Tampilkan postingan dengan label demokrat. Tampilkan semua postingan

gravatar

Politisi Golkar-PKS Sumbang Anas

Tim sukses Anas Urbaningrum tiba-tiba mengeluarkan fakta lain soal pemenangan dalam kongres Partai Demokrat pada 2010.

Salah seorang anggota tim sukses Anas, Umar Arshal, menjelaskan bahwa dana pemenangan Anas tidak berasal dari Muhammad Nazaruddin, melainkan politisi partai lain, di antaranya Partai Golongan Karya (Golkar) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

“Omong kosong yang dibilang Nazaruddin. Untuk kongres itu, kami semua keluar keringat dan dana,” ujar Umar di gedung parlemen, Jakarta, kemarin (17/2).

Umar yang kini menjabat ketua Divisi Tanggap Darurat DPP Partai Demokrat tersebut menjelaskan, sumber dana pemenangan Anas bisa dipertanggungjawabkan.

Sebab, setiap anggota tim pemenangan Anas mengeluarkan dana untuk membantu biaya transportasi kader-kader di daerah.

Dia mencontohkan, kader Partai Demokrat yang domisilinya dekat mendapat bantuan Rp 3,5 juta, sementara yang jaraknya jauh memperoleh bantuan Rp 5 juta.

“Itu saat pemaparan visi. Saat penajaman visi dan misi di Jakarta, kami bantu juga Rp 7,5 juta. Terakhir, deklarasi Rp 10 juta, itu sangat standar,” ujar Umar yang kini menjadi anggota DPR itu.

Selain dari keringat tim sukses, Umar menyatakan bahwa bantuan pemenangan Anas berasal dari sumbangan kalangan elite partai lain. “Termasuk, teman-teman Golkar dan PKS banyak bantu kami,” ucap dia. Namun, Umar tidak menyebut politikus Golkar dan PKS yang membantu pemenangan Anas.

Keterangan Umar itu spontan dibantah Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso. Menurut dia, keterangan bahwa politikus Golkar ikut menyumbang dana pemenangan Anas tidak masuk akal. “Ada-ada saja itu, sumbangan seperti itu tidak wajar,” tutur Priyo.

Priyo juga menyatakan tidak tahu dan tidak mau mencari tahu soal kebenaran informasi itu. Dia yakin bahwa tidak ada seorang pun dari kalangan elite Partai Golkar yang akan mempertaruhkan posisi demi menyumbang pemenangan ketua umum partai lain. “Dalam konteks politik, harus ada batas-batas. Itu tidak memungkinkan,” tegasnya.

Priyo menyatakan bahwa dirinya dekat dengan Marzuki Alie dan Anas. Dia pun mengenal sosok Andi Mallarangeng yang juga bersaing dalam kongres Partai Demokrat pada 2010. Namun, sebagai teman, tidak berarti dia harus memberikan dukungan yang melanggar aturan. “Paling banter, kami bantu dengan doa. Itu pun berdoa diam-diam,” tutur dia.

Priyo meminta tudingan semacam itu dihentikan. Menurut dia, Partai Golkar selama ini menegaskan tidak ingin campur tangan dalam masalah internal Partai Demokrat. “Kalau partai saya dibegitukan, rasanya kan tidak enak,” ungkap dia.

Senada, Wakil Sekretaris Jenderal DPP PKS Mahfudz Siddiq membantah pernyataan Umar. Menurut dia, informasi Umar tersebut tak lebih dari pernyataan ngawur yang ingin mengaburkan fakta. “Statement ngawur itu dan lebih sebagai upaya untuk mengaburkan dugaan bahwa sumber dana money politics itu fee proyek APBN,” ujar Mahfudz.

Menurut Mahfudz, Umar harus bisa membuktikan pernyataan tersebut. Jika tidak bisa, tentu DPP PKS mengambil langkah tegas. “Kalau partai menyikapi dan dikaitkan dengan kongres Demokrat, kami bisa menyomasi,” ingat dia.

