Tampilkan postingan dengan label rajab. Tampilkan semua postingan

gravatar

Spesial INFO Konferensi Rajab 1432 H di Stadion 17 Mei Banjarmasin Kalimantan Selatan

Masa Depan Dunia Milik Umat Islam

HTI Press. Konfrensi Rajab 2 Juni 2011yang diadakan di Stadion 17 Mei Banjarmasin merupakan pembuka dari rangkaian agenda Rajab 1432 H di Indonesia yang mengangkat tema “Hidup Sejahtera di Bawah Naungan Khilafah.”

Acara ini menampilkan orasi syabab Hizbut Tahrir baik dari Kalimantan Selatan dan Jakarta. Setelah opening speech yang disampaikan oleh Ketua DPD I HTI Kalsel, Ustadz Baihaki al-Munawar, S.Hut,  anggota DPD I HTI Kalsel Mispansyah SH, MH  menyampaikan orasi “Indonesia di Tengah Kapitalisme Global.” Pada orasi pertama ini, Mispansyah menyatakan hingga saat ini Indonesia berada dalam cengkraman kapitalisme global. Cengkraman melalui dua cara. Pertama melalui penjajahan fisik yakni dilakukan dengan jalan perang dan pendudukan. Kedua melalui penjajahan non fisik dengan penerapan Sekularisme dan Kapitalisme dalam sistem kehidupan dan pemerintahan.

Orator kedua, Ali Imran, S.Pd dari DPD II HTI Banjarbaru berbicara tentang solusi untuk mengentaskan problematika yang dihadapi umat. Umat Islam kata Ali Imran merupakan khayru ummah, seperti yang disebutkan Allah dalam Suran Ali Imran ayat 110. “Umat Islam dimana saja mereka berada, semestinya mereka menjadi panutan”, tandas Ali Imran. Namun saat ini justru umat Islam menjadi pesakitan, menderita, terhina, dan teraniaya.

Pangkal keterpurukan umat Islam tersebut kata beliau disebabkan tiadanya Khilafah sebagai institusi politik Islam yang menaungi umat dan melindungi dari rongrongan para penjajah. Sehingga jawaban atas keterpurukan umat Islam adalah dengan menegakkan kembali sistem khilafah. “Sudah saatnya, kita saling menyatukan sumber daya yang kita miliki untuk menegakkan Khilafah Islam”, pungkas beliau.

Memasuki orasi selanjutnya, para hadirin diajak untuk menyimak gambaran Khilafah yang mensejahterakan. HUMAS DPD II HTI Hulu Sungai Selatan, Abdul Haris, S.Pd dengan retoris menanyakan kepada umat yang hadir dalam Konferensi Rajab 1432H, “apakah para hadirin menginginkan akidah, keselamatan, para muslimah, dan generasi muda terlindungi? Kepada siapa berharap semua itu terwujud kecuali pada Khilafah?” tandas beliau.

Menurut Abdul Haris, dengan ditegakkannya Khilafah maka umat akan terlindungi kesucian agamanya,  terlindungi keselamatan dirinya, terlindungi akalnya, terlindungi kehormatannya, terlindungi hak miliknya. Pada masa lalu kehidupan umat dalam sistem khilafah sangat sejahtera. Beliau mencotohkan, gaji guru sebesar 15 dinar atau setara Rp 25 juta.

Sementara Hidayatullah Muttaqin, SE, MSI yang juga Ketua Lajnah Siyasiyah DPD I HTI Kalsel tampil sebagai orator keempat menyampaikan orasi tentang potensi Khilafah sebagai negara adidaya masa depan. Beliau menjelaskan meskipun dunia saat ini berada dalam dominasi Kapitalisme global yang menjadi penyebab kesengsaraan umat manusia, sesungguhnya ideologi ini dan negara-negara Barat yang menjadi pengusungnya sedang menghadapi krisis internal dan mendorongnya ke dalam jurang kehancuran. “Dibiarkan saja Kapitalisme pasti akan runtuh, apalagi jika umat bersatu menumbangkannya dengan menegakkan sistem Khilafah”, seru Hidayatullah Muttaqin.

