pembantaian warga sipil yang akan membuat hati nurani dunia ternodai. Namun dia menolak penargetan Moammar Qaddafi dalam serangan itu. Ia menyebut, penggunaan kekuatan militer untuk menjatuhkan Qaddafi akan menjadi kesalahan mahal seperti perang di Irak.

Obama mengumumkan bahwa NATO akan mengambil alih komando operasi Libya pada Rabu, menjaga janjinya untuk mendapatkan hasil yang cepat. Ia tidak memberikan perkiraankapan konflik akan berakhir dan tidak bersedia memberi rincian tentang biaya walaupun anggota parlemen menuntut jawaban atas hal itu.

Dia menolak untuk label kampanye militer pimpinan AS sebagai "perang". Ia menyebut intervensi di Libya sebagai keharusan untuk menjaga Qaddafi dari membunuh warga sipil yang melawan dia dan untuk mencegah krisis pengungsi yang akan mendorong warga Libya ke Mesir dan Tunisia, dua negara berkembang yang kini juga direpotkan dengan pemberontakan mereka sendiri.

"Untuk menyisihkan tanggung jawab Amerika sebagai pemimpin dan - lebih mendalam - tanggung jawab kita terhadap sesama manusia, berdiam diri artinya akan menjadi pengkhianat bagi kemanusiaan," kata Obama. Dia berbicara dalam pidato televisi di depan audiens anggota militer dan diplomat.

"Beberapa negara mungkin dapat menutup mata terhadap kekejaman di negara-negara lain. Amerika Serikat berbeda," kata Obama. "Dan sebagai presiden, saya menolak untuk menunggu gambar pembantaian dan kuburan massal sebelum mengambil tindakan."

Pidatonya adalah usaha yang paling agresif untuk menjawab pertanyaan dari kubu Republik, partainya sendiri, dan publik AS yang telah letih berperang.

Di AS, publik terpecah menyikapi keterlibatan AS di Libya. Sebuah jajak pendapat Pew pada Senin menemukan bahwa masyarakat tidak berpikir Amerika Serikat dan sekutunya memiliki tujuan yang jelas di Libya - 39 persen mengatakan mereka setuju dan 50 persen mengatakan mereka tidak setuju.[republika, 29 maret 2011]

comment:

hahaha....si Obatmag lagi jualan obat ya? gak ngaca dia kayaknya. ngomongnya sok, belagak manis, bergaya pahlawan, padahal sebenarnya dia dkk adalah makhluk-makhluk IMPERIALIS KOLONIALIS yang haus akan Minyak Libya....
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Ongkos Sekutu di Libya: 1 Tomahawk Rp 8,7 M, Pesawat F-15E Jatuh Rp 261 M

Rudal Tomahawk
Operasi militer Sekutu terhadap Libya memakan ongkos mahal. Bahkan, pemerintah Amerika Serikat (AS) kewalahan dengan biaya operasi yang begitu besar dan tengah meminta bantuan bagi Pentagon yang ‘kekurangan dana’ akibat operasi itu.

Salah seorang anggota Senat dari Partai Demokrat, Carl Levin, yang juga merupakan Ketua Komisi Senat Angkatan Bersenjata, menyatakan pihaknya telah mendesak Departemen Pertahanan agar segera melaporkan perkiraan akurat mengenai biaya operasi militer tersebut. Hal ini menyusul munculnya perkiraan kasar biaya operasi yang cukup tinggi, yakni mencapai US$ 1 miliar.

Seperti dilansir washingtonpost.com, Rabu (23/3/2011), operasi militer Libya ini merupakan operasi yang menggunakan biaya tak terduga dan anggarannya berada di luar anggaran rutin Pentagon. Sehingga diperlukan adanya alokasi tambahan secara khusus. Tidak seperti biaya operasi AS di Irak dan Afghanistan yang dianggarkan secara khusus dan terpisah dari anggaran rutin Departemen Pertahanan.

Biaya operasi di Libya ini sebenarnya sudah ditekan seminimal mungkin. Namun, pengeluaran untuk senjata, bahan bakar dan kendaraan atau persenjataan yang hilang turut menyumbang banyak dalam membengkaknya biaya operasi militer ini.

