Tampilkan postingan dengan label peradaban. Tampilkan semua postingan

gravatar

THE END OF WESTERN CIVILIZATION

Peradaban Barat (Western Civilization) saat ini telah menjadi kiblat bagi umat manusia. Karena pada faktanya peradaban inilah yang sedang mendominasi dunia saat ini. Modernitas Barat pun dipandang sebagai tolok ukur maju tidaknya sebuah negara. Ini merupakan hasil invasi pengaruh Barat dalam seluruh aspek (politik, budaya, ekonomi, dsb) atas negara-negara lain terutama negara-negara dunia ketiga. Tatkala makin meluasnya pangaruh negara Barat maka semakin kuat pula cengkeraman imperialisme mereka.

Dalam persoalan politik, Barat mempropagandakan konsep Demokrasi-Liberal sebagai konsep sistem pemerintahan. Propaganda ini pun semakin kuat hingga mampu menyeret kaum Muslim untuk masuk dalam pusaran gelombang isu demokrasi. Maka agar tidak dikatakan ketinggalan jaman, kaum Muslim beramai-ramai meneriakkan demokrasi dan menganggapnya sebagai konsep ideal untuk mengatur negara. Fenomena ini membuktikan kebenaran perkataan Ibnu Khaldun bahwa ada kecenderungan manusia untuk mengikuti tradisi pihak yang menang (al-maghluub muu’laun Abadan bil-iqtida’ bil-ghaalib). Karena saat ini peradaban Barat adalah peradaban yang menang, yang telah mampu melebarkan pangaruhnya serta menjadi kiblat dalam pemikirannya.

Gagasan Francis Fukuyama dalam bukunya “The End of History and The Last Man”, menarik untuk dicermati. Dalam bukunya tersebut Fukuyama menyebutkan bahwa demokrasi liberal merupakan titik akhir dari evolusi ideologi. Setelah Komunisme tergeser dari peradaban dunia, Fukuyama berpandangan bahwa tidak ada lagi tantangan yang serius bagi demokrasi liberal. Untuk menjaga eksistensi demokrasi maka Fukuyama menyarankan untuk menjalankan proses sekularisasi sebagai prasyarat dari demokratisasi. Gagasan ini pun kembali dipertanyakan, apakah benar demokrasi liberal yang dikomandoi Amerika Serikat (AS) sebagai akhir dari perjalanan sejarah?

Gugatan terhadap sistem demokrasi pun bermunculan. AS sendiri pun sebenarnya tidak pernah benar-benar menerapkan demokrasi sebagaimana dalam teorinya. Demokrasi dalam perjalanan sejarah Barat hanya sekedar jargon. Lihat saja struktur PBB yang tidak demokratis masih dipertahankan. Sejak berdirinya, PBB telah membuat sistem aristokrasi dengan didominasi oleh lima negara yang disebut “The Big Five” (AS, Inggris, Perancis, Rusia, Cina) yang memiliki hak istimewa berupa hak veto. Demokrasi pun menjadi tidak berlaku jika bertentangan dengan kepentingan Barat. Kasus Palestina menjadi contoh korban arogansi dan sikap paradoks Barat. Resolusi yang dikeluarkan DK PBB pun menjadi tidak bertaring dan selalu dimentahkan AS. Sehingga ketidakadilan pun terus berlangsung. Dunia boleh berteriak dan mengecam sikap Barat atas ketidakadilan mereka, ketimpangan distribusi, tentang double standard. AS tidak peduli, the show must go on.

Barat berusaha menjadikan peradabannya sebagai peradaban tunggal. Nilai-nilai Barat terus diekspor lewat apa yang disebut sebagai neo-imperialisme. Imperialisme gaya baru inilah yang diyakini Barat sebagai metode untuk menyebarkan ideologi Liberalisme Kapitalisme ke seluruh dunia. Neo-imperialisme ini hakikatnya adalah wajah baru dari kolonialisme klasik. Dieter Nohlen (1994) mendefinisikannya sebagai politik yang bertujuan menguasai dan mengendalikan bangsa-bangsa lain di luar batas negaranya, baik secara langsung (melalui perluasan wilayah) atau secara tidak langsung (mendominasi politik, ekonomi, militer, budaya).