Menurut beliau, potensi umat Islam sangat besar untuk bangkit jika umat mengadopsi ideologi Islam dan mewujudkannya dalam sisem khilafah. Dari sisi demografi jumlah umat terus tumbuh dan berkembang jauh meninggalkan pertumbuhan penduduk di Barat. Bahkan ada 20 negara Barat yang pertumbuhannya nol dan negatif. Kini jumlah umat telah mencapai angka 1,57 milyar jiwa atau hampir ¼ penduduk dunia.

Dari sisi ekonomi dan sumber daya alam, negeri-negeri Islam menguasai cadangan energi dunia dan bahan mentah. Cadangan minyak bumi di negeri-negeri Islam mencapai 72% cadangan dunia, sedangkan cadangan gas  61,45% cedangan dunia.

Jika tentara yang ada di negeri-negeri Islam digabungkan, jumlahnya mencapai 27% dari seluruh tentara yang ada di seluruh dunia. Sementara tentara Amerika hanya 7,1% saja. Begitu pula jika digabungkan tentara dari Brazil, Rusia, India, dan China, jumlahnya 24% masih di bawah jumlah tentara negeri-negeri Islam. “Dengan potensi yang besar ini, maka masa depan dunia adalah milik umat Islam”, kata Hidayatullah.

Di samping orasi dari syabab  Hizbut Tahrir dari Kalimantan Selatan, juga turut tampil sebagai orator dari DPP HTI. Ustadz Fathiy Syamsuddin Ramadhan an-Nawiy yang berbicara mengenai janji Allah akan tegaknya Khilafah. “Di antara janji Allah SWT yang diberikan kepada umat Islam adalah istikhlaf fi al-ardh. Istikhlaf fi al-ardh bermakna menjadi penguasa atau pengatur urusan manusia (khalifah atau imam) di seluruh dunia” tandas Ustadz Syamsuddin dengan merujuk pada al-Qur’an surah an-Nur 55.

Menurut Ustadz Syamsuddin, banyak sekali hadis-hadis sahih yang mengabarkan kabar gembira (bisharah) kepada kaum Muslim tentang kekuasaan Islam yang mencakup seluruh muka bumi. “Semua ini menunjukkan bahwa Khilafah Islam merupakan janji Allah yang paling agung bagi kaum Mukmin. Pasalnya, dengan tegaknya kekuasaan Islam ini (Khilafah Islam), agama Allah SWT bisa ditegakkan secara sempurna, dan keamanan kaum Muslim bisa diwujudkan secara nyata,” serunya.

Selanjutnya sebagai orasi penutup, Ustadz Harits Abu Ulya yang juga Ketua Lajnah Siyasiyah DPP HTI menyampaikan Seruan Hangat Hizbut Tahrir kepada Umat. Ustadz Harits menyampaikan sesungguhnya tegaknya Khilafah Islam merupakan kewajiban syariah atas seluruh kaum Muslim. Kewajiban ini bersifat mengikat; tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali melaksanakannya.

Ustadz Harits memberikan contoh bagaimana para sahabat menunda pemakaman Rasulullah SAW karena mereka sedang berkumpul di Saqifah Bani Sa’i'dah untuk memilih dan mengangkat seorang khalifah. “Ini menjadi salah satu bukti bahwa tegaknya Khilafah merupakan perkara paling utama dan harus diprioritaskan oleh kaum Muslim. Khilafah bahkan menjadi alqadhiyyah al-mashîriyyah bagi kaum Muslim. Pasalnya, penegakan Khilafah menyangkut perkara ‘hidup dan matinya’ Islam dan kaum Muslim”, kata Ustadz Harits Abu Ulya. [DPD I HTI Kalsel]
 
Ulama Kalsel Dukung Khilafah

HTI Press. Selain orasi dari para aktivis HT, para hadirin juga menyimak testimoni dari para ulama. Pada sesi testimoni ini tampil ke depan KH. Abdul Wahab Syahrani, S.Ag., MM, Ust. Abdul Hafidz, Ust. H. Kafandi Fadhali.

KH. Abdul Wahab Syahrani yang pertama memberikan testimoni mengungkapkan mau kemana umat, setelah mengetahui kewajiban meneggakkan syari’ah dan khilafah. Pengasuh Pondok Pesantren Ibnu Mas’ud Putra Jarau Kab. Hulu Sungai Selatan pun menandaskan semoga konfrensi Rajab menjadi pertemuan terakhir, karena setelah ini Khilafah yang mengikuti sunnah Nabi akan tegak kembali untuk kedua kalinya.

