Tampilkan postingan dengan label penguasa. Tampilkan semua postingan

gravatar

Penguasa Kaum Muslim Sadar Waktu Pesta Mereka Sudah Berakhir

Para Penguasa Arab
Salah satu prestasi terbesar dari revolusi yang berkobar di negeri-negeri Islam, bahwa revolusi itu telah memecahkan penghalang rasa takut umat terhadap para penguasanya, serta para algojonya yang senantiasa merendahkan umat dengan penyiksaan yang kejam dan keji selama beberapa dekade yang lalu. Umat sekarang telah sampai pada keyakinan bahwa para penguasa mereka tidak lebih hanya seekor harimau dari kertas. Sehingga mereka sebenarnya tidak akan pernah memiliki kedudukan dan kekuasaan tanpa keinginan umat, atau setidaknya umat mendiamkannya. Dengan demikian, umat saat ini benar-benar telah menempatkan kakinya di awal jalan yang akan mengembalikan kekuasaannya untuk diberikannya kepada orang yang telah dipilih oleh umat, serta kepada orang yang dipandang oleh umat sebagai orang yang memang pantas dan layak untuk mendapatkannya.
Di sisi lain, para penguasa telah menyadari bahwa mereka bukan Tuhan dan bukan pula Fira’un; serta waktu pesta bagi mereka telah berakhir. Berikut adalah perkataan Raja Arab Saudi dalam sebuah pernyataan yang disampaikan hari Selasa lalu: “Saudara-saudaraku, ada dua kata selama para syaikh hadir, maka ia untuk seluruh rakyat … Dikatakan “raja hati” atau “raja kemanusiaan. Saya berharap kalian membuang panggilan ini dari saya. Sebab raja itu adalah Allah. Sementara kami adalah hamba Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Perkasa. Karena itu, saya sangat berharap kalian membuang kata itu dariku.” Semua ini dilakukan, di samping janji tentang perubahan dan penambahan alokasi anggaran keuangan yang dibuatnya, bahwa dengan cara ini mereka mengira para penuntut perubahan akan menjadi rela.

Raja Bahrain dan Yordania, serta penguasa Syria mulai menggigil ketakutan akibat banjir revolusi yang mungkin membuat kepala mereka tersungkur ke dalam lumpur. Bashar Assad mengumumkan kemungkinan pencabutan undang-undang keadaan darurat, dan reformasi politik di negara ini, yaitu setelah seminggu berlangsungnya aksi protes. Sebelumnya, Raja Yordania telah mengumumkan tentang reformasi pemerintah, politik dan keuangan; yang dengan itu berharap dapat menghilangkan ketakutan terhadap para pemberontak. Adapun Raja Bahrain, mendahului kedua penguasa di atas, telah mengumumkan tentang perubahan, pencairan dana dan janji-janji lainnya. Hanya saja, apa yang mereka lakukan ini tidak mampu memuaskan rakyat yang sudah terlanjur membencinya, dan juga membenci pemerintahannya yang berlumuran dosa.

Sedangkan Gaddafi dan Shaleh, maka keduanya sedang menghitung hari-hari mereka berdua yang masih tersisa. Sebab waktu mereka berdua untuk berpesta dan berfoya-foya benar-benar telah berakhir, dan tidak akan pernah kembali.

Meskipun kebanyakan para rezim diktator di dunia Islam didukung oleh Perancis, termasuk rezim-rezim Arab, selama beberapa dekade terakhir. Namun Perancis menyadari bahwa waktu rezim-rezim ini telah berakhir. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri Prancis, Alain Juppe dalam pertemuan dengan para wartawan pada hari Kamis, di mana ia mengatakan bahwa gerakan protes di dunia Arab, cepat atau lambat akan menggilas setiap tempat. Ia menambahkan: “Saya yakin bahwa gerakan ini tidak akan mungkin untuk ditekan. Dan tentu saja ada rezim yang bertindak represif sebagai upaya untuk mempertahankan diri. Namun ia tidak akan mampu melakukan itu dalam waktu yang lama. Dan dengan berjalannya waktu, gerakan ini pasti akan menggilasnya. Bahkan saya berharap hal itu terjadi secepat mungkin.”

