Tampilkan postingan dengan label bom. Tampilkan semua postingan

gravatar

Apakah MS benar-benar pelaku atau orang yang dikorbankan dalam keadaan tersandera pada misi pemboman masjid itu?

Tanda tanya besar terus menggelanyut di benak Sri Maliha (26 tahun), istri M Syarif (MS) -- yang tengah ramai dicitrakan sebagai pelaku bom bunuh diri di Masjid Az’Zikra, Markas Polres Cirebon, Jawa Barat, Jumat pekan lalu. Bukti keras memang menunjukkan, jasad MS ditemukan sebagai pria yang ‘’meledakkan diri’’ dan langsung tewas di lokasi kejadian.

Tapi, sebegitu jauhkah suaminya bertindak keji di Rumah Allah? ‘’Saya masih syok dan tidak percaya bahwa pelaku bom bunuh diri itu suami saya,’’ ujar perempuan yang sedang hamil sembilan bulan itu.

Wajahnya pun tampak pucat dan mata berkaca-kaca saat ditemui wartawan di rumah orang tuanya, Blok Senin, Desa Panjalin Kudul, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Sabtu pekan lalu.

Sri menceritakan, suaminya terakhir kali pulang ke rumah pada 2 April lalu dengan menunggang Yamaha Mio warna hitam. Sepeda motor tersebut diakui MS milik temannya.

Menurut Sri, saat kembali pergi meninggalkan rumah pada 3 April, suaminya hanya membawa dua stel pakaian di dalam tas warna hitam serta sejumlah uang. Namun, MS tidak mengatakan akan pergi ke mana dan sampai kapan. Ia hanya berjanji akan pulang jika anak mereka lahir.

‘’Mas Syarif juga berpesan agar saya menjaga diri dan kandungan dengan baik,’’ kata Sri.

Namun, janji pulang saat istrinya melahirkan, tidak akan pernah ditepati MS. Dia tewas dengan tuduhan tak terperikan: pelaku bom bunuh diri di Masjid Az Zikra Mapolresta Cirebon, saat para anggota kepolisian hendak menunaikan Shalat Jumat. Dalam peristiwa itu, 30 orang terluka, termasuk Kapolresta Cirebon, AKBP Herukoco.

Sri mengenal suaminya sebagai sosok laki-laki pendiam, pekerja keras, dan bertanggung jawab. Dia pun menilai aktivitas ibadah suaminya biasa-biasa saja, hanya sebatas taat shalat wajib lima waktu.

Hal senada diungkapkan ibu kandung Sri, Hj Warini. Dia menjelaskan, menantunya tersebut selama ini tidak pernah menunjukkan perilaku yang mencurigakan. ‘’Saya  sangat terkejut saat dia dikabarkan menjadi pelaku bom bunuh diri Cirebon,’’ katanya.

Awal perkenalan

Sri menuturkan, pertama kali mengenal MS melalui layanan pesat singkat (SMS) pada 2010. Tiba-tiba SMS itu masuk ke telepon selulernya dan  mengajak berkenalan. Kala itu Sri masih menjadi guru Taman Kanak-kanak (TK) Al Barokah, Cirebon.

Perkenalan itupun berlanjut pada hubungan yang lebih serius. Lima bulan kemudian, tepatnya 8 Agustus 2010, Sri dan Syarif akhirnya menikah. Yang menjadi wali pernikahan mereka adalah kakak kandung Sri yang bernama Agus. Pasalnya, ayah Sri, H Syarif, telah lama meninggal dunia.

Beberapa hari setelah menikah, pasangan pengantin baru itupun memutuskan untuk tinggal di sebuah rumah kontrakan di daerah Kedawung, Kabupaten Cirebon. Namun, karena Sri langsung hamil, mereka memilih pindah ke rumah orang tua Sri di Majalengka. Sri pun berhenti dari pekerjaannya sebagai guru TK.

Sementara MS, terpaksa harus bolak-balik Majalengka-Cirebon. Pasalnya, selama ini Syarif bekerja sebagai tenaga desain grafis. ‘’Tapi itupun tidak tetap. Dia baru bekerja jika ada pesanan spanduk atau baliho. Karena itu, penghasilannya juga tidak tetap,’’ tutur Sri.

Dia menambahkan, suaminya juga pernah bekerja di sebuah perusahaan percetakan foto di PGC Cirebon. Namun karena kios tempat suaminya mengalami kebakaran, pekerjaan tersebut hanya sempat dijalani selama beberapa hari.

Perempuan yang lulus dari Jurusan Bahasa Inggris Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Cirebon itu mengatakan, jam kepulangan suaminya tidak pasti setiap harinya, bisa siang, sore, ataupun malam. Jikapun ada pekerjaan yang belum selesai, maka MS akan menginap di rumah mertuanya di Kota Cirebon selama satu sampai dua malam.

‘’Kalau pulang menginap dari rumah ibunya di Cirebon, yang dia ceritakan paling mengenai ibunya yang suka bikin kue. Kue itu kemudian dibawanya ke sini,’’ ujar Sri.

Sri mengungkapkan, suaminya selama ini tidak pernah menceritakan aktivitas yang dijalaninya di luar rumah. Karenanya, dia tidak tahu siapa saja teman-teman MS ataupun kelompok organisasi yang diikutinya. Selain itu, dia juga tidak pernah melihat buku-buku agama yang //nyeleneh// ataupun hal-hal aneh dalam komputer milik suaminya.

Di tengah kebingungan keluarga MS yang menggunung, hari-hari ini rumah bercat warna kemerahan di Blok Senin, milik orang tua Sri, menjadi obyek tontonan masyarakat dan target utama peliputan  media. Aparat pun bertebaran, dan Densus 88/Antiteror datang melakukan penggeledahan.

Masyarakat setempat sangat terkejut mengetahui tetangga mereka nekat melakukan pemboman di dalam masjid. Namun, orang awam seperti mereka pun punya pertanyaan besar: Apakah MS benar-benar pelaku atau orang yang dikorbankan dalam keadaan tersandera pada misi pemboman masjid itu? (republika.co.id, Selasa, 19 April 2011, judul Asli: "Pertanyaan Besar Buat MS")

nb: lalu siapakah otak sebenarnya dibalik Bom Masjid tsb?
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Sungguh Keji, Israel Membombardir Gaza dengan Bom Fosfor

GAZA, Aksi brutal Israel yang terus membombardir Jalur Gaza dalam sepekan terakhir membuat Rumah Sakit Asy-Syifa, Gaza, tak mampu melayani korban yang terus berdatangan. Hingga hari ini, Senin (11/4), tercatat 20 orang gugur dan dan ratusan lainnya luka parah.