Perlu diketahui, sebanyak 162 peluru kendali (rudal) Tomahawk yang diluncurkan pada 4 hari pertama operasi militer Odyssey Dawn (Fajar Odyssey) di Libya saja memakan biaya sekitar lebih dari US$ 1 juta (Rp 8,7 miliar) per rudal. Jumlah ini terus bertambah karena rudal tersebut harus diganti dengan yang baru lagi.

Kemudian, pesawat tempur F-15E yang jatuh di Libya pada Selasa (22/3) lalu, ternyata memakan biaya sekitar US$ 30 juta (Rp 261 miliar). Biaya ini akan bertambah karena harus mengganti pesawat tersebut dengan yang masih baru.

Jumlah tersebut masih ditambah lagi oleh biaya bahan bakar bagi pesawat tempur yang berjumlah kurang lebih 150 buah. Belum lagi bahan bakar bagi kapal pengangkut bahan bakar yang membawa bahan bakar bagi pesawat-pesawat tersebut.

Para ahli dari Pusat Penilaian Strategis dan Anggaran AS merilis hasil studi yang memperkirakan, bahwa penetapan pembatasan zona larangan terbang di Libya memakan biaya sekitar US$ 30 - 100 juta setiap minggunya. Biaya tersebut merupakan biaya bagi patroli pesawat-pesawat di zona larang terbang Libya.

Jika AS kewalahan, lain halnya dengan Inggris. Konon, biaya operasi militer Inggris di Libya yang diberi nama ‘ELLAMY’ mencapai 3 juta Euro per harinya, atau setara dengan Rp 36,9 miliar per hari. Jumlah tersebut diungkapkan oleh seorang ahli pertahanan Inggris kepada independent.co.uk, Selasa (22/3).

Jumlah tersebut termasuk biaya 120 rudal jelajah yang diluncurkan tentara Inggris di Libya pada Sabtu (19/3) lalu, di mana setiap rudalnya berharga lebih dari 500 ribu Euro atau setara dengan Rp 6,1 miliar.

Ditambah lagi dengan biaya tambahan dari patroli udara di zona larangan terbang dan menekan pasukan Khadafi di daratan. Untuk setiap jamnya, patroli udara tentara Inggris di Libya menggunakan pesawat Tornado GR4 dan Typhoon memakan biaya 35 ribu dan 70 ribu Euro masing-masing (sekitar Rp 400 juta - 800 juta).

Jumlah-jumlah tersebut tidak termasuk biaya yang harus dikeluarkan jika ada kerusakan atau kerugian akibat pesawat jatuh selama operasi berlangsung.

Ongkos yang mahal ini jugalah yang mendorong AS untuk segera menyerahkan komando penyerangan kepada Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang terdiri dari 28 negara. Dengan dikendalikan NATO, maka makin banyak negara yang ‘urunan’ dalam operasi militer di Libya. Apalagi AS masih harus mengongkosi operasi tentaranya di Irak dan Afghanistan. (detiknews.com, 25/3/2011)
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Amerika dan Sekutunya Gunakan Bom Uranium di Libya

Aliansi Anti-Perang Inggris mengkonfirmasikan penggunaan bom-bom yang mengandung uranium oleh Amerika Serikat dan sekutunya dalam serangan ke Libya.

Kantor berita Fars melaporkan, David Wilson, anggota Aliansi Anti-Perang Inggris dalam artikelnya yang dimuat di situs aliansi tersebut menulis, “Hanya dalam 24 jam pertama setelah serangan koalisi pasukan Barat ke Libya, pesawat pembom Amerika Serikat menjatuhkan 45 bom raksasa ke Libya. Bom-bom itu dijatuhkan berbarengan dengan penembakan rudal cruise oleh kapal tempur Inggris dan Perancis. Seluruh bom dan rudal itu dilengkapi dengan hulu ledak yang mengandung uranium yang telah diperlemah.”