Dengan demikian, para penguasa benar-benar telah menjadi ketakutan terhadap umat, setelah umat sebelumnya takut terhadap mereka. Dan hal ini merupakan suatu pertanda baik bahwa era penguasa dispotis (jabriyatan) akan segera berakhir,  yang kemudian disusul dengan berdirinya kembali Khilafah Rasyidah dengan manhaj kenabian.

Rasulullah Saw bersabda: “…. Selanjutnya masa penguasa dispotis (jabriyatan) sampai Allah menghendakinya, kemudian Allah mengangkatnya jika Allah menghendakinya. Setelah itu masa Khilafah dengan manhaj kenabian.” (HR. Ahmad).

Sumber: pal-tahrir.info, 26/3/2011.
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Sikap Pemerintah Terhadap Kritik

Oleh: Ade Sugana, Lc.
Lajnah Tsaqafiyyah DPP Hizbut Tahrir Indonesia

Kritik terhadap penguasa (muhasabatul hukam) disyariatkan dalam Islam. Ia merupakan bagian dari amar ma’ruf nahi munkar yang hukumnya fardhu kifayah. Karenanya, di dalam umat harus senantiasa ada orang-orang yang melakukan kewajiban ini, kalaupun tidak bisa dilakukan oleh mereka secara keseluruhan. Hal ini banyak dijelaskan baik dalam al-Quran maupun  as-Sunah. Diantaranya firman Allah SWT,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (ummat Islam), ummat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia” (al-baqarah: 143)

Dalam ayat lain Allah SWT, berfirman

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil ” (QS. Al-Maaidah[5]: 8)

Di samping ayat-ayat lain yang banyak sekali jumlahnya terkait kewajiban melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Dua ayat di atas merupakan seruan kepada umat Islam untuk menjadi saksi bagi umat dan bangsa lain. Lalu  bagaimana umat ini menjadi saksi bagi mereka kalau ia belum bisa menjadi saksi dan pemimpin atas dirinya sendiri. Hal ini mengharuskan selalu adanya muhasabah dan kritik bukan hanya diantara individu-individu umat melainkan terhadap penguasa dalam kedudukanya sebagai pemimpin, pemelihara  urusan-urusan mereka, pihak yang bertanggung jawab mewujudkan kesejahtera dan  membimbing meraka hingga mampu menjadi suhada bagi umat dan bangsa lain .

Selain itu, dalam banyak hadits Rasulullah SAW. juga menjelaskan tentang kewajiban muhasabah ini, diantaranya sabda beliau yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar:

سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ يَأْمُرُونَكُمْ بِمَا لَا يَفْعَلُونَ، فَمَنْ صَدَّقَهُمْ بِكِذْبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ، فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَنْ يَرِدَ عَلَيَّ الْحَوْضَ (رواه أحمد)

“Akan ada para pemimpin yang memimpin kalian dengan perkara-perkara yang tidak mereka laksanakan. Karena itu, siapa saja yang membenarkan kedustaan mereka dan membantu kedzaliman mereka maka ia bukan termasuk golongganku, dan aku juga bukan termasuk golongannnya; telaga haud pun sekali-kali tidak akan bermanfaat bagiku (untuk menolongnya). (HR. Ahmad).

Selain itu pula, Islam telah menganggap orang yang dibunuh karena penentangannya terhadap penguasa sebagai afdhalus syuhada, ini tiada lain karena Islam menjadikan muhasabah sebagai perkara penting bahkan ia merupakan salah satu pilar bagi hilangnya kedzaliman dan tegaknya hukum Allah SWT di muka bumi ini.

Lalu Bagaimana seharusnya sikap penguasa dalam menghadapi kritik atau muhasabah yang dilakukan oleh rakyatnya, perlukah ia berapologi, membela diri atau selalu merasa benar bahkan melakukan pencitraan dan kebohongan? Mari kita lihat karakter para pemimpin muslim di masa lalu, terutama Rasulullah SAW sebagai panutan kita.

