Tampilkan postingan dengan label facebook. Tampilkan semua postingan

gravatar

Andai Hewan Bisa Facebook-an dan Bisa mengerti Tingkah Polah Manusia....


Mungkin ini kali ya... yang akan mereka katakan:

Kucing: meong...Denger-denger kalian habis meneliti dunia manusia ya? gimana Hasilnya?

Monyet: wah gue kaget cing...ternyata ada yang ngaku-ngaku jadi anak turunan gue. itu tuh si Darwin...(*bangga mode on)

Kambing: kalo aku dapetnya gak enak banget, kalo ada yang main tuduh eh...aku yang disebut-sebut (Kambing Hitam).

Kancil: hehehe...kasihan lo Bing, kalo aku bangga banget soalnya kecerdikanku ditiru sama mereka buat Nyuri duit Rakyatnya.

Keledai: eh Cil jangan bangga dulu, btw Kebodohanku ternyata juga ditiru low oleh Penguasa, lihat saja Sumber daya alam Indonesia sekarang sebagian besar udah mereka limpahkan pengelolaannya ke Asing. rakyatnya hanya jadi kuli2...
bodoh banget nggak tuch...

Buaya: Woi...diam semua brani-braninya kalian nyindir Penguasa...(*gue kan dilambangkan pelindung penguasa)...hehehehe...

Cicak: enak bener lo Buaya..., kalo aku dijadikan simbol orang-orang tertindas..fiuh...chape dech.... -,-!

Ular: hahaha...hallow..jangan lupakan gue, btw jurus gue sering mereka pake juga low...gak Percaya? coba aja lihat kasus Century...kasus Suap Pemilihan direktur BI Miranda Gultom...dll. (*berbelit-belit mode on)

Tikus: Benci aku...benci...benci...!!! kenapa gue jadi lambang Korupsi mereka? padahal gak semua juga gue makan, sedangkan mereka para Pejabat Mafia, semuanya diembat....huh...!!!

Semut: Sebenarnya konsep persatuan/koalisi yang gue bangun bagus untuk mereka tiru, cuma sayang mereka memakainya untuk gotong royong dalam hal keburukan. lihat saja Undang-undang yang mereka hasilkan dari sidang mereka. banyak sekali yang merugikan Rakyat...(memang semua tak lepas dari proyek...yang jelas hasilnya mereka sama-sama menikmati diatas penderitaan rakyatnya).

Bunglon: Masih mendingan low semua, dari pada gue. ilmu gue mereka pake untuk menipu ummat Islam oleh beberapa partai yang ngaku-ngaku Islam. kebawah bilangnya berjuang untuk syariat eh...diatas ternyata hanya untuk meraih Kursi jabatan. (*kerasa jadi simbol kemunafikan gue)...huhuhuhu...(*nangis mode on)

Badak: ya..ya..ya...sabar ya bunglon emang mereka suka begitu, namanya juga mereka pake muka Gue..ya begitulah jadinya...wedew... -_-!

Singa: betul juga sibadak, tapi gak cuma lo yang merasa bersalah, gue juga. soalnya ini semua terjadi gara-gara mereka meniru hukum gue (Hukum Rimba)...aku sebagai Raja Rimba merasa sangat geram...mereka yang dikasih akal sehingga bisa mengenal Syariat Islam dan Khilafah malah tidak mau menerapkannya...malah memilih hukum hewan...!!!
(Versi Miaubook terinspirasi dari bang Gun)
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Berita heboh dunia FACEBOOK

Mayoritas Netter Indonesia Akses via Ponsel
61,88 persen pengguna Internet Indonesia mengakses melalui ponsel.ini berarti Berarti pengguna Internet mobile Indonesia mencapai 24.195.080 orang.


Pengguna Asal RI Buka Facebook 2 Kali Sehari

Riset menyebutkan, 53,69 persen pengguna internet Indonesia buka Facebook 2 kali sehari. Indonesia merupakan negara pengguna Facebook terbesar kedua setelah negara asal jejaring sosial itu sendiri, Amerika Serikat. Menurut data situs CheckFacebook, Indonesia memiliki tak kurang dari 35.174.940 pengguna Facebook.