Uranium yang telah diperlemah merupakan sisa-sisa dari proses pengayaan uranium. Jenis uranium yang telah diperlemah ini digunakan untuk memproduksi senjata nuklir. Menyusul zat ini memiliki kemampuan destruktif yang besar jika digunakan dalam bom, maka dari sisi militer uranium yang telah diperlemah menjadi bahan yang cukup bernilai tinggi.

Selain mampu menembus lapisan baja pada badan tank, bom yang menggunakan uranium juga sangat berbahaya karena beracun dan mengandung zat radioaktif.

Menteri Luar Negeri Inggris, William Hague mengklaim, “Kami di Libya demi menjaga warga sipil dan kawasan-kawasan pemukiman.”

Hanya dalam 24 jam pertama, Amerika Serikat dan Inggris telah mengeluarkan dana hingga lebih dari 100 juta pound untuk menggunakan persenjataan yang dilengkapi dengan uranium yang telah diperlemah.[hizbut-tahrir.or.id, Amerika dan Kroni Gunakan Bom Uranium di Libya]
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Seorang Wanita Diduga Diperkosa 15 Tentara Qadafi Mabuk Whisky

Tripoli, Pemerintah Libya menangkap seorang wanita yang berlari menuju hotel untuk memberitahu wartawan asing bahwa pasukan Libya telah memperkosanya. Wanita itu kini sudah dibebaskan dan kembali ke keluarganya pada Ahad (27/3).
Iman al-Obeidi, nama wanita tersebut, telah ditangkap oleh pengawal pemerintah setelah menceritakan kisah pemerkosaannya kepada wartawan asing yang banyak menginap di hotel tersebut. Dia mengatakan bahwa tentara telah menahan dirinya di pos pemeriksaan. Dirinya diikat ke atas, dilecehkan, lalu dibawa pergi untuk digilir.

Pemerintah mengatakan empat orang sudah diinterogasi dalam kasus ini. Salah satunya adalah putra seorang pejabat tinggi negara.

Juru bicara pemerintah, Moussa Ibrahim, mengatakan bahwa wanita itu seorang pelacur yang menolak untuk menjalani pemeriksaan medis. Wanita itu sudah dibebaskan dan telah kembali ke adiknya di ibukota Libya.

"Gadis ini adalah pelacur. Dia memiliki hak-haknya sepenuhnya,'' kata Moussa. ''Kejadiannya tidak seperti yang diberitakan semula. Ini (pelacur, red) adalah garis kerjanya," katanya.

Moussa menandaskan tidak ada aksi pemerkosaan. Ia mengatakan masalah gadis tersebut hanyalah soal penyerangan tentang masalah adat Libya. "Ini tentang kehormatan keluarga anak-anak dan orang-orang," kata Moussa kepada wartawan.

Sementara, Al-Obeidi sebelumnya mengatakan bahwa dia ditahan oleh sejumlah tentara di sebuah pos pemeriksaan Tripoli pada Rabu. Tentara tersebut meminum wiski dan memborgolnya. Tentara yang berjumlah 15 orang itu kemudian memperkosanya.

"Mereka mengikat saya ... mereka bahkan berak dan kencing pada saya," katanya sambil berlinang air mata. "Para anggota milisi Muamar Qadafi melanggar kehormatan saya."

Saat menceritakan kisahnya tersebut, karyawan hotel dan aparat keamanan datang dan langsung menyeret Al-Obeidi keluar hotel. Adegan cepat berbalik kacau. Wartawan mencoba untuk melindungi wanita dari pengawal pemerintah yang secara fisik menyerang dan mengintimidasinya.

Jurnalis yang mencoba untuk menolongnya itu didorong keluar dari jalan oleh pengawal. Seorang wartawan televisi Inggris dipukul. Kamera CNN dihancurkan ke tanah oleh pengawal.[republika, 28 March 2011]
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Al Muzzammil: Obama Sama Saja dengan Bush

Obama or Bush
JAKARTA, Koordinator Kaukus Parlemen Indonesia untuk Palestina, Al Muzzammmil Yusuf menilai, serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat beserta sekutunya ke Libia yang menewaskan banyak warga sipil merupakan wajah sesungguhnya dari kebijakan politik luar negeri AS.
"Obama dan Bush itu sama saja hanya beda gaya kepemimpinan. Substansi kebijakan luar negerinya sama. Mereka hendak mengeruk keuntungan dari krisis di negara yang kaya dengan minyak. Mereka tidak peduli dengan krisis kemanusiaan di Libia," ujar Muzzammil di Gedung DPR Jakarta, Kamis (24/3).