Hal tersebut dilakukan semata-mata untuk mengukuhkan ide, tesis, pemahaman, berbagai tolok ukur, maupun sistem yang mereka hasilkan kepada negara lain. Barat meyakini dengan cara inilah peradaban mereka akan terus eksis sepanjang sejarah. Seperti yang diungkap oleh Bernard Lewis, salah seorang perumus kebijakan strategi AS, ia mengatakan: “Telah menjadi sebuah kebiasaan kita di Dunia Barat apabila orang-orang Timur (baca: Islam) menghadap kita, maka kita semakin bertambah berpegang teguh dengan nilai Barat, agar kita menjadikan diri kita, sebagai teladan dalam keistimewaan dan kemajuan. Maka, apabila mereka mengikuti kita, hal itu kita anggap sebagai perkara yang sangat baik.”1

Sesungguhnya upaya untuk menjadikan peradaban Barat sebagai peradaban tunggal bagi umat manusia merupakan upaya pemaksaan nilai-nilai Barat ke Dunia Timur. Para intelektual dan sejarawan Barat berasumsi bahwa peradaban Barat kontemporer telah sampai pada puncaknya. Dengan demikian, seluruh bangsa harus mempercepat langkahnya untuk menyusul rombongan masyarakat Barat, sehingga sampai pada puncak yang telah dicapai pada puncak yang telah dicapai oleh peradaban manusia. Maka muncullah istilah “Persatuan Peradaban Kemanusiaan” (wahdat al-hadharah al-insaniyah).

Bush berkata, “Peradaban Barat bukanlah nilai-nilai Amerika atau –seperti anda tahu– bukan pula nilai-nilai Eropa. Peradaban Barat merupakan nilai-nilai universal. Karena universal, nilai-nilai itu, seharusnya diterapkan di setiap tempat.” Blair berkata, ”Peradaban kita bukanlah nilai-nilai Barat, ia adalah nilai-nilai universal dari semangat kemanusiaan. Dan di manapun…di manapun, kapan saja, rakyat biasa diberikan kesempatan untuk memilih. Pilihanya adalah sama: kebebasan, bukan tirani; demokrasi, bukan diktator; tertib hukum, bukan hukum dari polisi rahasia.”

Samuel Huntington menyanggah orang-orang yang mengatakan bahwa peradaban Barat adalah peradaban universal bagi seluruh umat manusia, melalui perkataannya, “Jika memang benar bahwa peradaban Barat mampu menembus seluruh dunia, maka konsep-konsep Barat mempunyai perbedaan mendasar dengan apa yang telah berlaku secara umum di berbagai peradaban lain. Pemikiran-pemikiran Barat tentang individualisme, liberalisme, demokrasi, pasar bebas, sekulerisme, bukanlah sebuah konvensi yang punya daya tarik dalam tsaqofah Islam, Konfuisme, Sinto, Hindu, Budha, atau Ortodoks…. Sebuah konsep yang mengatakan adanya peradaban universal merupakan produk pemikiran Barat, yang sangat tampak pertentangannya dengan karakteristik mayoritas masyarakat Asia, dimana banyak perkara yang telah mengakar di dalam masyarakat tersebut yang membedakan satu bangsa dengan yang lain.”2

‘Jalan Kematian’ Peradaban Barat

Walau pada kenyataannya peradaban Barat saat ini menghegemoni dunia, tetapi sesungguhnya peradaban ini sedang menuju ‘jalan kematiannya’ sendiri. Marvin Perry dalam bukunya “Western Civilization: A Brief History” mengatakan, “Western civilization is a grand but tragic drama.” Perry mengungkapkan, peradaban Barat adalah peradaban yang besar, tetapi merupakan drama yang tragis. Meskipun Barat mengalami kemajuan dalam bidang sains dan teknologi, tetapi gagal dalam menyelesaikan penyakit sosial.3