Setiap hari, sekitar 30,87 persen pengguna Facebook Indonesia mengecek Facebook mereka sekali. Sementara 15,44 persen lainnya mengaku tak menggunakan Facebook. Namun jumlah pengguna Indonesia yang mengecek Facebook mereka lebih dari sekali dalam sehari, sangat tinggi, yakni 53,69 persen.

Di antara mereka, 18,12 persen mengecek Facebook sebanyak 2-3 kali. Adapun yang mengecek Facebook 4-6 kali adalah sebanyak 6,71 persen. Tapi yang paling mengagetkan adalah mereka yang mengecek Facebook lebih dari itu.

"28,86 persen orang Indonesia mengecek Facebook lebih dari enam kali sehari. Wow!" ujar Russ Conrad, Regional Director Effective Measure untuk Asia Tenggara, pada materi presentasinya yang dipaparkan pada acara panel diskusi Effective Measure–PPPI, di Jakarta.

WASPADA....Facebook Jadi Modus Kasus Perkosaan

Jejaring sosial Facebook belakangan ini banyak dijadikan sarana bagi para pemerkosa untuk menjerat korban-korban mereka yang notabene masih berusia anak-anak dan remaja.

Hal ini diungkapkan oleh Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Surabaya, Rabu 10 Maret 2011. Menurut Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polrestabes Surabaya, Ajun Komisaris Herlina, kasus pencabulan sering terjadi belakangan ini, melalui modus perkenalan lewat Facebook.

Diawali perkenalan melalui Facebook, dilanjutkan dengan jumpa di darat, kemudian mereka berpacaran, hingga akhirnya banyak terjadi kasus pemerkosaan. "Mereka terjerumus melalui Facebook," kata Herlina.

Herlina menjelaskan, modus pemerkosaan lewat Facebook ini ditempuh dengan beragam cara. Mulai dari saling kenal dan berpacaran biasa, hingga jebakan yang sudah direncanakan sebelumnya.

Menurut Herlina, banyak anak-anak yang tidak dapat mengontrol dan menyikapi dengan baik sarana pertemanan di dunia maya seperti Facebook ini, sehingga memakan korban yang tidak sedikit. Pelakunya pun tak jarang adalah remaja.

Kasus pemerkosaan terakhir yang terjadi di Jawa Timur, adalah pencabulan yang diduga dilakukan oleh pria berinisial AS, 18 tahun terhadap Nonik, 13 tahun. AS adalah siswa kelas III di sebuah SMA, sementara Nonik masih duduk di kelas II SMP. "AS dan Nonik saling kenal pada akhir 2010 di Facebook," jelas Herlina.

Kasus ini sendiri baru terkuak saat orangtua korban melaporkan kasus ini kepada polisi. Modus kasus ini, korban sengaja dibuat mabuk oleh pelaku, dan saat tidak sadarkan diri, kemudian diperkosa.

Kasus semacam ini yang kini tengah marak terjadi. "Sepanjang 2010, kami punya 26 kasus serupa yang ditangani unit PPA," kata Herlina. Dan dari 26 kasus tadi, 8 kasus di antaranya, pelakunya masih tergolong anak-anak atau belum genap 18 tahun.

Anjing Mark Zuckerberg

Zuckerberg memang membuatkan anjingnya akun di Facebook lengkap dengan foto dan profil. Namun akun anjing bernama Beast itu dianggap tidak melanggar aturan Facebook karena bukan akun personal, melainkan fan page yang dikhususkan untuk penggemar.
(dirangkum dari: vivanews)

xixixxixixi.....MUSUH BESAR SI EMPUS....wkwkwkk....
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Kenalan di Facebook, Pria Peristri Pria yang Menyamar Wanita

JATIASIH, Hati-hati jika berkenalan dengan seseorang melalu jejaring sosial Facebook. Seorang pria berinisial MU, warga Kampung Bojong RT 001/002 No.1 Kelurahan Jatiasih, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi harus menanggung malu lantaran memperistri seorang pria yang pura-pura menjadi wanita selama enam bulan. Keduanya berkenalan lewat Facebook.
Kasus tersebut terungkap dalam laporan pelaku di Kepolisian Sektor Jatiasih, Jumat (1/4). Dalam keterangan yang diberikan korban kepada pihak kepolisian, pelaku yang berinisial RS mengaku sebagai wanita dengan menggunakan nama samaran Fransiska Anastasy Oktaviany. Pelaku yang berasal dari Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur tersebut memakai jilbab serta berperilaku layaknya wanita saat bertemu dengan korban pada Agustus 2010.