Dalam surat elektroniknya yang dikirimkan kepada Republika.co.id, Abdillah Onim (Ketua MER-C Indonesia Cabang Gaza) mengatakan sebagian besar korban luka akibat serangan Israel dalam kondisi kritis. “Mereka akan mengalami cacat seumur hidup, karena kehilangan beberapa anggota tubuh,” ujarnya.

Onim menambahkan, berbagai sumber medis di Gaza mengungkapkan bahwa serdadu Zionis kembali menggunakan senjata kimia terlarang berupa fosfor putih yang pernah digunakan pada 2008 dan 2009 lalu. “Bom fosfor putih sangat berbahaya dan menyebabkan kematian, karena setiap anggota tubuh yang terkena bom itu akan melepuh dan terbakar,” kata relawan MER-C yang hingga kini masih menetap di Gaza ini.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Gaza Basseem Naim, menyatakan Israel telah menggunakan senjata terlarang selama serangan beberapa hari ini.  Semua korban yang mengalami cedera terjadi hampir terbakar di seluruh bagian tubuh mereka. “Fakta ini menunjukkan bahwa tentara Zionis telah menggunakan senjata kimia fosfor putih dalam serangkaian serangan ke Gaza,” ujarnya.

Agresi sistematis dan terprogram Israel dilakukan tanpa pandang bulu dengan menargetkan serangan terhadap perempuan, anak-anak dan orang tua. Bahkan serangan Israel juga telah melukai tim medis.

Sebuah mobil ambulans dihajar rudal Israel ketika berusaha mengevakuasi korban. Serangan terhadap ambulans tersebut mengakibatkan tewasnya seorang paramedik, sedangkan pengemudinya dalam keadaan luka parah.

Naim mengaku heran dengan sikap masyarakat internasional yang membisu tatkala Israel secara membantai rakyat Palestina secara brutal. “Kami heran dengan kebisuan masyarakat dunia atas kejahatan Israel tersebut. Sementara mereka menekan Palestina agar tetap tenang dan tidak merespons aksi keji Israel,” kata Naim.

Rakyat Gaza Butuh Rumah Sakit
Selain itu, Naim juga meminta kepada otoritas Mesir, dalam hal ini kementerian kesehatan Mesir agar mau menerima beberapa korban untuk dirawat di Rumah Sakit di Mesir. Hal ini karena terbatasnya sarana dan prasarana yang tersedia di Rumah Sakit di Jalur Gaza. Naim khawatir, jika serangan ini terus berlanjut dan menelan banyak korban, maka Rumah Sakit di Gaza dipastikan takkan mampu menampung jumlah korban yang terus berjatuhan. “Keberadaan Rumah Sakit di daerah konflik seperti Gaza memang sangat mendesak, karena dipastikan korban akan banyak berjatuhan serta memerlukan penanganan segera,” ujarnya.

Oleh sebab itu, lanjut Naim, proyek pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza akan segera dimulai pembangunannya pada April 2011 ini akan sangat bermanfaat bagi para korban perang. Karena RSI ini didesain khusus untuk menangani berbagai korban yang mengalami trauma dan rehabilitasi serta membutuhkan penanganan segera.

Menurut Onim, RSI ini direncanakan akan dibangun dengan kapasitas 100 tempat tidur dengan ruang operasi yang cukup luas. Diharapkan Rumah Sakit yang dibangun dengan dana sumbangan rakyat Indonesia ini bisa membantu para korban perang di Jalur Gaza. “Sehingga mereka tak perlu lagi keluar dari Gaza, serta menempuh jarak yang cukup jauh untuk berobat,” kata lelaki asal Maluku yang baru-baru ini menikah dengan Muslimah Gaza itu. (republika.co.id, 11/4/2011)

LIHAT KEJADIAN SEBELUMNYA (mereka sudah berkali-kali menggunakan Bom Fosfor dan pernah menyerang Sekolah saat jam pelajaran berlangsung).
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

ISRAEL MENYERANG SEKOLAH DI GAZA, KETIKA MURID-MURID MASIH BELAJAR DI DALAM KELAS ! (Foto)


inilah salah satu bukti kebiadaban Bangsa kera / Yahudi 
Saat membantai anak-anak kaum Muslimin....
dengan menggunakan bom Fosfor









HANCURKAN ISRAEL....!!!
HAPUS MEREKA DARI PETA DUNIA...!!!
TEGAKKAN KHILAFAH...!!!
ALLOHU AKBAR...!!!
"Sesungguhnya, Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur`an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) dari Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar."
(at-Taubah: 111)

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah s.a.w bersabda: "Barangsiapa yang mati dan
dirinya tidak pernah berjihad dan tidak pernah meletakkan dalam dirinya keinginan
untuk berjihad maka dia mati dalam cabang kemunafikan.“
(Hadist Riwayat Imam Muslim)



.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Pak Hasyim jangan ikut-ikutan sembrono dong?!

Bom buku memang benar-benar bikin heboh, disaat lagi hangat-hangatnya Wikileaks memberi sedikit sentilan pada Penguasa negeri ini, eh...tiba-tiba "KABOOM"....bom buku meledak dibeberapa tempat.

banyak tokoh memberikan statemen / analisis terhadap kejadian ini. ada yang menilai bom ini hanyalah untuk mengalikan isu Wikileaks yang menyentil SBY, ada yang menuduh Terorislah pelakunya. salah satu yang memberi penilaian terhadap kejadian ini adalah Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars (ICIS), Hasyim Muzadi, beliau mengatakan paket ‘bom Ulil’ merupakan akibat dari dua kelompok ekstrem di Indonesia yang saling ‘meledakkan’. Ia mengatakan ada dua kelompok ektrem yang masuk ke Indonesia. “Dalam satu titik waktu, kedua kelompok ini akan saling meledakkan,” ujarnya dalam sebuah pernyataan, Selasa.

Kedua kelompok tersebut adalah ektrem keras kanan (tatorruf tasyadudi) dan ekstrem lunak/liberal yang pro-Barat (tatorruf tasahuli). “Ekstrem keras, sedikit-sedikit bilang ‘bunuh’, ‘serang’, ’kafir’, dsb. Di sisi lain, ekstrem sembrono/liberal yang suka bilang ‘Nabi Muhammad tidak maksum’ (terjaga dari kesalahan), ‘Alquran tidak sakral’, serta ‘banyak ayat-ayat Alquran yang expired sehingga perlu reformasi’, ‘Tuhan tidak perlu dibela’, ‘hak asasi di atas agama’, dsbnya,” ujar mantan ketua umum PBNU ini.

Ia mengatakan, dalam upaya saling ‘meledakkan’ tersebut, ekstrem keras menempuh cara antara lain mengirim ‘bom Ulil’. Sementara kelompok liberal akan menyerang dengan wacana ‘kebebasan tanpa bentuk’ atau mendorong kekuatan kekuasaan melakukan represi. “Kalau sudah meledak seperti sekarang ini, artinya akan berbuntut panjang yang memerlukan kewaspadaan nasional karena kedua visi itu telah merambah kemana mana. Penangannya harus komprehensif dan cermat karena sifatnya yang global.”