Akibat ide liberalisme yang melahirkan kebebasan individu tanpa batas, kriminalitas meningkat tajam. Lebih dari seperlima wanita di Inggris mengalami kekerasan seksual ketika mereka masih anak-anak. Di Negara itu , tiap menit polisi menerima telepon dari masyarakat yang meminta bantuan akibat kekerasan rumah tangga. Satu dari empat wanita di Inggris telah mengalami pemerkosaan atau dicoba untuk diperkosa. Tiap minggu di Inggris, satu hingga dua anak mati karena kekejaman. Satu dari tiga anak-anak hidup dalam kemiskinan. Lebih dari 25 persen dari seluruh pemerkosaan yang dicatat polisi dilakukan terhadap anak-anak di bawah usia 16 tahun. Setengah juta orang usia lanjut diperlakukan dengan kasar, terutama karena tidak mempedulikan mereka. Lingkaran hutang menjerat keseharian masyarakat Inggris. Hutang konsumen di Inggris berada pada angka £ 1.3 triliun, suatu angka yang mengejutkan.

Barat juga telah menciptakan jurang antara orang kaya dan miskin. Laporan United Nations Human Development tahun 1999 menyebutkan, seperlima orang terkaya dari penduduk dunia mengkonsumsi 86% semua barang dan jasa. Sedangkan seperlima yang termiskin hanya mendapatkan 1% lebih sedikit. Seperlima yang terkaya juga menikmati 82% perdagangan dan 68% Investasi Asing Langsung (FDI=Foreign Direct Investment), sedang seperlima yang termiskin hanya mendapatkan 1% lebih sedikit (The International Forum on Globalization, 2004:31).

Sekulerisme sebagai pondasi peradaban Barat telah melahirkan sistem yang cacat. Sistem demokrasi liberal dengan konsep trias politikanya telah gagal menjadi sistem yang ideal bagi umat manusia. Doktrin trias politika yang digagas Montesquieu dalam Spirit of Law, telah menjadikan sistem demokrasi membentuk rezim otoritarian baru, yakni pemilik modal. Para pemilik modal telah menguasai ketiga lembaga negara demokrasi (eksekutif, legislatif, yudikatif). Fungsi ketiganya telah lumpuh akibat kekuasaan para pemilik modal, hingga lahirlah negara korporasi.

Gambaran hubungan antara penguasa dan pemilik modal tampak jelas di negara Barat seperti AS. Sebut saja mantan Wakil Presiden AS, Dick Cheney, yang merupakan CEO Halliburton yang bermasalah. Mantan Menlu AS Collin Powel juga pernah duduk sebagai dewan direktur AOL. Terdapat juga nama Thomas White mantan eksekutif Enron (yang juga bermasalah), dan Paul O’Neill, mantan CEO Alcoa, perusahaan alumanium terbesar dunia.

Krisis Keuangan Global pada 2008 lalu juga menjadi pertanda ambruknya peradaban Barat, sekaligus membuktikan akan kerapuhan sistem kapitalisme yang diembannya. Adnan Khan dalam bukunya “The Global Credit Crunch and The Crisis of Capitalism” menjelaskan bahwa spekulasi menjadikan ekonomi global menjadi sangat rapuh dalam menghadapi guncangan finansial sejak Depresi Besar. Kehancuran pasar modal seperti yang terjadi pada tahun 1929 disangka hanya akan terjadi satu kali dalam 10.000 tahun. Pertumbuhan di Barat sangat tergantung pada dua jenis spekulasi yaitu pada pasar finansial dan pemilikan rumah. Secara ekonomis, harta mereka adalah hutang yang diberikan tanpa keadilan dan kesetaraan di mana pembayaran utang sepulluh kali lipat dari harga asli.4