Lantaran perilaku dan pakaian tersebut, korban percaya kepada pelaku bahwa dia benar-benar wanita. Untuk lebih meyakinkan korban, pelaku membawa kedua orangtuanya yang pada pemeriksaan kepolisian ternyata dipalsukan ke rumah korban. Pelaku bahkan sempat menginap selama satu minggu pada September 2010 di rumah korban.

Setelah menginap di rumah pelaku, korban kemudian mengajak pelaku untuk menikah. Keduanya kemudian menikah pada 19 September 2010 dengan dihadiri orang tua korban bernama Jayalana dan Minah. Keduanya menikah secara resmi dan mendapatkan surat nikah asli yang dikeluarkan oleh KUA Jatiasih.

Selama enam bulan menjalani pernikahan, pelaku berperilaku selayaknya seorang istri. Bahkan, keduanya pun menjalani hubungan suami istri. Hanya saja, pelaku selalu menutupi fisiknya kepada korban. Pelaku selalu menepis kemauan korban untuk melihat fisik yang bersangkutan dengan berpura-pura sedang datang bulan.

Menurut Kanitreskrim Polsek Jatiasih, Aiptu Sentot Trihandoko, pelaku memalsukan sejumlah dokumen pribadi seperti KTP, Akte kelahiran, dan Kartu Keluarga. Sebagai syarat pernikahan, dokumen pribadi tersebut hanya menggunakan bukti fotokopi tanpa ada dokumen asli. “Pelaku hanya menyeratakan dokumen fotokopi. Dokumen itu dipalsu dengan cara menimpa yang asli dengan nama pelaku kemudian difotokopi, “ ujarnya.

Kecurigaan pelaku terhadap korban ketika yang bersangkutan berperilaku kasar dan berjenggot. Sentot menceritakan warga sekitar kemudian menuntut pelaku untuk memeriksakanfisiknya ke sebuah klinik. “Tapi setelah keluar klinik, pelaku juga membawa surat keterangan palsu bahwa dirinya benar berjenis kelami wanita, “ ujarnya.

Lantaran warga masih curiga dengan surat tersebut, warga kemudian mendatangi klinik dan mempertanyakan keaslian surat. Dari pihak klinik tersebut, surat keterangan itu dinyatakan tidak pernah dikeluarkan oleh dokter dari pihaknya. “Sampai di rumah, warga meminta pelaku untuk ditelanjangi. Tapi saat mau diperiksa, pelaku mengaku ternyata laki-laki, “ ujarnya.

Menurut keterangan pelaku, kedua orang tuanya ternyata merupakan orang bayaran. Untuk berpura-pura menjadi orangtuanya, masing-masing dibayar Rp 200.000. “Keduanya dapat dijerat turut serta melakukan tindak kriminal, “ ujar Sentot.

Setelah korban membuat laporan ke Polsek Jatiasih, pelaku dijadikan tersangka yang dijerat dengan pasal 226 dan atau 378 KUHPidana tentang kasus menempatkan keterangan palsu ke dalam suatu akte authentik. Pelaku yang kemudian ditahan di Polsek Jatiasih untuk pemeriksaan lebih lanjut terancam hukuman tujuh tahun penjara.[republika, Jumat, 01 April]
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Dan Facebook Pun Tutup Intifadhah III

YERUSALEM, Akhirnya, situs jejaring di internet, Facebook, menghapus akun Intifadhah Palestina Ke-III, Selasa (29/3). Pemilik Facebook menilai akun itu tersebut bertujuan untuk mengangkat senjata melawan Israel.

Penghapusan akun Intifadah Palestina Ke-III tak lepas dari protes yang diajukan pemerintah Israel ke pendiri Facebook, Mark Zuckerberg. Israel menuding akun Intifadhah semakin memperuncing konflik politik dan bertentangan dengan kebebasan berekspresi dan perlawanan terhadap penyebaran kebencian.