Bercermin Pada Rasulallah SAW dan Para Khalifah setelahnya

Pada zaman kehidupan Rasullah SAW, kritik pernah terjadi, dimana budaya muhasabah ini telah dicontohkan dalam kehidupan Rasulullah SAW. Para shahabat sebagai rakyat pernah melakukan muhasabah kepada kebijakan pemerintahan Rasulullah SAW dan para Khulafaur Rasyidin. Rasulullah, pernah dinasihati Hubbab bin Mundzir dalam menentukan posisi pasukan di medan perang Badar. Pada saat ditandatangani perjanjian Hudaibiyah kaum Muslim menampakkan ketidaksetujuan mereka kepada beliau. Sedang seusai perang Hunain, para sahabat Anshar menampakkan rasa kecewa melihat Rasulullah memberikan ghanimah kepada para pemimpin Quraisy yang baru masuk Islam (al-muallafatu qulubuhum), tanpa memberikan satu bagian pun untuk mereka.

Para shahabat mempertanyakan pembagian kain dari Yaman kepada pemerintahan Umar bin Kha-ththab. Beliau juga pernah diprotes oleh seorang wanita yang menentang kebijakan pembatasan mahar.

Bagaimanakah sikap Rasul SAW dan para Khalifah dalam menghadapi muhasabah yang dilakukan oleh para sahabat yang berstatus sebagai rakyat? Rasulullah menerima pendapat Hubbab lantaran beliau melihat adanya ke-ahlian Hubbab dalam strategi pertempuran. Dalam perang Uhud, beliau menyetujuinya pendapat para shahabat yang menghendaki untuk menyongsong pasukan Quraisy di luar kota Madinah meskipun beliau sendiri berpendapat sebaliknya. Pada perjanjian Hudaibiyah beliau tetap bertahan dalam menghadapi protes para shahabat. Sebab, hukum perjanjian tersebut merupakan wahyu yang baru beliau terima.

Tatkala wanita memprotes kebijakan khalifah Umar Ibnu al-Khattab dengan  membaca firman Allah SWT: “Maka janganlah kamu mengambil kembali (mahar) dari padanya barang sedikitpun” (QS. An Nisaa 20), maka Khalifah Umar berkata, “Benarlah wanita itu dan sayalah yang keliru” (lihat Abdul Aziz Al Badri, Peran Ulama dan Penguasa). Dan terhadap pertanyaan tentang pakaian yang dikenakannya, Umar meminta putranya untuk menjelaskan. Ibnu Umar pun menyatakan bahwa pakaian Umar adalah bagian Khalifah ditambah dengan bagiannya yang dihadiahkannya kepada ayahnya.

Dari contoh-contoh diatas kita melihat, bahwa kontrol sosial atau menasehati penguasa merupakan sunnah rasul dan tabi’at para pemimpin Islam. Rakyat, tanpa memandang status sosialnya merasa berkewajiban dan berani mengkritik atau mengoreksi segala kebijakan atau tindakan yang dilakukan pejabat Negara, pada setiap kesempatan terbuka. Sebaliknya, para pejabat Negara tanpa memandang posisi dan jabatannya merasa berkewajiban menerima kritik dan koreksi dari rakyatnya, tanpa ada perasaan tersinggung atau terrendahkan martabatnya, walau kritik dan koreksi dilakukan di depan umum.

Sikap yang tidak perlu
Lalu bagaimana dengan sikap para penguasa saat ini, alih-alih mencoba introspeksi atau bahkan menerima kritikan tersebut, malah mereka berapologi, membela diri,  menutupi kegagalan dengan kebohongan dan manipulasi, bahkan tidak sedikit direspon dengan serangan yang bersifat pribadi terhadap orang-orang yang bersikap kritis terhadapnya, yang jauh dari substansi kritik itu sendiri. Sebaliknya, Pencitraanlah yang sering dikedepankan. Tentu ini gampang dimaklumi, karena menerima kritik dalam pandangannya berarti menerima kegagalan, terima kegagalan berarti popularitas menurun, popularitas menurun 2014 bagaimana… dan seterusnya. Padahal masyarakat ini sudah semakin cerdas, kegagalan pemerintah tidak bisa lagi ditutup-tutupi. Kesengsaraan demi kesengsaran yang mereka rasakan tidak mungkin bisa diobati oleh kebohongan-kebohongan dalam banyak pidato para penguasa,  apalagi hanya dengan sekedar klaim keberhasilan dalam bentuk angka-angka yang terkadang sarat dengan manipulasi.