“Liberalisasi agama sebenarnya bersatu tubuh dengan liberalisasi politik dan ekonomi dalam menggerakkan dan mempengaruhi negara berkembang. Jadi jangan heran kalau JIL (Jaringan Islam Liberal) membela ahmadiyah, misalnya, karena ahmadiyah mengubah teks Alquran dan JIL tidak keberatan atas nama kebebasan,” lanjutnya.

Ia mengatakan sejak awal mengingatkan kepada kaum Muslimin Indonesia agar jangan ikut-ikutan terpengaruh ke dalam salah satu kelompok, apalagi masuk ke kelompok ekstrem agama .

“Baik ektrem keras maupun ektrem sembrono hakekatnya adalah gerakan global, bukan interinsik domestik indonesia, namun menggunakan indonesia sebagai lahan konflik. Sesungguhnya yang murni Indonesia adalah bukan keras bukan sembrono, tapi moderat.”(republika, 22 Maret 2011)

Bagi saya pernyataan pak Hasyim tersebut terlalu gagabah (kalo bahasa beliau "Sembrono") karena secara tidak langsung menilai gerakan anti JIL sebagai gerakan Global ekstrim keras  dan menganggap gerakan Moderat domestik indonesia lah yang benar.

Semoga pernyataan ini tidak dimakan mentah oleh ummat islam indonesia khususnya NU karena hal ini akan menyebabkan kesalahan dalam memahami islam. Agama Islam adalah agama yang Global, syariatnyapun Global tidak bersifat kewilayahan. Syariat Islam adalah sistem yang paten (yang disandarkan pada nash-nash Shahih) tidak bersifat sembrono ataupun Moderat.

Islam memiliki aturan yang Khas yang tidak membedakan suku, bangsa, warna kulit. Islam berlaku sama dimanapun kita dan siapapun kita selama kita sudah bersyahadat dan mengaku sebagai Muslim.

”Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dalam jamaah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS Ali Imran ayat 103)

“Bukan termasuk Ummatku orang yang mengajak pada Ashabiyah,dan bukan termasuk ummatku orang yang berperang atas dasar Ashabiyah,dan bukan termasuk ummatku orang yang mati atas dasar Ashabiyah.“(HR.Abu Dawud).


Islam adalah Islam, tidak ada bedanya islam Arab, islam Indonesia dst. islam bersifat global universal bukan  nasional. jika mau konsisten pada islam maka kita harus "No Compromise", jika Haram ya katakan haram jika halal yang katakan halal tanpa harus melihat suku bangsanya. kalau bukan Islam ya berarti kafir, menolak syariat Islam secara i'tiqod berarti Kafir....!!!


.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Bom Eksentrik dan Motifnya

Eksentrik, negeri ini seringkali mengalami kejadian-kejadian aneh. Keanehan yang juga lucu karena terkesan seperti drama ludruk. Ada pemain utama, pemain pengganti, dan sutradara yang berkuasa memainkan drama. Khalayak pun bertanya-tanya, ada apa gerangan? padahal ini nyata, meski terindikasi rekayasa dan penuh misteri.

Bali 20 Oktober 2002, Duarrr! “petasan raksasa” meledak di Paddy’s Bar dan Sari Club, efeknya terdengar sampai radius puluhan kilometer, jaring-jaring bangunan berterbangan ke udara hingga lima puluhan meter tingginya. Amrozi Cs terpilih menjadi pemain utama dalam lakon ini.

Namun ada yang aneh, unik bin ajib, ternyata bom itu memiliki daya ledak bak nuklir, mustahil dibuat oleh Amrozi Cs. Seorang ahli Eksplosif asal Inggris, Mark Ribband menyebut jika bom itu seperti berjenis C-4 yang berdaya powerfull. Ia bertutur “Bom C-4 diproduksi oleh beberapa negara, sedangkan produsen utamanya adalah AS dan Israel”. Jenderal Ryamizard Riyacudu (mantan KSAD) pernah mengatakan: “Saya yakin bahwa bom yang meledak di Bali adalah buatan luar negeri, dan bukan buatan orang Indonesia”.

Disusul Bom Bali 2, Tahun 2005. Ini pun juga banyak kejanggalan, diantaranya ialah adanya peringatan dini sebelum pengemboman, beberapa orang turis Australia mengaku diberi informasi untuk menjauhi dari pusat kawasan Kuta karena akan nada ledakan. Kejanggalan lain, adanya rekaman video yang cukup detail menggambarkan peristiwa tersebut, pihak pelaku terekam dari pertama ia duduk sampai bom meledak, arah kamera terus mengikuti gerak pelaku. Video inipun datangnya dari Australia.

Demikian halnya dengan kejadian-kejadian bom lainnya di berbagai tempat di Indonesia. Hingga yang terakhir, peristiwa menghebohkan saat ini berupa  bom buku. Bom yang diletakkan di dalam buku, dengan skala ledak kecil. Menyibak keanehan-keanehan tersebut, maka sangat wajar bilamana banyak pengamat menyimpulkan bahwa kejadian-kejadian teror tersebut hanyalah rekayasa belaka. Sebuah konspirasi tingkat tinggi dengan berbagai motifnya.

Konspirasi bisa pula bermakna persekongkolan. Di Oxford Advanced Learner’s Dictionary pada 1995, konspirasi memiliki arti “sebuah rencana rahasia oleh sekelompok orang untuk melakukan sesuatu yang ilegal atau merugikan”. Bisa ditambahkan ” untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu”. Pertanyaannya, apa saja motif tersebut?

1. Alasan memerangi teroris

Kampanye perang melawan teroris digalakkan oleh AS sejak tagedi WTC yang menewaskan ribuan orang. Inilih alasan utama AS gencar memerangi pihak yang menurutnya teroris, alias teroris dalam definisi AS itu sendiri. Seiring waktu berjalan, berhembus bahwa G Bush (Mantan Presiden AS) berada dibalik pengeboman WTC tersebut.

Logika lurusnya, jika hendak memerangi teroris, maka sudah barang tentu harus ada tindakan teror ditempat tersebut. Jika tidak ada tindakan teror, berarti tidak ada alasan untuk melawan teroris. Maka harus ada atau diadakan. Minimal harus ada pihak yang diimagekan teroris.