Isu Anas menggunakan politik uang dalam kongres yang mengantarkannya sebagai ketua umum Partai Demokrat kini bermunculan.

Misalnya yang tampak dalam sidang Nazaruddin. Dalam sidang itu, Nazaruddin menyatakan bersama Angelina Sondakh memberikan uang langsung kepada sejumlah anggota kongres untuk memenangkan Anas. Di beberapa daerah, kader Demokrat juga mulai bernyanyi tentang politik uang itu.

Keterangan Umar itu tampaknya juga bertujuan membantah pernyataan mantan Ketua DPC Demokrat Minahasa Utara Diana Maringka. Dalam pernyataannya, Diana menyebutkan bahwa ada sebelas ketua DPC Partai Demokrat di Sulawesi Utara yang menerima uang dari tim sukses Anas pada kongres di Bandung itu.

Uang tersebut, papar Diana, diterima dalam tiga tahap. Perinciannya, tahap pertama Rp 30 juta, tahap kedua USD 2.000, dan tahap ketiga USD 5.000. Diana juga mengaku telah mendapat satu unit BlackBerry dari tim sukses Anas. Dia pun menyebut nama Ketua DPC Demokrat Kota Bitung Hanny Ruru yang diduga menerima uang dalam jumlah sama. (batampos.co.id)
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Ternyata, Partai Demokrat Adalah Penyandang Dana Ponpes NII

Anas Urbaningrum (Partai Demokrat) Tengah Duduk Bersama
Syekh Panji Gumilang a.k.a Abu Toto (Pimpinan Ponpes Al Zaytun)
Ketua Umum, Sekjen, beserta petinggi Partai Demokrat mendatangi Ponpes Al Zaytun, Indramayu, beberapa waktu lalu. Mereka menyumbang dana cukup besar, US$ 10 ribu.

"Ketua Umum PD Anas Urbaningrum dan Sekjen PD ke Al Zaytun, mereka memberikan sumbangan sebesar US$ 10 ribu," ujar Menteri Peningkatan Produksi NII KW 9 tahun 1997-2003, Imam Supriyanto, saat diterima Wakil Ketua DPR, Priyo Budi Santoso, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (2/5/2011).

Imam menuturkan, uang tersebut diserahkan Anas langsung kepada pemilik Pondok Pesantren Al Zaytun, Panji Gumilang. Tujuan pemberian sumbangan tersebut sebagai bentuk perhatian PD dalam acara safari ke pesantren tersebut.

"Diserahkan langsung oleh Anas," tuturnya.

Sebelumnya diberitakan Imam mengungkap sejumlah fakta baru yang tergolong fantastis. Menurutnya kader NII yang dibaiat oleh Panji Gumilang telah sukses menyusup ke tubuh Golkar dan PD.

Salah seorang penyusup tersebut adalah elite partai Golkar di tingkat Indramayu. Dia adalah anggota DPRD Golkar tingkat II Indramayu.

Ponpes Al Zaytun selama ini merupakan institusi pesantren yang dianggap oleh banyak kalangan ulama sebagai pusat gerakan NII KW 9 yang menyimpang dan menyesatkan. Jadi, siapa yang mendanai NII sebenarnya??? (muslimdaily,Senin, 02-05-2011)
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Orang Indonesia Bodoh & Cepat Mati: Demokrat

Jember, Pola makan orang Indonesia terbalik. Ini yang menjadi salah satu problem kesehatan di Indonesia.

Pola makan terbalik ini, menurut Subagyo Partodiharjo, anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Demokrat, adalah anak-anak yang banyak mengonsumsi sayur dan buah, sementra orang dewasa gemar makan gurih dan lezat alias berprotein dan berlemak.

"Terbaliknya pola makan ini karena mitos antara lain gizi yang paling penting bagi anak dan balita adalah vitamin, telur penyebab bisulan, ikan penyebab cacingan, ibu hamil tidak boleh makan-makanan amis," kata Subagyo dikutip dari beritajatim.com, Jumat (29/4/2011).