Tujuan AS dan sekutunya dalam agresi militer di Libya bukan untuk membantu rakyat Libia agar keluar dari krisis namun untuk menunjukkan hegemoni AS di Timur Tengah dan kepentingan pragmatisnya untuk minyak Libia.

Muzzammil minta masyarakat dunia, terutama Indonesia agar jangan tertipu dengan sosok Obama yang bagus dalam orasi dan diplomasinya ke negara-negara muslim. Serangan militer yang dilancarkan oleh AS merupakan gaya penjajahan lama dari sekutu Barat untuk menggulingkan sebuah negara muslim dengan cara-cara yang tidak manusiawi.

Kadhafi memang harus diadili. Namun tidak dengan cara agresi militer. Agresi Militer ini hanya akan menimbulkan masalah baru yang lebih besar bagi rakyat Libia," ujar politisi Partai Keadilan Sejahtera ini.

Jika dibandingkan dengan bertahun-tahun warga Palestina ditembaki dan dirampas kebebasannya oleh militer Israel yang merupakan sekutu AS dan agresi militer Israel terhadap rakyat Palestina di Gaza sejak 2007 telah menewaskan lebih dari 1.400 orang, kebanyakan warga sipil serta merusak atau bahkan menghancurkan lebih dari 50 ribu rumah, 800 unit industri dan 200 sekolah, AS sama sekali tidak berupaya mencegahnya.

"Kebiadaban Israel ini terjadi sampai saat ini dimana warga sipil di Gaza ditembaki tanpa tindakan tegas dari AS dan sekutu Barat terhadap Israel," ujarnya.

"Selama AS membiarkan Israel melakukan penjajahan terhadap rakyat Palestina, maka jangan pernah berpikir bahwa AS adalah negara yang menjunjung tinggi hak asasi manusia. AS selalu menerapkan standar ganda yang merugikan umat muslim di dunia," demikian Muzzammil. (mediaindonesia, 24 Maret 2011)
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Walah, AS dan NATO akan Persenjatai Oposisi Libya

21 Rabiul Akhir 1432 / 26 March 2011

WASHINGTON, Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya sedang mempertimbangkan memasok senjata-senjata ke oposisi Libya, menurut laporan The Washington Post Sabtu.
Pemerintah Presiden AS Barack Obama percaya bahwa resolusi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang memberikan kewenangan intervensi internasional di Libya memiliki 'keluwesan' untuk mengizinkan bantuan seperti itu, kata surat kabar itu, mengutip para pejabat AS dan Eropa yang tak disebut namanya.

Menurut The Post, Gene Cretz, duta besar AS yang baru-baru ini ditarik dari Libya, mengatakan para pejabat pemerintah telah melakukan pembahasan-pembahasan penuh mengenai "bantuan potensi kita bisa diberikan, baik pada non senjata maupun senjata mematikan.
Tapi tidak ada keputusan yang telah dibuat, menurut surat kabar itu.

Perancis mendukung latihan dan mempersenjatai para pemberontak, kata laporan itu.

Obama akan menyampaikan pidato mengenai strategi Libyanya pada Senin, kata Gedung Putih Jumat, pada saat pasukan koalisi melancarkan gelombang serangan udara terbaru dan serangan rudal terhadap pasukan rezim Libya.

Pesawat-pesawat tempur sekutu melakukan penggerebekan Jumat malam di kota Zliten, 160 kilometer (100 mil) sebelah timur Tripoli, dan di kawasan el Watiya barat, Libya, menurut televisi pemerintah. Satu tempat militer di pinggiran timur Tajura Tripoli juga dalam kobaran api setelah tiga ledakan besar mengguncang kabupaten itu.