Untuk apa pertumbuhan ekonomi 6,1 persen jika rakyat tetap sengsara, hidup sendiri seperti tinggal  di negeri yatim piatu, tidak ada yang mengurus, justru yang mereka rasakan adalah penindasan demi penindasan. Pengusaha kecil dan menengah beralih menjadi pedagang, sebelum mereka menganggur, karena banyaknya hambatan berproduksi. Mereka tidak sanggup lagi bertahan sebagai produsen. Sebab, bertahan menjadi produsen sama saja dengan bunuh diri, bagai mana tidak bahan baku sulit diperoleh, tarif listrik terus naik. Dua hal itu saja sudah cukup untuk membunuh mereka apalagi ditambah barang-barang China yang membanjiri pasar dengan harga lebih murah. Inikah sebuah keberhasilan yang membuat para penguasa ini tuli, dan seperti tidak peduli, yang penting masih bisa beretorika. Perkara ada kesenjangan antara retorika dan fakta, itu soal lain. Dinilai gagal pun bukan persoalan, asalkan tidak dituding berbohong.

Sikap seperti itu bukan jalan keluar, bukan jalan keluar bagi masalah yang dihadapi bangsa ini, bahkan bukan jalan keluar bagi kepentingan anda sendiri. Ingatlah fiman Allah Swt, dalam alquran.

لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوا وَّيُحِبُّونَ أَن يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُم بِمَفَازَةٍ مِّنَ الْعَذَابِ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿١٨٨﴾

“Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih”. (QS. Ali Imran[3]:188)

Terkait asbabun nuzul ayat ini ada dua riwayat. Pertama terkait ahlul kitab yang ditanya oleh Rasulullah SAW, lalu mereka  mereka menjawab dengan jawaban yang bukan sebenarnya, mereka senang dengan kebohongan itu dan malah meminta dipuji. Riwayat kedua terkait dengan orang munafik yang selalu izin dalam setiap peperangan, duduk-duduk karena jihad dirasakan berat baginya, dan mereka senang dengan hal itu. jika Nabi menghampiri mereka, mereka keluarkan berbagai alasan, tak jarang mereka bersumpah demi tetap dipuji atas apa yang tidak mereka kerjakan.

Tentu tidak ada pertentangan diantara dua riwayat ini, karena pelajaran (al-ibrah) itu diambil dari keumuman lafadz bukan dengan kekhususan sebab, disamping banyak sekali ayat yang turun bukan karena satu sebab. Dalam Ayat ini Allah SWT, melarang kita memiliki sikap munafik dan gemar bermain citra atau berbohong demi menutupi kesalahan dan kegagalan.

Sistem gagal melahirkan penguasa bebal

Sikap penguasa di atas memang cermin sistem yang berlaku sekarang ini. Kapitalisme yang memang sudah cacat sejak lahir telah gagal wujudkan kesejahteraan bagi penganutnya, sehingga tak heran para penguasa selalu dituntun untuk menutupi cacat dan kegagalan itu. Sistem ini tidak memiliki pijakan yang kuat, sehingga setiap kritik yang ditujukan untuk memperbaiki sistem ini, selalu bermuara kepada kegagalan sistem itu sendiri, disadari atupun tidak. Sehingga sistem ini memang tidak perlu dipertahankan. Dan jika mau dipertahankan berarti harus siap, berani dan tanpa malu untuk tidak menerima kritik, dengan semua jurus kebohongan dan manipulasi. Walaupun kritik itu sendiri tetap diperbolehkan, supaya tetap dianggap demokratis. Akan tetapi apalah artinya keberadaan kritik itu, jika harus selalu bertabrakan dengan sikap penguasa yang disetting bebal oleh sistem yang sedang diterapkannya.