Sementara Ust. Abdul Hafidz mengingatkan bahwa syarat utama tegaknya Khilafah adalah ketaatan dalam segala hal. Oleh karenya umat Islam harus menjauhi praktek-praktek yang menyalahi syari’at Islam.

Adapun Ust. H. Kafandi Fadhali menyampaikan Khilafah Islam mesti diperjuangkan dengan metode yang sesuai syari’ah Islam. Beliau pun mengajak para ulama, mubaligh-mubalighah untuk mendukung dan berjuang bersama Hizbut Tahrir. Mengganti demokrasi dengan syari’ah dan khilafah.

Sebagai penutup testimoni, secara simbolis para ulama tersebut menyerahkan al liwa dan ar raya kepada para aktivis Hizbut Tahrir untuk menyatakan dukungannya kepada Hizbut Tahrir dalam dakwah mengembalikan kehidupan Islam.[DPD I HTI Kalsel]

Ribuan Kaum Muslim Kalsel Serukan Tegaknya Khilafah

HTI Press. Lebih dari 8.000 kaum Muslim menghadiri Konferensi Rajab 1432 H di Stadion 17 Mei Banjarmasin, Kamis (2/6). Mereka berasal dari berbagai elemen umat di wilayah Kalimantan Selatan seperti Tanjung, Amuntai, Barabai, Kandangan, Rantau, Martapura, Pelaihari, Batulicin, Marabahan, Banjarbaru, dan Banjarmasin.

Ribuan kaum Muslim mengikuti acara demi acara tanpa beranjak dari tempat duduknya. Mereka mengikuti dengan seksama seruan tegaknya Khilafah. Orasi pembicara dan testimoni ulama yang disertai tabuhan bedug bertalu-talu dan berirama semangat kemenangan Islam menambah semangat tersendiri kepada hadirin.  Pekik takbir dan seruan: “Khilafah! Khilafah! Khilafah!” berulang kali  diteriakkan oleh para peserta disertai kibaran Liwa dan Royah.

Ketua DPD I HTI Kalsel ustadz Baihaki al-Munawar dalam pidato sambutannya menyampaikan sebelum diruntuhkannya khilafah oleh imperialis Inggris pada 28 Rajab 1342 atau 3 Maret 1924, umat Islam pernah berjaya dan memimpin peradaban dunia. Mengutip Will Durant dari bukunya The Story of Civilization, Ketua DPD I HTI mengingatkan bahwa pada masa Khilafah dulu, para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan manusia. Sistem khilafah mampu menjamin masyarakatnya hidup sejahtera. Sementara kehidupan umat Islam saat ini melarat dan tercabik-cabik dalam 57 negara.

Ia berharap, Konferensi yang mengangkat tema “Hidup Sejahtera dalam Naungan Khilafah” menjadi pendorong umat untuk merekonstruksi masa depan peradaban Islam dalam sistem khilafah. Konferensi ini diadakan untuk mengajak umat bersatu dalam visi, tekad, dan langkah untuk tegaknya Khilafah Islamiyah.

Sementara itu, Harits Abu Ulya, Ketua Lajnah Siyasiyah DPP HTI yang datang dari Jakarta dalam orasinya menyampaikan Hizbut Tahrir didirikan untuk memperjuangkan tegaknya Khilafah. Hizbut Tahrir memandang ketiadaan institusi politik Islam ini merupakan problem terbesar bagi umat Islam. Sudah 90 tahun (kalender hijriyah - red) umat Islam hidup tanpa naungan Khilafah. Padahal adanya Khilafah adalah sebuah kewajiban.

Ia menekankan, kaum Muslim di mana pun berada harus mengambil peran untuk tegaknya khilafah. Menegakkan khilafah merupakan amal terbesar bagi setiap Muslim saat ini. “Jika tidak sekarang kapan lagi memberikan dukungan?” tandasnya.

Sementara itu dalam testimoninya, KH. Abdul Wahab Syahrani, S.Ag, MM yang juga pengasuh Pondok Pesantren Ibnu Mas’ud Putra Jarau Kab. Hulu Sungai Selatan, berkata: “Apa yang harus kita lakukan sekarang adalah memperjuangkannya dengan mengikuti perjuangan Rasulullah SAW. Kita tidak boleh takut kepada Amerika, kita hanya takut kepada Allah SWT dalam perjuangan ini”.