Menurut pengumuman Gedung Putih, Obama akan berbicara kepada bangsa dari Universitas Pertahanan Nasional di Washington, pada pukul 19:30 waktu setempat untuk memperbarui kampanye-kampanye Amerika sejauh ini, mengenai rencana untuk menyerahkan kontrol wilayah itu kepada NATO, dan "kebijakan kita ke depan."


Pada Jumat, presiden AS juga memberi penjelasan kepada pemimpin penting Kongres mengenai operasi itu.[republika]
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

60% Rakyat Amerika Mendukung Intervensi di Libya

Sebuah jajak pendapat menunjukkan bahwa 60% rakyat Amerika mendukung operasi militer yang dilakukan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di Libya, dalam rangka memberlakukan zona larangan terbang guna melindungi warga sipil dari pasukan yang setia kepada Kolonel Muammar Gaddafi.

Jajak pendapat yang dilakukan oleh “Reuters/Ipsos”, yang hasilnya dirilis pada hari Kamis (24/3) menunjukkan bahwa 48% responden menilai kepemimpinan militer Presiden Barack Obama dalam kapasitasnya sebagai Panglima Tertinggi Pasukan AS sebagai pemimpin “yang berhati-hati dan tidak keras kepala”.

Sementara 36% responden menilainya sebagai pemimpin “yang tidak tegas dan peragu”. Dan 17% responden menilainya sebagai pemimpin “yang kuat dan tegas”. Sedangkan 99% responden dalam jajak pendapat tersebut mengatakan: “Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya harus berupaya untuk menggulingkan pemimpin Libya, Muammar Gaddafi.”

Jajak pendapat ini dilakukan tiga hari setelah dimulainya serangan pengeboman yang dilancarkan terhadap Libya di bawah pimpinan Amerika Serikat pada hari Sabtu lalu (islamtoday.net, 24/3/2011).
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

NATO Pimpin Operasi Larangan Terbang Libya

Jum'at, 25 Maret 2011
Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) sepakat untuk memimpin operasi zona larangan terbang di Libya. Namun, NATO tidak sampai ikut-ikutan Koalisi membombardir wilayah Libya.

Menurut kantor berita Associated Press, keputusan itu diumumkan Sekretaris Jenderal NATO, Anders Fogh Rasmussen, di Belgia, Kamis malam waktu setempat (Jumat dini hari WIB).

Kesediaan NATO ini sesuai dengan harapan Amerika Serikat (AS), yang sejak 19 Maret lalu melancarkan operasi zona larangan terbang, sekaligus serangan udara dan rudal atas fasilitas militer rezim Muammar Khadafi di Libya, di bawah bendera Koalisi Internasional bersama dengan Inggris, Prancis, dan negara-negara lain. Ketiga negara itu juga merupakan anggota NATO.

NATO diperkirakan mengambil alih kendali operasi zona larangan terbang dalam kurun waktu 72 jam. Koalisi Internasional tetap akan beroperasi, yaitu terfokus pada misi pengeboman atas kekuatan militer Khadafi dalam rangka melindungi warga sipil Libya, seperti yang diamanatkan dalam resolusi Dewan Keamanan PBB 1973.

"Saat ini akan ada operasi Koalisi dan operasi NATO," kata Rasmussen. "Kami sedang mempertimbangkan apakah NATO harus mengemban tanggungjawab yang lebih luas, sesuai dengan resolusi Dewan Keamanan PBB. Namun, keputusan itu belum dicapai," lanjut dia.

Kesediaan NATO memimpin operasi zona larangan terbang di Libya muncul setelah melalui debat selama berhari-hari di kalangan anggotanya. Keputusan NATO itu baru muncul setelah disetujui semua anggota, yang berjumlah 28 negara.

Kesepakatan NATO atas operasi di Libya itu baru terjadi setelah terjadi kompromi. Sebagai anggota, Turki sebenarnya keberatan bila NATO harus ikut campur. Namun, muncul titik temu setelah Turki dan para anggota lain sama-sama sepakat bahwa operasi NATO hanya sebatas menjaga zona larangan terbang, dan tidak ikut dalam serangan jet tempur atau rudal yang dilakukan Koalisi. 