Intifadha Palestina Ke-III telah memiliki lebih dari 350.000 fans ketika diblokir. Akun ini mengajak warga Palestina turun ke jalan setelah shalat Jumat pada 15 Mei mendatang untuk memulai pemberontakan. "Hari Kiamat hanya akan tiba jika kaum Muslimin telah membunuh semua orang Yahudi," bunyi status Intifadhah.

Menurut pengelola Facebook, halaman tersebut dibuat sebagai ajakan melakukan protes damai walau menggunakan istilah “intifadhah” yang terkait dengan kekerasan di masa lalu. "Walau demikian, setelah mendapatkan publisitas, komentar-komentar yang muncul kian memanas dan langsung mengajak pada kekerasan. Pencipta halaman itu akhirnya mengajak melakukan kekerasan juga," kata Andrew Noyes, Manajer Komunikasi dan Kebijakan Publik Facebook.

"Kami memonitor tiap yang dilaporkan kepada kami, dan ketika mereka mengajak langsung pada kekerasan atau ekspresi kebencian—seperti yang terjadi dalam kasus ini—kami harus dan akan langsung melenyapkannya," tegas Noyes. “Walau bukan kebiasaan kami untuk menghilangkan konten yang menentang negara-negara, agama, entitas politik, atau ide-ide.”

"Revolusi Facebook", kata Moyes, turut berperan dalam menjatuhkan rezim di Mesir dan Tunisia. Situs jejaring sosial telah menjadi agen perubahan dan alat politik yang kuat, yang menuntut para pengguna di seluruh dunia membuat aturan-aturan ketika mengunggah konten.[republika,Kamis, 31 Maret 2011]
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Jangan Sembarang Klik URL Pendek di Facebook

Jakarta, Tak hanya pesan berbahasa asing, kini muncul juga pesan dengan Bahasa Indonesia yang menjebak pengguna Facebook. Terutama, pengguna perlu mewaspadai URL pendek.

Peringatan itu disampaikan Alfons Tanujaya, peneliti antivirus dan keamanan komputer dari Vaksincom, kepada detikINET, Selasa (29/3/2011).

"Lagi ramai 'jebakan betmen' nih di Facebook. Jadi tinggal klik satu link saja, langsung akun FB korban melakukan posting tanpa persetujuannya," ujar Alfons.

Menurut Alfons, pelaku bisa melakukan serangan ini dengan metode Cross Site Scripting (XSS). Ia menduga, kebanyakan yang jadi korban justru pengguna smartphone seperti BlackBerry.

Ini karena, ujarnya, pengguna perangkat itu jika mengklik link jebakan bisa langsung terbuka halamannya. Sedangkan pengguna browser desktop umumnya akan mendapati peringatan sebelum halaman dimunculkan.

Menilik bahasa yang dipakai, Alfons yakin ada keterlibatan pelaku dari Indonesia. "Ini jelas bikinan lokal," tuturnya.

Nah, untuk menghindarinya, Alfons menyarankan pengguna smartphone untuk lebih waspada saat ada link dari layanan pemendek URL.

"Pokoknya semua penyingkat url hindari untuk di-klik, karena jadi nggak ketahuan link aslinya," ujar Alfons.

Berikut adalah contoh pesan-pesan yang bisa menjebak pengguna Facebook:

    * jangan salahin w kalo lo bakal ngakak ngeliat ni orang http://tinyurl.com/***pahh
    * hiks..hiks..hiks..barusan mampir dari http://goo.gl/***vc KEREN bgt swearr.. buruan...mampir

(detikinet.com, Selasa, 29/03/2011)
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Apa? Intelijen boleh menyadap lalu menangkap, menahan orang hanya karena komentarnya di Facebook atau Twitter

**cerita Fiktif
Intelijen adalah alat negara untuk melindungi negara dan segenap warganya. Namun, hal ini menjadi paradoks karena ketika intelijen diberikan wewenang, sering kali yang terancam malah warga negara itu sendiri.

Pengamat militer Andi Widjajanto mengingatkan akan ”negara intelijen” yang ditandai dengan kehadiran Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) dengan kekuasaan tak terbatas demi stabilitas terkendali dan demi ”pembangunan”.