Disamping itu Indonesia juga merupakan salah satu Negara yang mendapat kucuran dana dari asing untuk memerangi teroris.Dibuat pula sebuah detasemen khusus yang menangani terorisme yakni Densus 88. Lembaga ini menurut mantan ketua YLBHI, Munarman, berdasarkan dokumen Human Right Watch tentang Counter Terorism yang dilakukan AS, pembentukan Den 88 di Indonesia pada tahun 2002 tersebut didanai AS sebesar 16 juta dollar, dan sebelumnya pada tahun 2001 Polri telah menerima dana untuk penanganan terorisme sebesar 10 juta dollar.

Menurutnya, data ini konkrit, diambil dari dokumen sekunder, dokumen primer, dan juga dokumen dari Departemen Pertahanan AS tentang counter terorism budget (eramuslim.com06/06/07). Artinya jika ingin dana terus mengucur, maka dia harus tetap bekerja, “tak bekerja tak mendapat gaji”. Jika tidak ada peristiwa teror atau penangkapan diduga teroris, berartii seperti tak bekerja.

2. Pengalihan isu

Acapkali muncul isu terorisme adalah saat dimana opini yang berkembang sedang dalam posisi mengancam kekuasaan dan juga sekitar kekuasaan. Selanjutnya opini tersebut hilang seperti ditelan bumi dikarenakan tertutup oleh isu terorisme.

Berapa kasus krusial tertutup oleh isu terorisme ini, sebagai contoh: protes atas kasus kebijakan kenaikan BBM, Rekening gendut, skandal Century, penjualan aset nagara semacam Krakatau steel. Terbaru adalah heboh pemberitaan Koran The Age dan Sidney Morning tentang presiden RI, serta kasus-kasus yang lainnya.

Tak heran bilamana ketua PP Muhammadiyah kepada republika (17/3) menyatakan bahwa fenomena bom buku memiliki indikasi kuat merupakan bentuk pengalihan isu dan perhatian masyarakat dari masalah-masalah strategis yang hingga kini tak terselesaikan.

3. Menyerang Ideologi Islam

Peristiwa terorisme seringkali selalu dikait-kaitkan dengan ideologi Islam. Presiden SBY menegaskan tujuan dari para teroris adalah mendirikan negara Islam. Menurut SBY, pendirian negara Islam sudah rampung dalam sejarah Indonesia. Hal ini disampaikan pada keterangan persnya di Bandara Halim Perdanakusumah sebelum berkunjung ke Singapura dan Malaysia, bulan Mei tahun lalu.

Mantan Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri ketika mengomentari kasus “terorisme Aceh” beberapa waktu yang lalu mengatakan “Itu sudah direncanakan ada percepatan negara demokrasi menjadi negara syariat Islam”. Dalam kasus ini masyarakat juga tahu, banyak kejanggalan pada kasus Aceh ini.

Lalu dikembangkan pula opini bahwasannya ideologi Islam mengancam eksistensi bangsa dan berbahaya bagi pluralitas bangsa. Padahal selama ini yang telah mengancam kedaulatan bangsa adalah sistem Kapitalisme. Terbukti Indonesia menjadi terjajah secara politik, ekonomi, sosial dan budaya karena sistem ini. Timor Timur lepas juga akibat sistem ini karena tidak meratanya kesejahteraan rakyat.

4. Kampanye Islam moderat

Kasus Terorisme juga menjadi jalan tol kampanye Islam moderat. Muslim yang menginginkan menerapkan Islam secara kaffah diberi stigma Islam garis keras, fundamentalis dan ekstrimis, bahkan ada yang di tuduh teroris (pemberian stigma teroris). Kemudian muncul istilah deradikalisasi, bahasa halus mensekulerkan Muslim di Indonesia. Maka umat Islam perlu waspada.

Sungguh, Islam bukanlah teroris, Islam juga tidak sependapat dengan tindakan teror. Zionis Israel dan Amerika beserta sekutunya lah yang teroris sebenarnya, sebab nyata-nyata telah melakukan pembantaian terhadap rakyat sipil di Negara-negara Timur Tengah dan lainnya.  Ideologi Islam juga bukan ancaman, justru Ideologi Islamlah yang bisa menjamin Indonesia menuju negara maju dan sejahtera. Ingatlah, rakyat sudah cukup cerdas. Wallahu A’lam.[hizbut-tahrir.or.id]
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Polri: Target Bom, Penghalang Khilafah

Inspektur Jenderal Pol. Ansyaad Mbai
Pengiriman paket bom-buku marak di Jakarta belakangan ini. Beragamnya individu yang menjadi target menimbulkan berbagai spekulasi. Namun, polisi melihat ada benang merah dari profil empat individu yang dijadikan target.

"Pikiran dan ucapan mereka dipersepsikan pelaku sebagai penghalang dari apa yang menjadi tujuan pelaku. Ideologi pelaku ingin mendirikan khilafah (negara Islam). Orang berpikiran seperti inilah yang kami hadapi," kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris, Inspektur Jenderal Pol. Ansyaad Mbai dalam diskusi "Setelah Bom Buku, Terbitlah Isu" yang diadakan Radio Trijaya di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 19 Maret 2011.

Keempat target bom yang dimaksud Ansyaad adalah pendiri Jaringan Islam Liberal Ulil Abshar Abdalla, Kepala Badan Narkotika Nasional Komjen Pol. Gories Mere, Ketua Umum Pemuda Pancasila Japto S. Soerjosoemarno, dan pentolan grup musik Dewa 19, Ahmad Dhani.

Menurut Ansyaad, dengan menggunakan prinsip jihad, pelaku tak segan memerangi semua musuh yang dipersepsikan menghalangi tujuan mereka. Keempat penerima paket bom dianggap sebagai musuh dan antek Yahudi.

"Itu yang dikatakan oleh pelaku, bahwa mereka adalah kafir harbi (kafir yang wajib diperangi)," ujar Ansyaad.

Mengenai modus pengiriman bom-buku, Ketua Desk Koordinasi Pemberantasan Teroris ini mengatakan, "Itu pesan seperti 'kami akan melawan Anda'."

Namun, Ansyaad mengaku belum dapat memastikan pelaku teror bom-buku berasal dari jaringan ekstremis mana. Menurut dia, belum tentu mereka berasal dari kelompok yang sudah dikenal aparat.

Karena, lanjut dia, masih ada juga kelompok lain tapi sepaham dengan jaringan ekstremis. "Istilahnya, like minded group atau like minded person. Misalnya, seperti bom sepeda Bekasi, pelakunya tidak termasuk dalam kelompok siapa-siapa."