Sementara itu, Uni Eropa sepakat untuk siap membantu pemulihan kembali Libya dari krisis. Namun, misi pemulihan itu juga harus melibatkan Perserikatan Bangsa-bangsa, Liga Arab, Uni Afrika, dan pihak-pihak lain.(vivanews)
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Serangan Koalisi di Libya, Korban Tewas Sipil Mencapai 100

Lelaki Libya pulang dari memakamkan
korban serangan pasukan koalisi
Jumat, 25 Maret 2011
Sementara itu di Tripoli Libya menyatakan, jumlah korban sipil yang tewas akibat serangan udara koalisi selama lima hari ini telah mencapai hampir 100, dan Tripoli menuduh negara-negara Barat berperang untuk membantu pemberontak.
Mussa Ibrahim, seorang juru bicara pemerintah, juga mengatakan, Libya yakin pasukan Barat berencana menyerang prasarana siarannya, mungkin pada Kamis malam.

"Apa yang terjadi saat ini adalah negara-negara Barat berperang di pihak pemberontak. Ini tidak diizinkan oleh resolusi PBB," katanya kepada wartawan.

"Kami telah menerima informasi intelijen bahwa prasarana siaran dan komunikasi kami akan menjadi sasaran, mungkin malam ini, oleh serangan-serangan udara..." lanjut juru bicara itu.

"Ini jika terjadi, sangat tidak bermoral dan ilegal. Ini adalah sasaran-sasaran sipil," tegasnya. Ibrahim menyatakan, jumlah kematian sipil akibat serangan-serangan udara sekutu "mendekati 100".(republika)
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Tokoh Demokrat dan Republik Kecam Obama

Presiden Amerika Serikat Barack Obama berjuang melawan kecaman politik atas peran tentara AS di Libya.

Obama kembali ke Washington dari Amerika Latin beberapa jam lebih awal dari yang direncanakan pada Rabu (23/3/2011). Ia dikecam di dalam negeri selama lawatan lima hari ke luar negeri, dimulai saat hari pertama peluru kendali AS dikirim ke Libya.

Banyak tokoh Demokrat dan beberapa dari Republik menyatakan tidak diajak berembuk sebelum serangan pimpinan AS terhadap Libya dimulai dan mempertanyakan dasar hukum kemelut tersebut.

Anggota parlemen menuntut jawaban tentang tujuan gerakan tersebut sebenarnya, waktu yang diperlukan, dan biayanya, serta kepentingan utama keamanan negara adidaya itu.

“Terserah mereka mau sebut apa ini. Kita berperang, sementara masih bergerak di dua medan lain, yang membutuhkan sumber daya dan jangka waktu lama,” kata John Larson, Ketua Kaukus Demokrat di DPR dalam tanggapannya di CNN.com.

“Seluruh Kongres seharusnya lebih mendapat penjelasan dan terlibat dalam keputusan itu,” katanya.

Pada Selasa malam lalu, 161 peluru kendali jelajah ditembakkan ke Libya. Tiap satu peluru kendali senilai 1 juta dollar AS (sekitar Rp 9 miliar). Ini dinilai mahal untuk dipakai saat pemotongan anggaran sedang dirundingkan di Washington, dan Obama mencoba meredakan perang panjang dan mahal di Irak dan Afghanistan.

“Ini akan menjadi bencana lain. Kita harus berhenti menghabiskan harta Amerika Serikat dalam petualangan tentara itu dan mulai mengurus hal di sini, di dalam negeri,” kata anggota liberal Demokrat di DPR, Dennis Kucinich, kepada Fox News.

Obama membela gerakan itu pada temu wartawan di San Salvador. “Amerika Serikat, dengan kemampuan khas kami, harus menanggapi peristiwa di seluruh dunia sebagai pemimpin dalam masyarakat dunia,” katanya.

Obama dan pembantunya berusaha meyakinkan rakyat AS bahwa peran negara itu akan terbatas dalam cakupan dan waktu, pasukan darat tak akan diturunkan, dan AS akan mengalihkan peran utama kepada sekutunya dalam hitungan hari.