Di sisi lain, intelijen yang kuat dan profesional sangat diperlukan. Al Araf, peneliti dari Imparsial, menyampaikan, banyak ancaman terhadap keamanan nasional, seperti terorisme, penyelundupan senjata, separatisme bersenjata, penjualan wanita dan anak-anak, serta narkoba. Sementara ancaman yang bersifat tradisional, seperti masalah perbatasan Indonesia-Malaysia di Ambalat, masih marak. Diperlukan intelijen yang andal untuk membawa informasi yang valid demi pengambilan keputusan yang tepat oleh Presiden.

Oleh karena itu, pembahasan RUU Intelijen Negara yang sedang berjalan antara Komisi I DPR dan pemerintah diharapkan dapat menguatkan intelijen, yaitu dengan memberi landasan hukum untuk pengaturan organisasi, kegiatan, dan produk intelijen. Namun, penguatan ini harus dilakukan dalam koridor Indonesia negara demokrasi yang menjunjung hak asasi manusia. Tujuan akhirnya adalah UU Intelijen Negara yang berpihak terhadap kepentingan rakyat Indonesia.

Ada beberapa hal yang dipertanyakan dalam RUU Intelijen Negara yang diajukan DPR, apalagi tambahan yang diajukan pemerintah. Pertama, soal pemisahan antara intelijen luar negeri dan dalam negeri yang tidak jelas. Padahal, keduanya memiliki perbedaan mendasar. Intelijen luar negeri berfungsi untuk mengumpulkan data dan melakukan tindakan spionase terhadap pihak asing yang dianggap mengancam keamanan nasional. Adapun intelijen dalam negeri mewaspadai kemungkinan makar, subversi, terorisme, separatisme, dan sabotase.

Ketidakjelasan pemisahan antara intelijen luar negeri dan dalam negeri ini diperparah dengan tidak dipisahkannya fungsi intelijen dalam negeri dan penegakan hukum. Usulan pemerintah agar Badan Intelijen Negara (BIN) memiliki kewenangan pemeriksaan intensif maksimal 7 x 24 jam adalah kesalahan fatal karena penangkapan dan penahanan merupakan domain polisi. Pihak yang mendukung argumen ini menyampaikan contoh, bagaimana cikal bakal terorisme tak bisa ditangkap karena tidak ada landasan hukumnya.

Namun, hal ini dengan mudah dibantah. Pemberian wewenang penangkapan membawa masyarakat pada situasi negara yang darurat secara permanen. Padahal, hal-hal itu bisa diatur secara ad hoc, sekiranya negara berada dalam keadaan krisis. Penangkapan cikal bakal teroris, misalnya, bisa diatur dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Kewenangan pemeriksaan intensif hanya satu contoh dari perbedaan antara draf awal RUU Intelijen Negara dan usulan pemerintah, yaitu keberadaan BIN. Pemerintah masih setia dengan pola pikir perlunya pemusatan kekuasaan intelijen pada satu institusi terpusat, seperti Kopkamtib. Argumennya, demi efektivitas kerja intelijen. Namun, hal ini pun bisa dibantah. ”Tidak perlu ada badan yang mengoordinasikan intelijen. Memang harusnya terpisah. Kalau ada krisis, baru membuat satgas gabungan intelijen,” kata Andi Widjajanto.

Selain wewenang penangkapan, BIN juga akan dilengkapi dengan kewenangan untuk menyadap alias memata-matai warga negaranya sendiri. Tidak saja surat elektronik, akun di jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter yang akan dimata-matai, sebagaimana sudah dilakukan saat ini. Namun, kebebasan publik yang menjadi taruhan. Intelijen yang boleh menyadap lalu menangkap tadi bisa menahan orang hanya karena komentarnya di Facebook atau Twitter, ucapan dalam percakapan telepon, atau obrolan saat nongkrong di angkringan.

Menurut Widjajanto, wewenang menyadap ini hanya bisa dilakukan kalau otoritas politik telah membuat sebuah pernyataan publik tentang seseorang atau organisasi yang dianggap bisa membahayakan keamanan negara. Dengan demikian, warga sipil tidak takut. Sementara Al Araf berpendapat, penyadapan mutlak memerlukan izin pengadilan. ”Kalau pengadilan menilai penyadapan disalahgunakan, aparat intelijen bisa diproses hukum,” kata Al Araf.