Ansyaad berharap masyarakat bersabar menunggu hasil penyelidikan polisi. "Biarkanlah proses penyelidikan oleh polisi berjalan normal sesuai kaidah. Kalau didesak segera tangkap, nanti bisa salah tangkap," Ansyaad mengingatkan. (nasional.vivanews.com)

Comment:

FITNAH KEJI....!!! kalian sebenernya TAKUT kalo Kasus yang di ungkap Wikileaks tentang KEBUSUKAN SBY bakal terkuak. maka kalian sibuk membuat fitnah dan makar untuk mengubur hal ini....!!!!
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Bom Buku Ulah SBY Sendiri

Jakarta, Paket bom buku yang terjadi akhir-akhir ini hanya bertujuan mengalihkan perhatian kasus yang cukup besar yang menimpa Presiden SBY. Bisa jadi SBY sendiri yang merekaya bom itu karena bersifat menakuti bukan membunuh.

“Paket bom yang ditujukan beberapa orang atau ditempatkan di tempat tertentu sifatnya hanya menakut-nakuti dan tidak menimbulkan ledakan yang cukup besar tetapi efeknya bisa mengalihkan kasus yang besar,” kata Direktur Eksekutif Al Maun Institute Muhammad Khoiruddin kepada itoday (18/3).

Menurut Khoiruddin, ada keterkaitan peristiwa bom buku dengan munculnya pemberitaan dua media Australia yang menyebutkan SBY menyalahgunakan kekuasaannya.

Dari dua peristiwa itu, Khoiruddin menduga SBY merekaya menutup kasusnya itu dengan memunculkan bom buku. “Dilihat dari pelakunya sangat profesional dan tidak mungkin orang sembarangan,” ujar Khoiruddin.

Ditanya keterlibatan kelompok Islam radikal, Khoiruddin justru menyangsikan akan keterlibatan mereka dalam teror ini. “Kelompok islam radikal targetnya tempat yang menjadi simbol asing seperti hotel, kafe atau kedutaan,” pungkasnya.(indonesiatoday.in)
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Video Penguat pernyataan ust. Ba'asyir bahwa Bom Buku Rekayasa Densus 88

Silahkan Anda Renungkan

Ust. Abu Bakar Ba'asyir menyatakan, motifasi rekayasa bom buku itu, seolah-olah terorisme di Indonesia masih mengancam dan benar-benar ada. Sehingga Densus 88, AT Polri mendapatkan batuan dana dari luar negeri. "Itu hanya urusan perut," ujar Ba'asyir ketika akan menunaikan sholat dzuhur di masjid PN Jakarta Selatan, Kamis (17/3).

Ba'asyir menyatakan, mereka yang melakukan aksi teror itu  hanya ingin membuat citra buruk Islam di dunia. "Saya tidak percaya itu umat Islam (pelakunya). Saya curiga itu Densus, polisi."(suaramerdeka.com) 


Jadi pernyataan ust. Abu  cukup beralasan dan hal ini bisa dipakai untuk membantah pernyataan pengamat intelijen AC Manullang yang menyatakan "Tujuannya, tak lain tak bukan itu sebagai peringatan bahwa mereka maih eksis dan hidup. Ingin memperingatkan kepada pemerintah mereka masih hidup," ujar Manullang di Gedung DPR RI, Jumat (18/3/2011).(inilah.com)


silahkan anda pertimbangkan secara Obyektif.....
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Ba'asyir: Bom Buku Rekayasa Densus 88

Jakarta, Ba'asyir menuding Paket Bom Buku Rekayasa Densus 88 Polri. Terdakwa kasus terorisme Abu Bakar Ba'asyir menuding paket bom buku merupakan rekayasa Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror (AT) Polri.
Dia menyatakan, motifasi rekayasa bom buku itu, seolah-olah terorisme di Indonesia masih mengancam dan benar-benar ada. Sehingga Densus 88, AT Polri mendapatkan batuan dana dari luar negeri. "Itu hanya urusan perut," ujar Ba'asyir ketika akan menunaikan sholat dzuhur di masjid PN Jakarta Selatan, Kamis (17/3).

Ba'asyir menyatakan, mereka yang melakukan aksi teror itu  hanya ingin membuat citra buruk Islam di dunia. "Saya tidak percaya itu umat Islam (pelakunya). Saya curiga itu Densus, polisi."

Menurutnya, kalau ada yang menyangkut pautkan paket bom buku itu dengan dirinya ataupun kelompoknya itu merupakan bukti rekayasa. Ba'asyir mengaku dirinya mendengar adanya aksi teror tersebut di tahanan dari kerabatnya yang menjenguk di Rutan Bareskrim Polri.(suaramerdeka.com)
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Beberapa Kejanggalan Bom Buku Ulil

Ada beberapa kejanggalan kalau dikatakan bahwa kelompok yang dituding sebagai teroris telah memberikan peringatan kepada Ulil Abshar Abdala, Gories Mere dan Yapto Suryosumarno dengan bom buku. Hal itu diungkap Ketua Lajnah Siyasiyah DPP Hizbut Tahrir Indonesia Harits Abu Ulya kepada mediaumat.com, Kamis (17/3).
Menurutnya, kelompok teroris mana pun di dunia, tidak pernah memberikan serangan awal sebagai peringatan pada lawan-lawan mereka, tetapi langsung memberikan serangan yang mematikan.

Memang, Ulil dikenal sebagai liberalis anti Syariah Islam dan pembela aliran sesat Ahmadiyah. Juga sudah menjadi rahasia umum Gories Mere sebagai aktor belakang layar war on terrorism­-nya Amerika di Indonesia. Sehingga mereka wajar menjadi sasaran pemboman pihak-pihak tertentu.

Tapi anehnya bom tersebut dikirim ke BNN yang menangani narkoba, bukan dikirim ke rumah Gories Mere atau ke markas Densus  88. Begitu juga untuk Ulil, paket bomnya di kirim ke kantor radio FM 68 H. Bom untuk Yapto lebih tidak masuk akal lagi. “Apa relevansinya ia dengan benturan pemikiran Islam ‘garis keras’?” ujarnya.

Karena, lanjut Pengamat Kontra Intelijen ini, teroris sejati, yang bukan rekaan intelijen penguasa, memiliki pola standar operasi. Biasanya cara mereka mengeksekusi target yang bersifat personal, bukan massa atau lembaga maupun gedung, adalah langsung menyerangnya secara individual.

Jadi kalau memang pelakunya adalah benar-benar orang yang dituduh sebagai teroris maka yang paling mungkin dilakukan adalah  menembak langsung. “Baik dari jarak dekat atau dengan sniper,” Harits mencontohkan.

Selain itu, bisa juga dengan  menikam, atau bom bunuh diri atau dengan bom berpengendali jarak jauh, atau meracuninya seperti yang dialami Munir atau mantan intelijen Rusia yang masuk Islam Levitnenko.

Mengirimkan paket bom ke kantor dengan sasaran personal, tidaklah lazim karena kemungkinan melesetnya amat besar. “Kasus 3 bom yang dikirim ke rumah atau ke kantor seperti yang terjadi beberapa hari lalu, jauh dari sasaran personal!” tegasnya.