Krisis yang terjadi sepanjang sejarah merupakan bukti kegagalan kapitalisme. Sebut saja seperti krisis bursa Wall Street pada tahun 1929 -yang menghasilkan depresi besar di dekade 1930-an-, skandal simpan pinjam AS tahun 1985, krisis Dot.Com tahun 2000, dan terakhir krisis keuangan global tahun 2008 silam. Upaya penyuntikan modal yang dilakukan pemerintah Barat terhadap lembaga keuangan justru telah membuka kembali berbagai macam tindakan spekulatif lainnya. Harry Shutt dalam bukunya “Runtuhnya Kapitalisme” mengatakan, “penyuntikan dana oleh pemerintah akan mengakibatkan berulangnya investasi yang berlebihan atau terjadinya spekulasi nilai-nilai aset perusahaan yang amat tinggi.”5

Krisis multi dimensi yang diciptakan Barat sejatinya akibat dari ideologi Kapitalisme liberal yang diemban. Kapitalisme sebagai sebuah ideologi tegak di atas ide dasar sekularisme. Sekularisme oleh Muhammad Qutb (1986) diartikan sebagai iqomatu al-hayati ‘ala ghayri asasin mina dini, yakni dibangunnya struktur kehidupan di atas landasan selain agama (Islam).6 Sekulerisme berarti memberikan otoritas kepada manusia untuk membuat hukum. Berlandaskan pandangan hidup inilah orang-orang Barat menyusun konstitusi atau undang-undang, menetapkan berbagai ketentuan hukum, serta menciptakan sistem pemerintahan.7

Pada kenyataannya, struktur politik yang dibangun selalu mendapat pengaruh dari kepentingan-kepentingan kapital. Oleh karena itu, sistem tersebut dikenal dengan nama sistem kapitalis. Mantan presiden AS, Jimmy Carter, pernah menyatakan bahwa, “Alasan utama penyusunan undang-undang dasar adalah memberikan hak milik kepada masyarakat umum. Sebenarnya, pemahaman kita tentang pengaturan diri sendiri dan kebebasan selalu berkaitan, atau bahkan selalu beriringan dengan kepentingan perusahaan-perusahaan besar.”8

Ideologi kapitalisme liberal yang berlandaskan akidah sekulerisme sesungguhnya adalah ideologi yang salah. Ideologi ini telah menyalahi fitrah manusia, yang menyadari keterbatasan dan kelemahannya. Ideologi ini juga gagal melihat Penciptanya adalah yang mengatur kehidupannya. Karena ideologi ini tegak di atas akidah yang rusak dan keliru, sudah pasti sistem yang terpancar darinya juga rusak, termasuk peradaban yang dibangun di atasnya pun adalah keliru.

Keniscayaan Bangkitnya Peradaban Islam

Seiring dengan semakin terpolarisasinya berbagai negara dalam jaringan sistem kapitalisme global, muncul analisis futuristik dari Samuel P. Huntington tentang gambaran hubungan internasional di masa depan. Huntington memprediksikan hegemoni AS akan berhadapan dengan revivalisme Islam dan peradaban Cina.9

Namun, Cina sebenarnya juga akan menemui masa kehancurannya. Gordon Chang dalam bukunya “The Coming Collapse of China” memberikan analisis menarik tentang kondisi Cina. Dalam bukunya tersebut, Gordon Chang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Cina yang pesat sebenarnya adalah tak lebih karena surplus perdagangan. Akan tetapi hal tersebut tidak akan bertahan lama, sebab pasti akan memunculkan konfrontasi dari negara-negara adidaya. Selain itu juga, konflik antara petani dan pemerintah semakin meruncing. Bank-bank yang dimiliki berada dalam keadaan insolvent, artinya jika rakyat Cina mengetahui realitas yang sebenarnya maka akan terjadi rush.