Namun, para pengecam mempertanyakan apakah langkah AS ini dapat benar-benar surut seperti keinginan Obama, terutama jika pemimpin Libya tetap berkuasa.

Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Libya tidak menuntut ia pergi. Bahwa sementara Obama mengatakan ia ingin Khadafy digulingkan, itu bukan tujuan pengerahan tentara.

“Presiden harus membuat beberapa jalan keluar untuk membawa kami keluar dari kekacauan ini,” kata Jenderal (Purnawirawan) Barry McCaffrey kepada MSNBC. “Apa tujuan politiknya? Apa yang kita lakukan di sana? Apa akhir dari permainan ini?”

Sementara itu, pakar strategi Demokrat, Bud Jackson, mengatakan bahwa rakyat Amerika Serikat akan memberikan dukungan selama peran negara ini bersifat jangka pendek.

“Sekarang, kebanyakan orang Amerika melihat ini sebagai upaya terbatas dan terancang baik dengan harapan menyelamatkan nyawa. Jika ini berlarut-larut, maka saya pikir tingkat kecemasan rakyat akan naik,” katanya. (kompas.com, 24/3/2011)
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Pasukan Koalisi Serang Permukiman, Banyak Warga Sipil Libya Tewas

Kantor berita negara Libya JANA Rabu mengatakan, bahwa serangan-serangan pasukan koalisi di permukiman penduduk di timur ibu kota menewaskan “sejumlah besar” warga sipil.

“Bombardemen-bombardemen dilakukan oleh tentara agresor kolonialis di wilayah Tajura di Tripoli ditargetkan pada satu permukiman penduduk … menewaskan sejumlah besar warga sipil,” katanya, mengutip seorang perwira militer.

Tajura dihantam tiga kali, kata kantor berita itu, dan menambahkan bahwa serangan ketiga “ditargetkan pada para penolong yang berusaha untuk memindahkan orang-orang yang mati dan terluka dari puing-puing serta kehancuran yang disebabkan oleh dua serangan pertama.”

Mobil-mobil ambulans terdengar di Tripoli pusat dan di Tajura, menurut koresponden AFP.
Sebelumnya, saksi mengatakan kepada AFP bahwa sebuah ledakan besar terdengar di satu pangkalan militer di wilayah Tajura 32 kilometer (sekitar 20 mil) di timur Tripoli dan api terlihat di kompleks tersebut.

Tajura adalah rumah bagi pangkalan militer Libya yang paling penting dan diserang oleh pasukan sekutu pada hari Sabtu, hari pertama operasi militer diluncurkan terhadap Libya untuk memaksakan larangan terbang PBB pada negara itu. (republika.co.id, 24/3/2011)

Komentar :

Intervensi asing di Libya sesungguhnya lahir dari sikap brutal penguasa diktator yang selama ini menjadi agen Barat yang kemudian dicampakkan oleh Barat. Kondisi ini diperparah dengan sikap diam dan pengecut penguasa negeri-negeri Islam membebaskan rakyat Libya dari penderitaan. Ketiadaan Khilafah menjadi penyebab semua ini terjadi dan berulang-ulang terjadi.
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Merampok Minyak Libya

Krisis di Libia kini memasuki tahap menentukan dan mengerikan. Peperangan tidak cuma melibatkan pasukan pemerintahan Khadafi dan oposisi, tapi juga tentara koalisi Barat yang untuk sementara dipimpin Amerika Serikat. Dengan berbekal mandat Dewan Keamanan PBB lewat Resolusi Nomor 1973, pasukan koalisi Barat, terutama militer Prancis dan Inggris, sejak Sabtu (19/3) sampai kemarin, terus menggempur posisi pasukan pemerintahan Khadafi.

Celakanya, Resolusi 1973 yang sesungguhnya membatasi aksi militer pasukan koalisi di Libia hari demi hari justru tidak dipatuhi koalisi Barat. Zona larangan terbang, bandara militer, dan basis militer pasukan Khadafi merupakan wilayah tempat koalisi Barat bisa menggelar aksi militer. Nyatanya, gempuran mematikan juga terjadi di wilayah-wilayah yang dipadati warga sipil.