Bom-bom itu lebih bersifat mengacaukan keamanan belaka, karena terkategori berdaya ledak rendah. Maka tidak aneh kalau paket bom ini divonis sebagai produk intelijen. Karena dengan bom buku ini pihak-pihak tertentu menjadi sangat diuntungkan.

Bagi pemerintah isu ini menguntungkan karena perhatian publik dan politisi pun teralihkan dari isu Wikileaks dan isu lainnya yang menyudutkan SBY. Bagi liberalis plularis isu ini pun menguntungkan karena mengundang simpati kepada kelompok liberal yang pro Ahmadiyah.

Bagi BNPT isu ini pun sangat menguntungkan untuk  kontinuitas proyek WOT (war on terrorism) beserta target dibaliknya. “Karena saat ini juga  proses sidang Ustadz ABB terkait isu terorisme terancam terbuka kedok konspirasinya pasca pengakuan taubat Khairul Ghazali di balik jeruji besi Polda Sumut,” pungkasnya. (mediaumat.com, 17/3/2011)
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Bom Untuk Siapa?

Oleh: Lajnah Siyasiyah -DPP HTI
Tiga buah bom meledak dalam waktu berdekatan Rabu (15/3) kemarin. Satu di kantor Radio 68H, satu untuk BNN dan satu lagi untuk tokoh ormas kepemudaan. Karena target peledakan ini beragam, maka spekulasi apa sebenarnya yang menjadi target dari aksi paket bom tersebut menjadi tidak mudah.Ditengah kisruh isu reshuffle, “serangan ” wikileaks dan lainya menjadi sangat menarik untuk menafsiri apa yang menjadi motif sebenarnya bom-bom itu dikirim.Apa benar seperti komentar sebagian pihak; kalau ini terkait pertarungan kelompok moderat-non moderat, serangan kelompok ekstrimis terhadap kelompok moderat. Ini paket bom yang bormotif politik, atau bahkan lebih jauh (paranoid) mengkaitkan dengan terorisme dan ancaman terhadap NKRI.

Agak ganjil, berita bom yang ditujukan untuk tokoh JIL, Ulil Abshar Abdalla, justru lebih banyak mengisi porsi pemberitaan media massa ketimbang dua bom lainnya. Entah karena unsur jurnalisme-nya, name makes news, atau jangan-jangan karena ingin men-drive opini publik tentang target bom tersebut. Stasiun televisi TVOne, misalnya langsung mengundang godfather ‘war on terror’, Hendropriyono untuk mengomentari kasus bom buku. Kesimpulannya; kelompok militan Islam di balik semua ini.

BNPT, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, lewat lisan Ansyad Mbai juga setali tiga uang. Demikian pula kolega Ulil seperti Usman Hamid. Yang lucu, Partai Demokrat Jafar Hafshah juga ikutan berkomentar kalau aksi ini didalangi oleh terorisme, bukan karena status Ulil sebagai kader Partai Demokrat.

Menariknya lagi, di tengah maraknya tudingan terhadap kelompok Islam ‘garis keras’ sebagai pelaku oleh sejumlah pihak — di antaranya oleh BNPT, Hendropriyono, dan pengurus Parpol Demokrat –Kapolda Metro Jaya justru tidak sependapat. Inspektur Jendral Sutarman, selaku Kapolda, justru keberatan bila ledakan ini dikaitkan dengan terorisme. Menurutnya terlalu sumir untuk menyimpulkan motif dan pelakunya (vivanews.com, 15/3).

Demikian pula psikolog forensik Reza Indragiri Amriel tidak sependapat dengan tudingan terorisme. Ia melihatnya sebagai aksi vandalisme karena beberapa alasan (detiknews.com, 17/3). Di antara alasannya ialah, bomnya low explosive, rakitannya sederhana dan bukan bunuh diri seperti yang lalu-lalu.

Pernyataan sementara Kapolda Metro Jaya cukup menenangkan suasana dan amat logis. Terlalu sumir untuk menyatakan kelompok teroris berada di balik bom-bom ini. Setidaknya ada beberapa alasan untuk bersikap demikian, yaitu;

Pertama, sasaran bom itu beragam. Bukan saja untuk Ulil, tapi juga untuk pimpinan BNN Gories Mere, dan Japto selaku aktifis kepemudaan. Mungkin orang bisa berdalih bahwa Gories Mere berada di belakang operasi ‘war on terrorism’ sehingga menjadi sasaran pemboman, tapi bukankah bom itu dikirim ke BNN yang menangani narkoba? Mengapa bukan ke rumahnya atau ke markas Densus 88? Lalu bagaimana dengan Yapto? Apa relevansinya ia dengan benturan pemikiran Islam ‘garis keras’?

Cara berpikir teroris apapun yang sungguhan - bukan rekayasa - hanya akan menyerang target yang clear; person atau simbol dari musuh-musuh mereka. Bukan dengan serangan sporadis seperti sekarang maupun yang lalu-lalu. Gerakan teroris IRA (Irish Republican Army) misalnya, menyerang person atau lembaga - seperti bank — milik pemerintah Inggris yang memang mereka anggap sebagai penjajah negeri mereka. Atau gerakan teroris-separatis Basque (ETA) di Spanyol, menyerang individu atau tempat-tempat yang mereka anggap sebagai pendukung penjajahan Madrid atas kawasan Basque, seperti membunuh jurnalis atau politisi yang anti gerakan ETA.

Kedua, bila 3 bom lalu dikaitkan dengan benturan Islam ‘garis keras’ dan kaum liberal, ini adalah ‘lebay’. Kenyataannya Ulil sudah lama tidak menyuarakan lagi pemikiran liberal-nya. Dan bila benar ditujukan untuk Ulil karena ke-liberalan-nya, mengapa tidak sedari dulu ia diteror? Seperti pengakuannya kepada sejumlah wartawan, ia tidak pernah mendapatkan ancaman fisik ketika masih menjadi koordinator JIL. Padahal dulu Forum Ulama Umat Islam pernah menyatakan darahnya sudah halal. Justru saat ia berada di sebuah parpol yang kebetulan jadi parpol penguasa, ini terjadi.

Ketiga, bila tujuan bom itu sebagai warning, seperti kata Ulil, maka lagi-lagi tidak masuk logika berpikir teroris. Kelompok teroris manapun di dunia, tidak pernah memberikan serangan awal sebagai warning pada lawan-lawan mereka. Kelompok teroris macam IRA atau ETA biasanya langsung mengeksekusi person atau institusi yang dianggap sebagai lawan mereka.