Harapan satu-satunya hanyalah pada Islam. Islam merupakan sebuah ideologi yang memuaskan akal da sesuai dengan fitrah manusia. Akidahnya berasal dari Allah Swt yang telah diwahyukan kepada Rasul-Nya, memberikan pemikiran menyeluruh lagi benar tentang alam semesta, manusia dan kehidupan. Hal itu tergambar ketika akidah ini menjelaskan tentang apa yang ada sebelum kehidupan dunia, yaitu Allah Swt.

Demikian juga akidah ini berkesesuaian dengan fitarh manusia yang mendorongnya untuk menghamba kepada Pencipta alam semesta.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S. ar-Rum: 30).

Akidah itu pun merupakan akidah ruhiyah, sehingga tidak ada pertentangan dalam Islam antara materi, ruh, dan aspek ruhiyah. Maka sesungguhnya peradaban Islam tegak di atas dasar akidah ini, yakni akidah Islam. Peradaban Islam merupakan kumpulan berbagai pemikiran, perasaan, dan seluruh sistem yang dibawa oleh Islam, dan telah berhasil membentuk sebuah masyarakat yang dalam sejarah dikenal dengan masyarakat Islam.

Kekalahan Peradaban Barat terbukti dari tindakan-tindakannya yang menunjukkan keputusasaan. Pendudukan, penyiksaan, penahanan, propaganda, bukanlah tindakan-tindakan dari peradaban yang kuat, melainkan tindakan dari peradaban yang sakit.

Propaganda melawan Islam, pengemban syariah, Khilafah, dan dakwah adalah karena pemerintah-pemerintah Barat mengetahui bahwa mereka sedang menghadapi kebangkitan kembali Islam di seluruh dunia. Tindakan mereka seperti usaha membuat parit yang terakhir dari peradaban kapitalis yang sedang tenggelam.

Keimanan kita pada Allah SWT adalah sangat besar dan harapan kita akan kemenangan yang dekat ini tidak tersentuh bahkan dengan sebuah ucapan. Dan Allah SWT maha berkuasa atas segala urusan-Nya, tapi kebanyakan manusia tidak tahu, dan Dia, segala puji bagiNya, berfirman:

“Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (Q.S. An-Nuur: 55).

Wallahu a’lam bi ash-shawwab. [Kusnady Ar-Razi,"Berakhirnya Peradaban Barat dan Keniscayaan Bangkitnya Peradaban Islam"]


Daftar Pustaka:
1Al-Qashash, Ahmad. 2009. Peradaban Islam Vs Peradaban Asing. PTI. Jakarta. Hlm. IX
2Ibid, hlm. 23
3www.swaramuslim.com. ’Jalan Kematian’ Peradaban Barat (Adian Husaini). 28/05/2010.
4Khan, Adnan. 2008. Kapitalisme di Ujung Tanduk. PTI. Jakarta. Hlm. 115
5Shutt, Harry. 2005. Runtuhnya Kapitalisme. PT Mizan Utama. Jakarta. Hlm. 47
6Ismail Yusanto, Muhammad, dkk. 2004. Menggagas Pendidikan Islami. Al-Azhar Press.Bogor
7Frederick, Salim. 2002. Invasi Politik dan Budaya. PTI. Jakarta. Hlm. 45
8Ibid, hlm. 46
9Samuel P. Huntington, Benturan Peradaban, hlm. 333.
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

Peradaban Emas Khilafah

Sepanjang sejarah Khilafah tidak semuanya lurus. Khalifah adalah manusia yang juga bisa menyimpang dari Islam. Namun, penyimpangan perilaku khalifah dari hukum syariah bukan karena kesalahan sistem Khilafahnya. Karena itu, kalau ada khalifah yang terbunuh, yang salah bukanlah sistem Khilafahnya, tetapi tindakan pembunuhan itulah yang menyimpang dari hukum syariah. Karena itu, menyerang sistem Khilafah berdasarkan praktiknya yang menyimpang dari syariah Islam tentu adalah kesalahan fatal.