Konferensi Rajab hari ini juga diramaikan aksi teatrikal oleh para pemuda Islam yang berupaya menggambarkan keadaan umat Islam tanpa Khilafah. Sebuah pesan penting yang disampaikan dalam aksi teatrikal ini adalah betapa pentingnya penegakan khilafah dalam menyatukan seluruh potensi umat untuk meraih kemuliaan Islam dan kesejahteraan, serta melenyapkan penjajahan.

Konferensi Rajab 1432 H yang diselenggarakan DPD I HTI Kalimantan Selatan ini merupakan acara pembuka dari rangkaian konferensi akbar yang diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia selama bulan Juni. Konferensi yang mengambil momentum peristiwa yang terjadi di bulan Rajab diselenggarakan di seluruh kota besar Indonesia dari ujung Timur Jayapura hingga ujung Barat Banda Aceh, dan puncaknya pada 29 Juni di Stadion Lebak Bulus Jakarta. [hizbut-tahrir.or.id]
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Jelang Konferensi Rajab Kalsel, Permintaan Tiket Masuk Tinggi

Konferensi Rajab 1432 H yang akan diselenggarakan oleh DPD I HTI Kalsel tinggal menghitung jam saja. Kegiatan yang bertemakan “Hidup Sejahtera di Bawah Naungan Khilafah” itu sedianya berlangsung pada hari Kamis, 2 Juni 2011 di Stadion 17 Mei Banjarmasin.

Dari pantauan HTI Press Online (31/5), seluruh persiapan sudah hampir selesai. Di antaranya Panitia sudah mulai mendirikan panggung yang berukuran 6 kali 12 meter, tepat di tribun utama. Demi kenyamanan peserta, panitia juga mendirikan 60 tenda di seluruh tribun terbuka.

Menyinggung antusias peserta, Budi Priono, Ketua Panitia mengatakan, kapasitas seluruh tempat duduk telah penuh dipesan peserta yang mencapai 8000 orang. Peserta berasal dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan yang meliputi 13 Kabupaten-Kota.

Bahkan hingga menjelang hari H permintaan tiket masuk terus berdatangan. Hanya saja karena pendaftaran telah ditutup senin malam (30/05/2011), panitia dengan berat hati tidak bisa memenuhinya. Namun bagi warga Kalsel yang tidak mendapatkan tiket masuk, keseluruhan jalannya acara tetap bisa dinikmati melalui siaran langsung via streaming yang dapat diakses di situs resmi Hizbut Tahrir Indonesia.

“Ada beberapa orang yang meminta tiket masuk, namun terpaksa kita tolak, karena pendaftaran telah ditutup senin malam. Tetapi tidak perlu kecewa, karena acara ini disiarkan langsung via streaming, di www.hizbut-tahrir.or.id“, jelas Budi kepada HTI Press Online.

Acara Konfrensi Rajab 1432 H pada tanggal 2 Juni 2011 nanti turut dihadiri oleh Pimpinan DPP HTI, para Ulama, pimpinan Ponpes, pimpinan Majlis Ta’lim, dan kaum Muslimin Kalsel dari berbagai elemen lainnya. Acara juga bertambah semarak, karena akan menampilkan aksi teatrikal dan tabuh bedug dari Islahul Ummah, juara festival bedug kabupaten banjar.

Konfrensi Rajab 1432 H yang diadakan di Banjarmasin ini merupakan pembuka dari kegiatan serupa yang dilaksanakan secara estafet di seluruh nusantara. Puncak dari agenda Rajab ini akan dilangsungkan pada hari Rabu, 29 Juni 2011 bertempat di Stadion Lebak Bulus, Jakarta.[hizbut-tahrir.or.id, 1 June 2011]
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Teaser Konferensi Rajab 1432 H



MARI KITA SONGSONG 
KEBANGKITAN KHILAFAH
SUKSESKAN 
KONFERENSI RAJAB 1432 H

Oleh 
Hizbut Tahrir Indonesia
Bersama Ummat
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Product miaubook untuk mensukseskan Konferensi Rajab

IPAD anti Pornografi
Laptop Ideologis
*miauberry
dipersembahkan untuk anda para perindu Syariah dan KHILAFAH.....perindu Mardhotillah....
Allohu Akbar.....!!!!
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Rajab oh Rajab....