Padahal, seharusnya bayi dalam kandungan, bayi baru lahir, balita, dan anak-anak perlu makan banyak protein dan lemak. Sayur dan buah adalah suplemen.

Akibat pola makan terbalik ini, anak-anak Indonesia bertubuh kecil, pendek, kuat, tingkat kekebalan rendah, mudah jatuh sakit. Tingkat kecerdasan mereka juga rendah.

Sementara itu, karena orang dewasa dan lanjut usia di Indonesia suka makan makanan mengandung lemak, garam, dan protein, mereka mudah terkena penyakit. Beberapa penyakit seperti asm urat, kolesterol, darah tinggi, jantung, kanker, dan stroke menjadi akrab.

"Akibatnya umur rata-rata lansia Indonesia pendek. Jadi pola makan yang terbalik ini berakibat lahirnya sosok orang Indonesia yang bodoh dan cepat mati," demikian mengutip dari penjelasan 'tujuh kebiasaan makan keliru rakyat Indonesia' yang dikeluarkan Dapartemen Kesehatan Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat.

Para orang dewasa dan lansia seharusnya memperbanyak makan sayuran dan buah-buahan yang mengandung vitamin, mineral, serat, dan antioksidan. Membalik pola makan ini tidak perlu menunggu kondisi ekonomi bangsa. [beritajatim.com]

wow...jiah pake nyalah-nyalahkan makanan, padahal banyak faktor yang bisa menyebabkan itu. kalo menurut saya kebodohan ada kaitannya dengan kemiskinan juga dan itu semua akibat KAPITALISME yang sejak lama di pelihara di negeri ini. sedang masalah mati adalah masalah takdir.
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

'Diselamatkan dari Lapindo, Golkar Seharusnya Berterima Kasih'

JAKARTA - Ketua DPP Partai Demokrat Nurhayati Ali Assegaf menyatakan, pihaknya kecewa dengan sikap politik yang sering ditunjukkan Partai Golkar dalam menyikapi perkembangan maupun kebijakan pemerintah. "Seharusnya Partai Golkar berterima kasih kepada Partai Demokrat, terutama kepada Ketua Dewan Pembina yang sekaligus Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono," katanya kepada pers di Jakarta, Sabtu (26/2).

Dia menghatakan, Golkar mengecewakan Partai Demokrat dengan mendukung hak angket Bank Century dan hak angket perpajakan. Ia menyebutkan, Presiden SBY berhasil menyelamatkan Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie dari kasus lumpur Lapindo, mafia pajak dan Bumi Resources. "Golkar itu mestinya berterima kasih," kata Nurhayati.

Menurut anggota Komisi I yang juga Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR ini, bila Golkar tidak mengubah sikap politik dan seolah-olah merasa paling benar dengan mengusung hak angket mafia pajak, tidak tertutup kemungkinan Golkar akan dirugikan. Ia juga membantah Presiden SBY pernah berhutang budi kepada Aburizal Bakrie pada tahun 2004 sehingga SBY tidak bisa bersikap tegas terhadap Golkar.

"Pak SBY tidak pernah utang budi sama Ical. Saya kira itu penilaian salah, tidak ada utang budi," katanya.

Menurut dia, SBY tidak akan mengorbankan kepentingan rakyat hanya untuk sekedar balas budi. "Presiden SBY ketika harus mengambil sikap, pasti akan bersikap dan saya yakin dan beliau tidak perlu teriak-teriak," kata Nurhayati.

Sebagai kader, dirinya tentu berharap, Presiden SBY akan mengambil langkah. "Presiden SBY tidak akan terima
kadernya diperlakukan begitu oleh PKS dan Golkar dan itu ada penilaian tersendiri," ujar dia.

Anggota DPR dari daerah pemilihan Malang (Jawa Timur) ini juga mengapresiasi langkah Gerindra yang menolak hak angket perpajakan dan hal itu dilakukan oleh Gerindra secara objektif. "Gerindara bisa objektif menilai," katanya.(republika.co.id)
.........Lihat Selengkapnya