Dalam sejarah sistem demokrasi Amerika Serikat, empat presidennya (Abraham Lincoln, James Abram Garfield, William McKinley, dan John F Kennedy) semuanya tewas terbunuh. Sejarah demokrasi AS juga mengalami perang saudara antara pihak Utara (Union) dengan Selatan (konfederasi). Lebih dari 500 ribu orang terbunuh dalam perang ini. Meskipun demikian, pengusung demokrasi tidak pernah menyalahkan sistem demokrasi karena adanya pembunuhan terhadap presidennya atau perang saudara tersebut.

Karena Khalifah bisa menyimpang, di dalam Islam mengoreksi Khalifah bukan hanya hak, tetapi juga kewajiban. Hal ini karena Khalifah bukanlah sumber kedaulatan hukum seperti dalam sistem monarki. Khalifah adalah manusia biasa yang mungkin saja keliru. Dalam hadisnya Rasulullah saw. menyebut aktivitas mengoreksi penguasa lalim sebagai afdhal al-jihad (jihad paling utama) dan siapa pun yang meninggal karena mengoreksi pemimpin zalim sebagai sayyid asy-syuhada’.

Sekali lagi, kita harus membedakan sistem Khilafah dengan pelaksanannya dalam sejarah. Adanya penyimpangan dalam pelaksanaan sistem Khilafah tidaklah menggugurkan kewajiban menegakkan Khilafah. Sama seperti adanya orang yang keliru melaksanakan shalat bukan berarti menggugurkan kewajiban shalat. Kewajiban menegakkan Khilafah dan mengangkat kholifah tetaplah wajib adalah berdasarkan al-Quran, as-Sunnah dan Ijmak Sahabat.

Namun, dari sejarah kita bisa mengambil pelajaran bahwa setiap pelanggaran atau penyimpangan dari hukum syariah, meskipun di era Khilafah, akan membawa masalah. Apalagi kalau kita tidak melaksanakannya sama sekali seperti sekarang ini. Kita menegaskan pula, Khilafah yang akan kita tegakkan adalah Khilafah yang berdasarkan manhaj Kenabian (‘ala minhaj an-Nubuwwah), bukan yang menyimpang. Kita tentu saja bertekad, tidak mengulangi penyimpangan-penyimpangan yang pernah dilakukan oleh Khalifah dalam sejarah Kekhilafahan masa lalu.

Mengangkat sebagian sejarah Khilafah yang gelap, tetapi menutup-nutupi sejarah panjang kejayaan Khilafah adalah cara pandang yang tidak obyektif dan juga ahistoris. Apalagi menyatakan sistem Khilafah membelenggu pemikiran umat tanpa disertai bukti-bukti. Bukankah justru dalam sistem Khilafah banyak bermunculan para ulama dan cendekiawan Muslim terkemuka dengan karyanya yang gemilang—seperti para Imam Madzhab terkemuka, al-Khawarizmi, Ibnu Sina, dan banyak lagi lainnya?

Imam Syafii, misalnya, menurut al-Marwazi, karyanya mencapai 113 kitab tentang tafsir, fikih, adab dan lain-lain. Yaqut al-Hamawi mengatakan jumlahnya mencapai 174 kitab yang judul-judulnya disebutkan oleh Ibnu an-Nadim dalam Al-Fahrasat. Yang paling terkenal di antara kitab-kitabnya adalah Al-Umm, yang terdiri dari 4 jilid berisi 128 masalah dan Ar-Risalah al-Jadidah.

Adapun Imam Ahmad bin Hanbal menyusun kitabnya yang terkenal, Al-Musnad. Beliau juga menyusun kitab tentang tafsir, an-nasikh wa al-mansukh, tarikh, dll. Imam Ahmad juga menyusun kitab Al-Manasik ash-Shagir dan al-Kabir, kitab Ash-Shalah, kitab As-Sunnah, kitab Al-Wara‘ wa al-Iman, kitab al-‘Ilal wa ar-Rijal, kitab Al-Asyribah, satu juz tentang Ushul as-Sittah, Fadha’il ash-Shahabah, dll.