Bulan isra' mi'raj....bulan ujian keimanan bagi ummat akan mukjizad Rosululloh

dan dibulan itu Pula ummat Islam telah kehilangan kekuatan...perisai pelindung yang pernah Rosul dan Para Shohabat perjuangannya. itulah Daulah Islam yang menerapkan Syariah Islam yang Kaffah...

Daulah Islam sepeninggal Rosululloh di lanjutkan oleh Para Shohabat yang kemudian disebut sebagai Daulah Khilafah Islamiyyah...

namun pada akhirnya tepatnya pada 28 Rajab 1342 H, Khilafah akhirnya dibubarkan oleh antek kafir Mustafa Kamal...

dan saat ini kita berjuang untuk mengembalikannya, dan sepantasnyalah kalian sebagai seorang Muslim dengan penuh kesadaran juga berusaha memperjuangkannya.

memperjuangkan tegaknya Syariah Islam dalam sebuah institusi KHILAFAH ISLAMIYYAH....

Allohu Akbar...!!!

.........Lihat Selengkapnya

gravatar

28 Rajab 1342 H, kisah Pedih yang Belum Terobati......

Bulan Rajab ,
bulan Isra’ Mi’raj Rosullah saw. Isra Mi’raj adalah ujian keimanan untuk membuktikan siapa yang benar-benar yakin akan kekuasaan Allah , siapa yang tidak. Siapa yang seutuhnya menyakini apa-apa yang disampaikan Rosulullah saw, siapa yang tidak.

bulan dimana terjadi Perang Tabuk,Perang ini merupakan peperangan yang terakhir selama hidup Nabi. Dalam perang ini 3 Shohabat bersedia berkorban Harta yang begitu besar. Abu Bakar menginfakkan 40.000 dirham, Umar menyedekahkan seperdua dari nilai kekayaannya, dan Utsman pun begitu.

Pada bulan ini juga, ummat Islam kehilangan suatu perkara yang amat penting, yakni runtuhnya Khilafah Islamiyah . Lebih dari 80 tahun, tepatnya tanggal 28 Rajab 1342 H (3 Maret 1924) Khilafah dihancurkan oleh Penjajah Inggris dengan bantuan kaki tangan setianya la’natullah ‘alaih Mustafa Kamal.

Sejak itu, umat Islampun didera oleh berbagai penderitaan yang tiada berkesudahan hingga saat ini. Semua ini terjadi sejak Khilafah Islamiyah tidak ada lagi. Benar apa yang dikatakan oleh Imam Ahmad ra : ” Adalah fitnah (bencana) jika sampai tidak ada seorang Imam (Kholifah) yang mengatur urusan rakyat”.

Sungguh benar apa yang dikatakan Imam al Ghozali dalam kitabnya al Iqtishod fi al I’tiqod. Imam Al Ghozali mengatakan agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Agama adalah fondasi dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi (tidak didasarkan pada agama) niscaya akan runtuh. Segala sesuatu yang tidak memiliki penjaga (tidak ada Khilafah) niscaya akan hilang atau lenyap.

Beberapa bencana yang dialami umat Islam tanpa Khilafah antara lain :
Bencana yang pertama adalalah dalam bidang aqidah. Ketiadaan khilafah Islam telah membuat umat Islam tidak lagi bisa melaksanakan hukum-hukum Allah SWT secara sempurna. Padahal melaksanakan hukum Allah SWT dalam segala perkara adalah wajib dan merupakan konsekuensi keimanan seorang mukmin. Saat ini sebagian besar umat Islam diatur berdasarkan hukum kufur , yakni kapitalisme sekuler. Padahal dengan sangat jelas Allah SWT berfirman menyebut kafir bagi siapapun yang tidak mau diatur oleh hukum Allah SWT (QS Almaidah : 44). Bagaimana kita mempertanggungjawabkan keimanan ini dihadapan Allah SWT ?