Aksi koalisi Barat itu mengundang kecaman banyak pihak. Liga Arab, yang awalnya memang meminta campur tangan pasukan koalisi Barat di Libia, mulai menyuarakan ketidaksukaan mereka atas aksi militer itu. Berbeda dengan serbuan ke Irak, serbuan ke Libia bukanlah terutama agenda Amerika Serikat, melainkan agenda utama Prancis, disusul Inggris, barulah kemudian AS, mengikuti urutan kepentingan perusahaan minyak negara tersebut di Libia.

Koalisi Barat, yang selalu memanggul panji-panji demokrasi dan hak asasi manusia di kawasan yang sedang dilanda krisis, kembali menciptakan tragedi kemanusiaan. Jika dibandingkan dengan invasi ke Irak yang sesuka Presiden Bush, kali ini sepertinya agak sopan dengan meminta persetujuan PBB. Namun, substansinya sama, yaitu berdalih menyelamatkan kemanusiaan dengan menghancurkan kemanusiaan dan serentak dengan itu, mencaplok kekayaan minyak.

Serangan ke Libia juga memiliki motif untuk menyingkirkan perusahaan minyak China dari Libia. Menggulingkan Khadafi yang mereka sebut diktator hanyalah alasan. Begitulah, kepentingan menguasai energi melenyapkan nilai-nilai kemanusiaan sehingga tidak peduli sekalipun dengan membunuh warga sipil yang tiada berdosa. (mediaindonesia.com, 24/3/2011)
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Cerita Ibrahim, Setelah 20 Tahun Ditahan di Penjara Rezim Libya yang Mengerikan

Setelah menjalani hidup di dalam penjara rezim Qadzafi selama 20 tahun, Ibrahim (45) beserta lima orang saudaranya akhirnya menghidup udara bebas. Dua puluh tahun lalu, mereka ditangkap dengan tuduhan "pandangan politik yang menyimpang rezim" dan dijebloskan di penjara "Bousalem".
Bagi rakyat Libya, penjara "Bousalem" merupakan tempat yang angker dan mengerikan. Bisa jadi serupa penjara Nusakambangan atau Buru di Indonesia. Penjara tersebut sangat terasing dan terletak jauh di kawasan Timur Libya, di provinsi Ajadiya, sekitar 180 KM dari Benghazi atau sekitar 1180 KM dari ibu kota Tripoli.

Ibrahim dijebloskan di penjara tersebut karena pandangan politiknya. Tak hanya itu saja, kelima saudaranya pun ikut-ikutan dijebloskan, meski pun mereka tak ikut-ikutan dan tak tahu menahu pasal pandangan politik Ibrahim.

"Saya dipenjara karena saya mengkritik sistem pendidikan Libya. Saya katakan, sistem pendidikan di negeri saya bermasalah. Hanya karena perkataan tersebut, saya ditangkap sebuah barigadir militer rezim Qadzafi dan dijebloskan ke Bousalem," kata Ibrahim sebagaimana dikutip surat kabar al-Masry al-Youm (23/3).

Ditambahkan Ibrahim, barigadir militer Qadzafi pun tak hanya menciduk dirinya saja, tetapi juga lima saudaranya yang lain. "Mereka padahal tak tahu apa-apa, tak punya salah apa-apa. Tapi segala puji bagi Allah. Allah lah yang akan menjungkalkan setiap pemimpin tiran. Revolusi pun berkobar di Libya," lanjutnya.

Ibrahim dan tahanan lainnya bisa keluar dari penjara pasca meledaknya revolusi Libya sejak 17 Februari silam, dan setelah satuan oposisi menduduki dan menguasai kota Ajadiya, termasuk di dalamnya penjara Bousalem.

Pasca kebebasannya, Ibrahim dan alumnus penjara Bousalem lainnya segera bergabung dengan garda revolusi Libya.

"Kami akan terus berperang untuk menggulingkan rezim Qadzafi yang tiran. Kami tidak takut pada rezim. Yang kami takutkan, justru ketika perjuangan revolusi ini akan sia-sia," kata Ibrahim.(eramuslim, 23/03/2011)
.........Lihat Selengkapnya