Cendekiawan Muslim lainnya di era Khilafah bukan hanya fakih di bidang agama, tetapi juga menghasilkan kaya ilmu sains yang diakui dunia. Karya mereka diakui memberikan sumbangan pada era renaisaince Eropa. Menurut Sir Thomas Arnold, tanpa peran Arab (Muslim)—tentu di era Kekhilafahan Islam, ed.—peradaban modern Eropa bisa jadi tidak bangkit sama sekali. “It is highly probable that, but for the Arabs (Muslims), modern European civilization would never have arisen at all.” (Sir Thomas Arnold and Alfred Guillaume, The Legacy of Islam, 1997).

Di bidang kedokteran terdapat Ibnu Sina. Dalam Encylopedia Britannica ditulis tentang karya Ibnu Sina ini: The Canon of Medicine (Al-Qanun fi ath-Thibb) adalah buku yang paling terkenal dalam sejarah kedokteran baik di Timur dan Barat. Buku ini digunakan Sekolah Medis di Timur dan Barat selama 500 tahun. Menurut Toby E Huff, The Canon of Medicine adalah buku pertama yang mengurai obat-obatan berdasarkan pengujian, uji coba obat eksperimental klinis, uji coba terkontrol secara acak, tes efikasi, analisis faktor risiko, dan gagasan tentang sindrom dalam diagnosis penyakit tertentu (Huff, Toby, The Rise of Early Modern Science: Islam, China, and the West, Cambridge University Press, 2003).

Di bidang fisika terdapat Al-Kindi (abad IX M). Karya pakar fisika ini tentang fenomena optik diterjemahkan ke Bahasa Latin yang memberikan pengaruh besar Roger Bacon. Pakar fisika yang lain adalah Ibnu Haytam (965-1039 M). Di Barat dikenal dengan Alhazen. Ia adalah pakar di bidang optik dan pencahayaan. Sebanyak 200 judul buku tentang optic dan pencahayaan dinisbatkan kepada beliau. Teorinya lebih dulu 5 abad sebelum teori yang sama dikeluarkan Torricelli. George Sarton (1927) dalam bukunya, Introduction To The History of Science, Volume I: From Homer To Omar Khayyam, memberi gelar Ibnu Haytam dengan Fisikawan Terbesar Abad Pertengahan.

Selain itu, perpustakaan zaman Kehilafah amatlah mengagumkan. Perpustakaan Khalifah al-Hakim di Kairo, misalnya, menyediakan 1,6 juta volume buku. Mengenai hal ini, Bloom and Blair menyatakan, “Rata-rata tingkat kemampuan literasi (kemampuan melek huruf, membaca, dan menulis) Dunia Islam di abad pertengahan lebih tinggi daripada Byzantium dan Eropa. Karya tulis ditemukan di setiap tempat dalam peradaban ini.” (Islam: A Thousand Years of Faith and Power).

Keemasan Khilafah ditulis secara jujur oleh sejarahwan dunia seperti Will Durant dalam Story of Civilization. “Para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya dan meratakan kesejahteraan selama berabad-abad dalam luasan wilayah yang belum pernah tercatatkan lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka.”

Pertanyaannya, bagaimana mungkin karya-karya cemerlang ini lahir dari sistem Khilafah yang dituduhkan jumud atau terbelakang? Namun yang paling penting, kewajiban menegakkan Khilafah bukan didasarkan pada kemaslahatan yang bisa kita raih itu. Kewajiban menegakkan Khilafah adalah kewajiban syariah yang berdasarkan akidah Islam. Kewajiban Khilafah merupakan perkara ma’lum[un] min ad-din bi asdh-dharurah. Demikianlah sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, “Mereka (para imam mazhab) telah bersepakat mengenai kewajiban mengangkat khalifah (menegakkan Khilafah).” [Farid Wadjdi, hizbut-tahrir.or.id]
.........Lihat Selengkapnya