Khalifah penguasa sejati

Dengn Islam, sikap para penguasa di atas akan bisa diminimalisir kalau pun tidak bisa dihilangkan seluruhnya. Karena, dalam tradisi politik Islam, khalifah dan para pejabat di bawahnya memiliki kewajiban untuk menjawab semua koreksi dan kritik yang ditujukan kepadanya, dengan menjelaskan pandangan dan argumentasi yang menjadi landasan berbagai perkataan dan aktivitasnya termasuk kebijakan yang diambilnya. Baik dalam hal-hal yang dirasakan umat menyalahi hukum syariah, atau merupakan kebijakan yang kurang tepat, keliru, menimbulkan bahaya atau mengandung unsur kedzaliman terhadap rakyat.

Penjelasan ini bisa langsung disampaikan kepada individu atau kelompok di dalam masyarakat, atau disampaikan kepada wakil-wakil mereka yang ada di majlis umat. Jika majlis umat tidak bisa menerima pandangan khalifah dan membantah argumentasinya maka harus dilihat dulu. Jika hal itu terjadi dalam perkara yang menjadikan pendapat mayoritas bersifat mengikat bagi khalifah, maka pendapat majlis  dalam hal tersebut juga  bersifat mengikat bagi khalifah. Karenanya, Rasulullah SAW, mengikuti pendapat mayoritas sahabat untuk keluar dari madinah dalam perang uhud.  Sebaliknya, jika dalam perkara tersebut suara tersebut tidak bersifat mengikat seperti menyangkut perkara-perkara pemikiran yang memerlukan pengkajian mendalam dan analisis seperti untuk menyingkap kebenaran atau pendapat berbagai keputusan perang dan perkara-perkara yang memerlukan keahlian dan pengetahuan spesifik seperti penyiapan strategi perang atau menyangkut sains dan teknologi, maka dalam perkara-perkara demikian yang diambil adalah pendapat para ahli, sehingga khalifah tidak terikat dengan suara mayoritas. Karenanya, Rasulullah SAW, menerima pendapatnya Hubab Ibn al-Mundzir dalam masalah pemilihan tempat dalam perang badar.

Adapun jika pihak yang melakukan koreksi berselisih dengan penguasa dalam hal hukum syara yang diadopsi khalifah, maka perselisihan itu dikembalikan kepada Qadhi Mazhalim. Dan pendapat Mahkamah Mazhalim dalam hal ini bersifat mengikat, karena ialah yng memilki wewenang dalam kondisi ini. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya)”. (QS. An-Nisaa[4]:59).

Ayat ini di dalamnya berisi seruan kepada kaum Muslim, jika mereka berselisih dengan ulil amri dalam suatu perkara maka hendaknya mengembalikan perkara tersebut kepada Allah dan Rasulnya. Mengembalikan keputusan hukum kepada keduanya berarti menyerahkannya kepada mahkamah mazhalim. Karena, Rasululullah SAW, tidak mengambil pendapat para sahabat dalam hal keputusannya untuk melaksanakan perjanjian dengan kafir quraisy, karena itu merupakan wahyu yang diturunkan kepadanya.

Dari semua contoh di atas kita bisa lebih memahami bahwa khalifah bukanlah sosok yang anti kritik. Dialah pemimpin yang sejati, dan seperti itulah seharusnya para pemimpin negeri ini menyikapi setiap kritik yang ditujukan kepadanya.[hizbut-tahrir.or.id)]
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Mengkritik Penguasa Secara Terbuka Bolehkah?

KH. Shidiq Al Jawi
Oleh: KH. Shidiq Al Jawi

Tanya : Ustadz, bolehkah kita mengkritik penguasa secara terbuka?

Jawab :

Hukumnya jaiz (boleh) mengkritik penguasa secara terbuka, tidak haram. Dalilnya adalah kemutlakan dalil-dalil amar ma’ruf nahi mungkar kepada penguasa. (Muhammad Abdullah Al-Mas’ari, Muhasabah al-Hukkam, hal. 60; Ziyad Ghazzal, Masyru’ Qanun Wasa’il Al-I’lam fi Ad-Daulah Al-Islamiyah, hal.25).