Keempat, melihat operasi terorisme internasional, biasanya cara mereka mengeksekusi target yang bersifat personal, bukan massa atau lembaga maupun gedung, adalah langsung menyerangnya secara individual, misalnya dengan menembak langsung, baik dari jarak dekat atau dengan sniper, menikam, atau bom bunuh diri atau dengan bom berpengendali jarak jauh, atau meracuninya seperti yang dialami Munir atau mantan intelijen Rusia yang masuk Islam Levitnenko. Mengirimkan paket bom ke kantor dengan sasaran personal, tidaklah lazim karena kemungkinan melesetnya amat besar.

Kasus 3 bom yang dikirim ke rumah atau ke kantor seperti yang terjadi beberapa hari lalu, jauh dari sasaran personal. Bom-bom itu lebih bersifat mengacaukan keamanan belaka, karena toh ternyata low explosive.

Kelima, paket sudah biasa masuk ke “Utan Kayu” maka kenapa untuk kali ini paket bisa diduga Bom dan ada kecurigaan berisi bom?

Jadi untuk siapa dan untuk apa bom-bom itu dikirim? Masih belum jelas. Terlalu berlebihan bila tiga bom itu dipakai untuk mengungkit lagi agenda ‘war on terror’. Apalagi kejadiannya bertepatan dengan kondisi pemerintahan yang tengah carut marut. Penguasa tengah kelimpungan menghadapi hak angket pajak oleh DPR, yang ini juga mengancam perpecahan koalisi yang sudah dibangun. Meski konon tidak bakal terjadi reshuffle kabinet, tapi kondisi setgab justru tengah memanas karena ada upaya mendongkel pengurus setgab.

Pemerintahan SBY juga sudah dibuat panik dengan bocoran kawat diplomatik dari kedubes AS yang ditebar Wikileaks. Tudingan terjadinya penyalahgunaan kekuasaan, korupsi dan memperkaya diri yang dilansir 2 harian Australia dari Wikileaks sempat membuat sejumlah pejabat sibuk melakukan bantahan dimana-mana.

Sementara itu, kalangan oposisi justru cenderung untuk percaya kepada pemberitaan tersebut. Direktur Pusat Kajian Antikorupsi Fakultas Hukum (FH) UGM Zainal Arifin Muchtar, meminta pemerintah SBY menyodorkan bukti bila tudingan Wikileaks itu tidak benar (detiknews.com, 14/3).

Kredibilitas pemerintah di mata rakyat dan pengamat juga terus merosot. Selain kasus hukum kelas kakap yang tidak selesai - mafia pajak, mafia hukum, Bank Century –, ditambah lagi rencana kenaikan BBM non-subsidi. Membuat rakyat semakin sengsara dan tidak percaya lagi atas keberpihakan penguasa kepada mereka. Tidak berlebihan jika sebagian kalangan berpikir, jangan-jangan kasus bom ini adalah pengalih isu, atau setidaknya bisa dimanfaatkan sebagai pengalih isu.

Atau jika ada tanda-tanda ngototnya pihak tertentu untuk membawa kasus paket bom ini kepada espektasi lebih jauh tentang terorisme dan ancamannya terhadap NKRI dan semacamnya, maka makin membuat kita “curiga”. Cara pandang yang “katarak” ini menjadi adanya jejak motif dan konspirasi yang terjadi, dugaanya kalaulah benar yang melakukan kelompok “teroris” maka itu “teroris binaan” dari pihak-pihak tertentu yang selama ini tahu peta dan punya akses kendali di kalangan mereka. Karena faktanya banyak para “combatan” yang sudah dilebur dalam cawan proyek kontra-terorisme, dengan kopensasi “fasilitas” dan reward lainya. Strategi eksekusinya dengan menggunakan variable yang mendukung: adanya judul buku yang menarik, sasaran yang relevan (khususnya Ulil dan Gories), dan ada kasus persidangan ustad ABB dimana saat itu sudah ada warming tentang ancaman untuk orang-orang tertentu (termasuk untuk Gories). Dan teknik deception (pengelabuhan) juga disiapkan, dengan membuat paket bom 3 buah yang satu untuk seorang Yapto. Di sisi lain terkait kasus ustad ABB, ada pengakuan “taubat” yang dikeluarkan oleh Khoirul Gazhali (Kasus CIMB Medan) menjadi tamparan keras bagi Densus 88, hingga terdengar sayup-sayup Densus 88 “mengamuk” di Medan untuk memberi “stick” kepada K Gazhali cs. Artinya kasus bom paket ini, pasti ada target sebenarnya yang diinginkan. Jawabanya; lihat para komentator, lihat kemasan media dan apa yang menjadi sikap pihak terkait. Tentu yang lebih tau adalah dalang di balik paket bom ini.

Seperti kata pepatah, serangan bom ini adalah sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Mengalihkan perhatian publik dan politisi, mengundang simpati kepada kelompok liberal yang pro Ahmadiyah, juga menyudutkan kelompok Islam pro-syariah. Atau terkait dengan kontinuitas proyek WOT (war on terrorism) beserta target di baliknya.

Bukan tidak mungkin, nanti kondisi akan berbalik. Seperti kasus Ahmadiyah di Pandeglang, Banten, publik dan pengamat juga Komnas HAM justru percaya dan bisa membuktikan ada unsur rekayasa di sana. Boleh saja musuh-musuh Islam membuat aneka makar, toh Allah tetap pembuat makar yang terbaik.

“maka apakah orang-orang yang membuat makar yang jahat itu, merasa aman (dari bencana) ditenggelamkannya bumi oleh Allah bersama mereka, atau datangnya azab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari,”(QS. An-Nahl: 45).[hizbut-tahrir.or.id]
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Munarman : Bom Utan Kayu Pengalihan Isu Belaka

Munarnan
Sesudah berkali-kali menghadapi sodokan politik yang dialami Presiden SBY, seperti tudingan bohong dari "Aliansi Agma-Agama", di susul tendangan dari koran The Sydney Morning Herald dan The Age, kemudian timbul berita besar yang menyita perhatian publik.

Ketika panik dengan tuduhan Presiden SBY melakukan kebohongan, di mana terjadi peristiwa penyerangan terhadap kelompok Ahmadiyah di Cikeuting, Padeglang, dan ditambah dengan amuk di Temanggung, yang disertai pengrusakan gereja.

Maka, Front Pembela Islam menilai rangkaian teror bom yang terjadi di tiga lokasi di Jakarta, dan satu lokasi di Daerah Istimewa Yogyakarta, hanyalah bentuk pengalihan isu belaka. Dua peristiwa itu bikin geger.

Sekarang, sesudah hiruk pikuk di Jakarta, akibat tuduhan terhadap Presiden SBY oleh koran Australia The Sydney Morning Herald dan The Age, yang menulis bahwa Presiden melakukan "abused of power" (menyalahgunakan kekuasaan), tiba-tiba terjadi peristiwa ledakan paket bom di Utan Kayu, di kantor Radio H 68, tempat mangkalnya "Mas Gun" Gunawan Muhamad dan Ulil Abshor, yang menjadi dedengkot JIL (Jaringan Islam Liberal), yang sekarang menjadi tokoh di Partai Demokrat sebagai ketua.