Ketiadaan Khilafah juga telah mengancam aqidah ummat. Demokrasi, HAM dijadikan Tuhan baru pengganti hukum Allah SWT. Ada yang dengan sombong menolak hukum Allah SWT seperti hukuman mati dengan alasan HAM. Ada pula yang rela mati membela HAM ajaran sesat seperti Ahmadiyah. Dengan alasan sekulerisme menolak penerapan hukum Allah SWT diterapkan oleh negara. Ketiadaan Khilafah juga membuat umat tidak lagi memiliki pelindung aqidah umat ini. Dengan alasan kebebasan beragama, kristenisasi berkembang subur di negeri-negeri Islam. Akibatnya tidak sedikit umat Islam yang murtad (keluar dari Islam).

Bencana kedua, hukum Allah SWT terlantarkan. Hukum Allah SWT tidak mungkin diterapkan secara sempurna tanpa negara Khilafah. Khilafah adalah institusi politik yang menerapkan syariah Islam. Sekarang ini syariah Islam hanya diterapkan dalam masalah moral, ritual, atau individual. Sebaliknya dalam bidang politik,ekonomi, pendidikan, sosial, tidak lagi. Hukum Allah diganti dengan hukum sekuler kapitalisme. Padahal Allah SWT telah memerintahkan kita untuk menerapkan seluruh hukum Allah SWT tanpa kecuali.

Bencana ketiga, umat Islam terpecah belah. Khilafah adalah kepemimpinan tunggal bagi umat Islam seluruh dunia. Ummat Islam dilarang memiliki lebih dari seorang pemimpin negara. Rosulullah SAW dengan tegas mengatakan : “Jika dibai’at dua orang Kholifah, maka bunuhlah yang paling akhir dari keduanya,” (HR Muslim) . Kesatuan kepemimpinan sangatlah penting. Karena akan menentukan kesatuan pemikiran, perasaan, dan kesatuan gerak. Bayangkan kalau dalam kapal ada dua kapten kapal yang sama-sama memimpin , dalam rumah tangga ada dua pemimpin, pastilah muncul kekacauan. Karena itu kesatuan kepimpinan umat Islam di seluruh dunia menjadi sangat penting.

Ketiadaan Khilafah membuat umat Islam memiliki banyak pemimpin atas nama negara bangsa (nation state). Umat Islam terpecah belah menjadi negara-negara bangsa yang kecil dan lemah dihadapan negara adi daya kapitalis. Negara-negara itu pun semakin memperlemah dirinya karena hanya memikirkan kepentingan masing-masing dengan pemimpin yang menjadi kaki tangan asing. Padahal siapapun pasti paham semboyan : bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.

Lihatlah apa akibatnya umat Islam yang jumlah lebih 1,5 milyar diseluruh dunia menjadi sangat lemah dihadapan negara-negara penjajah. Umat Islam bagaikan anak ayam yang kehilangan induk, tidak ada yang memimpin. Menghadap Israel yang jumlah penduduknya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan negara-negara Arab saja kita tidak mampu. Irak diporak porandakan oleh AS, sementara negara-negara muslim disekitarnya diam saja.

Bencana ketiga, umat Islam kehilangan pelindung. Dalam Islam fungsi penting Kholifah adalah melindungi umatnya. Rosulullah saw bersabda : ” Sesunggunya Imam/Kholifah itu laksana perisai, tempat orang-orang berperang dibelakangnya dan berlindung kepadanya”. (HR Muslim). Ketiadaan khilafah telah membuat nyawa umat Islam demikian murah dihadapan negara-negara Imperialis. Padahal dimata Allah , hancurnya bumi beserta isinya ini lebih ringan dibanding terbunuhnya seorang muslim, sekali lagi seorang muslim tanpa alasan yang hak.

Puluhan ribu umat Islam dibantai di Bosnia, 1 juta orang terbunuh sejak pendudukan AS di Irak, puluhan ribu rakyat sipil terbunuh di Afganistan. Detik demi detik tentara zionis Israel dengan sombong menumpahkan darah umat Islam di Palestina. Kami tegaskan semua ini terjadi karena tidak ada lagi yang melindungi umat ini. Dimana pelindung umat ? Dimana Kholifah yang melindungi umat ?