Dalil-dalil tersebut antara lain sabda Nabi SAW, "Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdil Muthallib dan seseorang yang berdiri di hadapan seorang imam yang zalim lalu orang itu memerintahkan yang ma’ruf kepadanya dan melarangnya dari yang munkar, lalu imam itu membunuhnya." (HR Tirmidzi dan Al-Hakim).

Juga berdasarkan sabda Nabi SAW."Seutama-utama jihad adalah menyampaikan kalimat yang haq kepada penguasa (sulthan) atau pemimpin (amiir) yang zalim." (HR Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah). Juga berdasarkan hadits Ubadah bin Ash-Shamit RA tentang baiat kepada imam yang di dalamnya ada redaksi, "dan kami akan selalu mengucapkan kebenaran dimana pun kami berada, kami tidak takut karena Allah terhadap celaan orang yang mencela." (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Mengomentari dalil-dalil tersebut, Syaikh Muhammad Abdullah Al-Mas’ari berkata bahwa nash-nash tersebut bersifat mutlak, yakni tidak membatasi cara tertentu dalam menasehati nasehat penguasa, sehingga dapat disampaikan secara rahasia atau terbuka. (Muhammad Abdullah Al-Mas’ari, ibid., hal. 60).

Selain dalil-dalil ini, kebolehan mengkritik penguasa secara terbuka juga diperkuat oleh praktik para shahabat yang sering mengkritik para khalifah secara terbuka. Diriwayatkan dari Nafi’ Maula Ibnu Umar RA, ketika menaklukkan Syam, Khalifah Umar bin Khaththab tidak membagikan tanah Syam kepada para mujahidin. Maka Bilal RA memprotes dengan berkata,"Bagilah tanah itu atau kami ambil tanah itu dengan pedang!" (HR Baihaqi, no 18764, hadits sahih). Hadits ini menunjukkan Bilal mengkritik Khalifah Umar secara terbuka di hadapan umum. (Ziyad Ghazzal, Masyru’ Qanun Wasa’il Al-I’lam fi Ad-Daulah Al-Islamiyah, hal.24)

Diriwayatkan dari ‘Ikrimah RA, Khalifah Ali bin Thalib RA telah membakar kaum zindiq. Berita ini sampai kepada Ibnu Abbas RA, maka berkatalah beliau,"Kalau aku, niscaya tidak akan membakar mereka karena Nabi SAW telah bersabda, 'Janganlah kamu menyiksa dengan siksaan Allah (api),' dan niscaya aku akan membunuh mereka karena sabda Nabi SAW,’Barangsiapa mengganti agamanya, maka bunuhlah dia." (HR Bukhari). Dalam hadits ini jelas Ibnu Abbas mengkritik Khalifah Ali bin Thalib secara terbuka. (Ziyad Ghazzal, Masyru’ Qanun Wasa’il Al-I’lam fi Ad-Daulah Al-Islamiyah, hal.25).

Berdasarkan dalil-dalil di atas, boleh hukumnya mengkritik penguasa secara terbuka di muka umum, baik di media massa seperti di internet, koran, majalah, maupun saat demonstrasi, di pasar, di kampus, dan sebagainya.

Sebagian ulama mengharamkan mengkritik pemimpin secara terbuka berdasar hadits Iyadh bin Ghanam, bahwa Nabi SAW berkata,"Barangsiapa hendak menasehati penguasa akan suatu perkara, janganlah dia menampakkan perkara itu secara terang-terangan, tapi peganglah tangan penguasa itu dan pergilah berduaan dengannya. Jika dia menerima nasehatnya, itu baik, kalau tidak, orang itu telah menunaikan kewajibannya pada penguasa itu." (HR Ahmad). Menurut Syaikh Muhammad Abdullah Al-Mas’ari, hadits ini dha’if karena sanadnya terputus (inqitha’) dan ada periwayat hadits yang lemah, yaitu Muhammad bin Ismail bin ‘Iyasy. (Muhasabah al-Hukkam, hal. 41-43). Wallahu a’lam.(sasak.net)
.........Lihat Selengkapnya