Ada sederet catatan. Pertama, tidak disebutkan aparat dan institusi intelijen tidak boleh berpolitik. Padahal, bukan rahasia lagi kalau banyak penggalangan dan pengondisian politik dilakukan oleh intelijen demi kepentingan rezim petahana. Kedua, RUU ini belum menunjukkan mekanisme koreksi seperti keluhan publik atas kelalaian kerja intelijen.[Kompas Jumat, 25 Maret 2011, judul: "RUU INTELIJEN. Untuk Rakyat atau Penguasa?"]
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

BIN akan Awasi Jejaring Sosial Internet

JAKARTA, Revolusi yang terjadi di negara Arab lahir dari soliditas yang dihadirkan di jejaring sosial, yang menyerbak menjadi gerakan sosial. Terkait ini, Badan Intelijen Negaran (BIN) memiliki keinginan untuk memantau upaya subversif yang lahir melalui jejaring sosial.

Kepala BIN, Sutanto, mengatakan pihaknya akan melakukan pemantuan gerakan yang membahayakan dan mengancam keutuhan NKRI, yakni berupa teror dan subversif. Menurut dia, jika bentuk subversif dan teror itu berasal dari dunia maya, yakni melalui jejaring sosial, pihaknya akan berkoordinasi dengan Menkominfo. "Yang membahayakan apalagi yang arahnya teror dan subversif tentu kami pantau," tuturnya.

Nantinya, lanjut dia, data dari pelaku teror dan subversif itu akan diserahkan BIN kepada lembaga yang berwenang untuk menindaknya. "Kita serahkan ke Menkominfo. Biar menkominfo yang menentukan langkahnya. Bukan BIN yang mengambil langkah itu," tuturnya.

"Jejaring sosial itu untuk komunikasi masyarakat. Kalau dimanfaatkan oleh pihak tertentu akan kita pantau," tukasnya.(republika, 22 Maret 2011)

Comment:


kalo begitu, udah gak ada yang bisa di Privasi di dunia maya, semua akan terbongkar, baik yang baik maupun yang buruk...Waspadalah....waspadalah...
btw kira-kira postingan Miaubook bakalan di intelin juga nggak ya.... 


<(^_^)>
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Para Tamu dari FACEBOOK

selamat datang di political Islam news, 
salam kenal dari aku yang 
slalu usil tapi tetep ideologis...
silahkan tinggalkan pesan dibawah ini, bagi yang memiliki akun FB, yahoo, AOL, dan Hotmail.
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

PKS Siapkan 500 Ribu Kader 'Kuasai' Twitter & Facebook di Indonesia

Gerakan 'menguasai' informasi di sosial media
Jakarta - Pemilu 2014 masih beberapa tahun ke depan. Namun PKS sudah menyiapkan jurus-jurus untuk memenangkan pemilu mendatang. Salah satunya dengan mewajibkan kader dan pengurus partai untuk menguasai dan menyebarkan informasi di ranah sosial media.

"Insya Allah ada 500 ribu kader PKS yang masuk sosial media dalam waktu dekat. Ini diarahkan untuk kepentingan menuju Pemilu 2014, sebagai bentuk kampanye untuk mensukseskan partai mencapai target 3 besar dalam Pemilu 2014," kata Sekjen PKS Anis Matta di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (28/2/2011).

Gerakan 'menguasai' informasi di sosial media ini sudah diluncurkan di Mukernas PKS Yogyakarta. Saat itu disampaikan agar kader PKS dan pengurus harus punya akun twitter, blog, Facebook, dan website pribadi.

"Hal ini dilakukan supaya kita masif di dunia jejaring sosial. Supaya semua kader jadi ujung tombak komunikasi publik kita," imbuh Anis.

Jadi, sambung Anis, komunikasi publik tidak hanya menjadi kewajiban DPP PKS, tetapi juga kewajiban bagi kader, sehingga mereka dapat membela apabila ada yang mendiskreditkan PKS.

"Ini semacam gerakan sosial media yang masif," ujar Anis.(ndr/fay)(detik.com, Senin, 28/02/2011)
.........Lihat Selengkapnya