Kekayaan alam negeri Islam pun tidak ada yang melindungi. AS atas nama demokrasi masuk ke Irak merampok minyak Irak yang sepenuhnya milik umat Islam. Korporasi asing bermewah-mewahan mendapat keuntungan luar biasa dengan harga minyak yang naik. Padahal mereka mendapat minyak dengan cara merampok dan membunuh umat Islam. Atas nama pasar bebas (free market) , kebebasan investasi, atas nama pembangunan , kekayaan alam Indonesia yang merupakan pemilikan umum (al milkiyah al amah) seperti minyak, gas, batu bara dirampok oleh negara-negara Kapitalis. Padahal semua itu adalah milik rakyat. Akibatnya umat Islam miskin menderita, meskipun negeri mereka kaya.

Negeri Islam pun terancam dipecah belah atas nama otonomi, faderasi, atau kebebasan menentukan nasib sendiri. Timor Timur lepas. Aceh, Maluku, dan Papua dalam kondisi yang potensial lepas dari Indonesia. Sudan Selatan (Darfur ) diprovokasi Barat untuk memisahkan diri dari Sudan atas alasan HAM. Irak hendak dibagi menjadi tiga negara berdasarkan ikatan promordial sunni,syiah, dan Kurdi. Sekali lagi kami tegaskan semua ini terjadi karena tidak ada Khilafah yang melindungi umat dan negara mereka.

Kesucian dan kemuliaan umat ini pun tidak ada yang melindungi. Rosulullah saw , Rosulnya 1,5 umat Islam di dunia dihina dituduh maniak sek dan teroris. , Al Qur’an dicampakkan ke toilet. Wanita-wanita muslimah pun terjebak pada eksploitasi kapitalisme yang menjual tubuh mereka. Generasi muda terancam narkoba dan seks bebas. Atas nama HAM, lesbian dan gay yang dilaknat Allah SWT justru dilindungi oleh negara kapitalis. Mereka dengan sombong dan arogan mempertontonkan kemaksiatan mereka dan menolak dikatakan menyimpang.

Bencana yang keempat, umat Islam tidak ada lagi yang sungguh-sungguh mengurus dan mengatur mereka. Padahal Islam dengan sangat tegas mengatakan bahwa fungsi Imam adalah bagaikan penggembala yang mengurus rakyatnya dengan serius, amanah dan bertanggung jawab. Karena itu dalam Islam, Khilafah wajib menjamin kebutuhan pokok masyarakat sandang, pangan, dan papan. Pendidikan dan Kesehatan gratis.

Ketiadaan Khilafah, membuat umat Islam diatur oleh sistem sekuler Kapitalis. Akibatnya bisa dilihat di depan mata dengan sangat jelas dan nyata. Kemiskinan terjadi dimana-mana. Pendidikan mahal, kesehatan mahal. Umat tidak ada lagi yang mengurus. Mereka hidup bagaikan tanpa negara. Alih-alih negara mengurus mereka. Negera justru lebih berpihak pada negara kapitalis.

Alih-alih mensejahterakan rakyat, negara menaikkan BBM yang membuat beban hidup rakyat semakin berat. Negara sekuler kapitalis ini justru taat mencabut subsidi untuk rakyat atas perintah IMF dan Bank Dunia meskipun rakyat menderita. Taat menjual meminjam hutang meskipun hutang telah menjerat negara. Taat menjual negara dengan alasan privatisasi sesuai dengan ‘fatwa’ konsensus Washington sementara rakyatnya miskin .

Karena itu, kita tidak punya pilihan lain. Sosialisme telah tumbang dan membawa derita. Kapitalisme justru menjadi pangkal penyebab berbagai bencana di dunia ini. Pilihan kita tinggal satu yakni Islam yakni dengan menerapkan syariah Islam lewat institusi negara Khilafah. Kita tidak punya pilihan lain kecuali itu. Pilihan Islam sebagai solusi inilah yang menyelamatkan kita di dunia dan akhirat. Berjuanglah terus, bersatulah bersama para pejuang Islam yang memperjuangkan syariah dan Khilafah tanpa lelah.

Insya Allah semua ini akan dicatat oleh Allah SWT sebagai pahala yang tiada bandingnya. Jangan sekedar menjadi penonton. Sebab tidak ada penonton yang mendapat tropi, yang mendapat tropi kemenangan adalah para pemain. ( di olah dari tulisan Ust. Farid Wadjdi dan beberapa sumber)
.........Lihat Selengkapnya