Menanggapi peristiwa yang terjadi di Utan Kayu itu, Koordinator Advokat FPI, Munawar, menyatakan, "Jadi yang perlu untuk dilihat dan dipertanyakan, kenapa setiap ada persitiwa politik yang besar selalu muncul peristiwa bom," ujarnya.

Bahkan Munarman tidak percaya, jika rangkaian paket teror bom ini dilakukan oleh kelompok Islam garis keras. kelompok tersebut, menurutnya hanya dijadikan kambing hitam yang telah disiapkan tong sampahnya.

"Pola semacam itu pola sejak zaman orde baru, hanya berbeda kambing hitamnya," tegas Munarman.

Lebih jauh Munarman menjelaskan, jika aksi teror ini dilakukan oleh kelompok Islam garis keras, tidak ada relevansinya dengan Pemuda Pancasila dan Badan Narkotika Nasional.

"Kalau ditujukan pelaku adalah Islam garis keras, hubungannya dengan Mas Japto apa? mestinya kalau orang yang menggunakan rasio dan logikanya apa hubungannya dengan Mas Japto?" tutur mantan ketua LBH.

Seperti diberitakan sebelumnya, tiga paket teror bom dalam kemasan buku ditemukan di kantor Komunitas Utan Kayu yang merupakan kantor Ulil Anshar Abdalla, Gedung Badan Narkotika Nasional yang merupakan kantor Kepala BNN Gories Mere, dan rumah Ketua Pemuda Pancasila Japto S Soerjosoemarmo.

Paket bom buku yang dikemas menggunakan amplop cokelat besar ini, dikirimkan langsung oleh pelaku, dengan menujukan kiriman paket tersebut kepada tiga orang personal yakni Ulil, Gories, dan Japto.

Selain itu tengah malam tadi, teror bom juga dialami oleh Kepala Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta Brigadir Jenderal Ondang Sutarsa. Teror disampaikan melalui surat yang dikirimkan ke rumah dinas Ondang, yang berpesan akan ada paket bom yang meledak dirumahnya.

Dengan peristiwa yang terjadi di Jakarta dan Yogyakarta itu, kembali media massa dan opini diarahkan kepada si "teroris" dan "Islam garis keras", yang menjadi kambing hitam. Nampaknya di Indonesia "teroris" dan "Islam Garis Keras" menjadi obat mujarab untuk mengalihkan isu politik yang besar, dan yang berkaitan dengan kekuasaan. (nhm/inlh)(eramuslim.com)
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Pembawa Bom Utan Kayu itu Berpipi Kempot

Jakarta, Sebuah bom yang berada di sebuah kotak buku meledak di bagian belakang tempat Komunitas Utan Kayu, Jl Utan Kayu 68, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (15/3). Bom tersebut berada di sebuah kotak mirip buku berjudul Mereka Harus Dibunuh dengan penulis Sulaiman Azhar dengan alamat Jl Bahagia Gang Panser no 29 Ciomas Bogor.

Semula, bom itu dibungkus dalam sebuah amplop besar coklat dan dikirim ke Komunitas Utan Kayu. Resepsionis setempat, Anisa Wulandari (20), menerima paket itu sekitar pukul 10.00 WIB.

"Yang membawa paket itu seorang laki-laki," ungkap Anisa. Laki-laki tersebut bertubuh kurus dengan pipi kempot tanpa jerawat. Dia memakai topi gelap dan jaket hitam.
Anisa lupa kaosnya berwarna apa. Tapi, tinggi lelaki itu sekitar 160 sentimeter.

Bom tersebut mengakibatkan Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Timur, Komisaris Dodi Rahmawan, kehilangan kesepuluh jemari tangannya hancur. Saat meledak sekitar pukul 16.00 WIB dia memerintahkan anggota Polsek Matraman menyiram bom tersebut dengan air.

Saat itulah bom meledak, "Duaarrrr..." Dodi langsung terkapar tak berdaya. Dia langsung digotong ke rumah sakit terdekat untuk dirawat. Korban lainnya adalah Ajun Komisaris Karliman dari Polres Jakarta Timur.(republika.co.id)
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Ulil: Bom Ini Motifnya Politis

Jakarta, Bom yang meledak di kantor Komunitas Utan Kayu ditujukan kepada Ulil Abshar Abdalla. Namun Ulil mengatakan kemungkinan alasan peledakan bom bukan terkait agama melainkan politis.

Ulil mengatakan, ia memang kerap menerima ancaman. Salah satunya dalam bentuk SMS sewaktu ia masih aktif menjadi koordinator Jaringan Islam Liberal. "Sebelum saya berangkat sekolah ke Amerika, tapi itu 2005. Sudah lama hilang," kata dia, Selasa.

Ia menambahkan, ketika masih aktif di JIL pun ia tidak pernah mengalami ancaman seperti bom ini. "Justru ketika saya sekarang masuk ke dalam arena politik, dalam Partai Demokrat, hal ini muncul," kata dia.

"Saya menjadi curiga jika ini motifnya agak cenderung politis sebetulnya," sambung dia.

Ulil dalam beberapa pekan terakhir memang vokal bersuara soal politik, terutama reshuffle kabinet. Ia kerap menyuarakan agar dua partai anggota koalisi pemerintah yaitu PKS dan Golkar mendapat sanksi.

Secara khusus, Ulil menyebutkan menteri dari PPP dan PKS layak dikeluarkan dari komposisi kabinet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun pernyataannya ini tidak digubris oleh Presiden, karena terbukti reshuffle tidak jadi.(republika.co.id)
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Dor! Bom untuk Ulil Meledak

Jakarta, Dor! Sebuah paket berisi buku dan benda mencurigakan diduga 'bom' yang dikirimkan untuk Ulil Abshar Abdalla, ternyata benar-benar meledak. Ledakan itu sangat dahsyat.

Bom dikirim untuk tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) yang juga ketua DPP Partai Demokrat itu diterima melalui kantor KBR 68 H, Jl Utan Kayu 68 H, Jakarta Pusat, yang juga merupakan kantor Jaringan Islam Liberal (JIL).

Bom meledak sekitar pukul 16.05 WIB, Selasa (15/3/2011). Bom itu meledak saat diperiksa polisi.

Hingga saat ini, suasana riuh masih terjadi di kantor KBR 68 H yang satu kompleks dengan kantor Komunitas Utan Kayu.

Paket itu dikirim ke Kantor Berita Radio (KBR) 68 H. Polisi sudah mengamankan paket itu.
(nik/asy)(detiknews.com)
.........Lihat Selengkapnya